Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Bintang dan Jackson End


Happy Reading 🌹🌹


Satu minggu kemudian.


Terlihat Bintang tengah bermain dengan kedua anaknya di ruang tengah bersama kedua babysitter mereka.


Jack yang melihat dari atas tangga tersenyum bahagia, dia meneruskan langkahnya untuk menghampiri istrinya.


Cup


"Honey, apakah jadi ingin menjenguk Celine?" Tanya Jack lembut.


Kedua babysitter menyingkir memberikan ruang kepada majikannya, jiwa jomblowati mereka meronta-ronta melihat kemesraan Jackson bersama Bintang.


Bintang tersenyum hangat kepada suaminya, "Jadi, kapan kita akan menjenguknya?" Jawab Bintang lembut.


"Sekarang juga tidak apa-apa Honey," Ajak Jackson kepada istrinya dengan menggendong Mikayla putrinya.


"Baiklah, ayo bersiap." Ajak Bintang kepada suaminya.


Celine sudah sadar dari masa kritisnya sekitar empat hari yang lalu, karena masih masa pemulihan sehingga Bintang dan Jackson tidak langsung menjenguk Celine terlebih kembalinya Mikayla membuat Bintang lebih memperhatikan kesehatan anak keduanya.


Kini Bintang dan Jackson sudah berada di dalam mobil menuju Rumah Sakit dimana Celine di rawat.


"Bagaimana wanita jahat itu?" Tanya Bintang kepada suaminya.


Jackson menoleh terlihat Bintang sibuk dengan kedua anaknya, ya setelah kehilangan tempo lalu membuat Bintang menjadi over protective kepada anak kembar mereka.


"Biarkan Rex yang menanganinya Honey, aku rasa dendam mereka lebih banyak daripada kita." Jawab Jackson dengan membuang pandangan ke jalan.


Bintang mengangguk membenarkan ucapan suaminya, "Kenapa wanita itu tidak mendekatimu Honey?" Tanya Bintang penasaran.


"Tentu kamu sudah tahu jawabannya sayang, aku tidak akan pernah memalingkan pandanganku darimu." Jawab Jackson jujur.


Bintang tersipu malu, "Gombal. Jika wanita itu mendekatimu pasti sudah habis di tanganku." Ucap Bintang dengan sangat yakin.


Jackson hanya menggeleng lemah mendengar jawaban istrinya, bukannya Jackson tidak takut kemarahan Bintang. Tetapi dia lebih takut dengan kemarahan Ayah mertua dan juga Sky kakak iparnya.


Jika sampai Bintang di bawa kabur dari negara ini oleh mereka berdua, sudah di pastikan Jackson bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.


"Tuan... Nyonya... kita sudah sampai di Rumah Sakit." Ucap sang sopir yang berhenti di pintu masuk Rumah Sakit.


Segera Jackson di bantu dengan sang sopir membuka pintu dan menurunkan stroller bayi, Bintang tidak melepaskan penjagaan kepada bayi kembar mereka kecuali ketika tertidur.


"Biarkan aku yang mendorong stroller mereka Honey." Tawar Jackson kepada istrinya.


"Biar aku saja Honey, ayo segera masuk." Tolak Bintang halus dengan tersenyum ke arah suaminya.


Mereka melangkah memasuki Rumah Sakit bersama-sama, dan mendorong pintu putih yang berada di deretan ruangan VVIP.


"Kalian datang?" Ucap Celine dengan wajah bahagia.


Bintang mengangguk dan berjalan ke arah Celine dengan menyerahkan stroller anaknya kepada Jackson.


Bintang berhambur memeluk Celine pelan, "Maaf baru bisa datang menjengukmu Celine." Ucap Bintang yang sudah terisak lirih.


"Hey, kenapa menangis. Aku tidak apa-apa." Ucap Celine kepada istri sahabatnya tersebut.


Tangis Bintang pecah, karena mengingat kejadian tempo lalu. Teringat ketika Celine tertembak.


"Honey, jangan menangis." Ucap Jackson menenangkan istrinya.


"Iya Bintang, aku tidak apa-apa. Anakku juga kuat." Jawab Celine dengan mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.


"Anak? Hamil?" Otak Bintang memproses ucapan Celine.


"Kapan kamu hamil Celine?" Bintang mulai duduk mengintrograsi Celine.


Jackson menghela nafasnya panjang pasti Rex akan di amuk oleh Bintang setelah ini, begitu pikir Jackson.


"emm.. mungkin ketika Jackson dan Rex memulai rencana mereka." Jawab Celine tidak yakin.


"Ketika kamu bertengkar dengan wanita di restoran itu jangan bilang kamu... " Bintang menyincingkan matanya.


Celine tersenyum kaku memperlihatkan deretan gigi putihnya kepada Bintang, sebagai pertanda jawaban membenarkan ucapan Bintang.


"Dimana Rex, akan aku patahkan lehernya." Ucap Bintang marah.


"Eh, jangan. Aku tidak ingin menjadi janda ya, biarkan aku yang menghajarnya." Larang Celine kepada Bintang.


"Seharusnya aku tidak memisahkanmu dengan wanita ular itu Celine." Ucap Bintang yang masih kesal dibuatnya.


Jackson yang mendengar ucapan istrinya hanya menghela nafasnya berat, "Kenapa Momy kalian menjadi galak, Mikayla jangan kamu tiru sifat Momymu itu nanti pria akan lari darimu." Jackson mengajak kedua anaknya mengobrol.


"Bagaimana lukamu Celine?" Kini Jackson yang bertanya.


"Hah, masih terasa sakit bahkan aku tidak kuat duduk lama. Hanya bisa berbaring dengan memiringkan badan." Keluh Celine kepada sahabatnya.


"Apakah perlu aku panggilkan dokter untuk memeriksamu lebih lanjut lagi." Tawar Jackson yang melihat ke arah Celine dan Bintang.


"Oh, tidak perlu Jack. Aku bahkan sudah bosan melihat wajah mereka. Luka luar sudah mulai kering mungkin masih proses untuk luka dalam yang membuat jaringan baru." Jelas Celine kepada mereka.


Jackson hanya menganggukkan kepalanya saja, sedangkan Bintang masih berfikir dia tidak paham apa yang di ucapkan Celine, tetapi yasudah terpenting dirinya selamat.


"Di mana Rex?" Tanya Bintang yang tidak melihat batang hidung asisten suaminya.


"Satu jam lalu dia pamit keluar, mungkin pulang ke apartemen." Jawab Celine jujur.


Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembab, dengan penerangan lampu kuning. Terlihat wanita tengah meringkuk di ujung ruangan.


Suara sepatu pantofel memecah keheningan, langkah tersebut terlihat tenang dan terus berjalan mendekat ke arah sel yang ada di ruangan itu.


Orang itu menyunggingkan senyum miringnya, terlihat pancaran matanya sangat tajam seakan ingin menelan hidup-hidup wanita yang meringkuk di sana.


"Bawa dia kemari." Ucapnya tegas.


Segera seorang pengawal berjalan mendekati wanita tersebut, dan sedikit menyeretnya hingga bersimpuh didepan bosnya.


Tubuh wanita itu bergetar, dia tidak berani mendongakkan kepalanya.


"Ma... maafkan aku Rex, ampuni aku." Ucapnya terbata.


"Maaf kau bilang, hah! Kau sudah mencelakai istri dan anakku ja*lang!!! Lihat aku, kau ingin kematianmu yang seperti apa? Membusuk di sini secara perlahan atau terus aku kejar di luar sana sehingga untuk hiduppun enggan." Rex sudah berjongkok dengan mengapit dagu Mawar dengan keras.


Terlihat wajah Rex yang sudah terbalut amarah, sedangkan Mawar semakin terisak dan terus memohon kepada Rex.


"Jika kau pria, aku sudah menghajarmu sejak tadi. Aku akan berbaik hati kepadamu, cukup aku akan membuat hidupmu menderita selamanya." Ucap Rex dengan seringainya, dia menghempaskan Mawar dengan kasar dan mengambil sapu tangan dari sakunya seakan tangannya jijik menyentuh Mawar.


"Suntikkan obat itu, dan buang dia ke hutan biarkan dia mati perlahan disana." Perintah Rex kepada anak buahnya.


Anak buah Rex mengangguk dan berjalan mengambil sebuah obat dan alat suntik.


"Tidak!!! Jangan Rex!! Ampuni aku!! Jangan!!" Mawar menangis histeris.


Anak buah Rex segera memegang Mawar agar melepaskan tangannya dari pergelangan kaki Rex.


Mawar terus meronta di dalam cekalan anak buah Jackson dan Rex, hingga akhirnya anak buah Rex berhasil. menyuntikkan sebuah cairan di dalam tubuh Mawar.


"Selamat menikmati sisa akhir hidupmu." Ucap Rex yang kemudian berlalu dari hadapan Mawar tanpa memperdulikat jeritan dan teriakan wanita itu.


Rex melakukan mobilnya ke Rumah sakit, setelah dia keluar dari markas Rex menuju apartemen untuk mengambil beberapa perlengkapan pribadinya dan Celine karena Celine akan lebih lama berada di Rumah Sakit.


Setibanya di Rumah Sakit, segera Rex mengambil tas besar di bawa masuk ke Rumah Sakit.


Suara pintu terdengar ada yang membukanya, atensi ketiga orang yang berada di ruangan tersebut menjadi teralihkan.


Tawa Bintang pecah melihat Rex seperti akan memindahkan seluruh harta bendanya ke Rumah Sakit ini.


"Apa yang kamu bawa Honey?" Tanya Celine dengan wajah bingungnya.


"Aku membawa perlengkapan kita saja," Jawab Rex tidak memperdulikan tawa Bintang.


"Apa kau akan pindah rumah Rex?" Tanya Jackson heran.


"Tidak, aku rasa Celine akan lebih lama di Rumah Sakit ini. Mengingat kandungannya lemah dan harus bedres hingga waktu yang belum ditentukan." Jelas Rex kepada Jackson.


Segera Rex masuk dan meletakkan tas besar itu di samping pintu, Rex berjalan ke arah brangkat Celine dan mengecup bibirnya.


"Oh ya ampun! Apa kamu tidak menganggap kami disini, kau... kau menodai mata kedua anakku." Sungut Bintang kepada Rex.


Rex menaikkan kedua pundaknya saja dan duduk di samping istrinya. Terlihat Rex mengambilkan minum dan menyeka bibir istrinya.


"Ck, lihatlah asisten itu. Sungguh sangat menyebalkan bukan." Adu Bintang kepada suaminya.


Jackson hanya tersenyum, dia menarik Bintang dan juga menciumnya.


"Tidak perlu iri Nyonya, ada aku di sampingmu." Ucap Jackson lembut.


Bintang dan Celine hanya memutar bolanya malas yang kemudian tertawa bersama, kedua pria mereka memasuki fase bucin akut.


...**...


...Bintang dan Jackson sudah selesai, saatnya kita menuju Putri dan Sky lagi meskipun hanya akan muncul sedikit ya, autor akan masuk ke cerita cinta segitiga Rose, David, dan Gabriel (asisten kece Sky)....