
Happy Reading 🌹🌹
Iring-iringan mobil yang dikendarai Doni, Rudi, dan Gabriel. Tengah melaju cukup cepat menuju kediaman Wiratama.
"Tuan, apakah yakin kita mengikuti para orangtua didepan?" Tanya Gabriel yang masih fokus menyetir.
"Ikuti saja mereka, aku juga ingin tahu apa yang terjadi. Ini menyangkut istriku." Jawab Sky dengan wajah yang menggambarkan kekhawatiran.
Gabriel melirik sekilas melalui kaca mobil, dia tersenyum tipis. Akhirnya bos benar-benar sudah jatuh cinta dengan Putri, tinggal gadis itu yang membalas perasaannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih limabelas menit, akhirnya rombingan tersebut telah sampai di kediaman Wiratama.
Dengan langkah lebar, Doni berjalan beriringan dengan Rudi dan di ikuti yang lainnya.
"Bulan, ajaklah Lila dan Bu Siti untuk istirahat dulu. Kami para pria ingin membahas sesuatu yang penting." Ucap Rudi pada istri Doni.
Bulan mengangguk, dia mengajak Lila dan Bu Siti menuju kamar tamu dirumahnya.
"Suruh seluruh maidmu kerumah belakang, rumah ini harus bebas dari orang lain selain keluarga kita." Lanjut Rudi yang memberi intruksi kepada Doni.
Doni segera melangkahkan kakinya menuju dapur untuk memberitahukan kepada salah satu maid dirumah agar mengajak rekan-rekannya menuju kerumah belakang.
Hampir tujuh menit untuk membuat seluruh maid dan tukang kebun pergi dari kediaman utama Wiratama.
Kini mereka berenam sudah duduk di sofa, ketika dalam perjalanan pulang Doni dan Rudi segera menelfun asisten mereka untuk menyusulnya.
"Ada apa ini Paman?" Tanya Sky yang tertuju untuk Doni.
"Saudari tiri mertuamu akan kembali kenegara ini." Jawab Rudi tenang.
"Makhsud Paman?" Jawab Sky yang bingung.
Saudari tiri siapa, apakah yang dimakhsud Bintang. Jelas bukan.
Apakah selama ini Paman Doni memiliki saudara tiri, berarti Kakek Gunawan memiliki dua istri.
"Seperti yang kamu fikirkan, Kakek Gunawan memiliki dua istri. Istri sah dan istri siri." Jawab Rudi yang bagaikan cenayang.
Seluruh ruangan tersebut melebarkan matanya, karena tidak menyangka hal tersebut. Tidak untuk Doni, Rudi, dan Lin asisten Rudi.
"Kenapa dia akan kembali pulang Rud, apa dia tahu jika pewaris yang asli sudah ditemukan?" Tanya Doni yang menatap Rudi.
Sedangkan Sky dan Gabriel akan menjadi pendengar yang baik, agar tahu masalah dan tujuan dari rapat meja kotak itu.
"Orang kepercayaanku memberi kabar, jika dua hari lalu dia dipecat begitu juga yang lain. Bahkan seluruh harta bendanya habis dijual, dia menjadi melarat dinegeri orang." Jawab Rudi yang menjelaskan.
"Kenapa bisa? Apa harta yang diberikan oleh Ayahku kurang, sangat jelas sampai detik ini dia dapat membayar orang-orang bahkan menyewa seorang mafia untuk membunuh Putri dan Bintang!" Seru Doni yang sangat geram dengan perilaku saudari turinya.
"Tentu hartanya terkuras habis untuk membayar orang-orang tersebut." Jawab Rudi enteng.
Ponsel ketiga asisten berdering, dengan cepat langsung menyingkir dari ruangan tersebut.
Terlihat mimik muka ketiga asisten tersebut sangat serius, "hubungi bagian IT untuk menghapus video itu." Perintah ketiga asisten secara bersamaan.
Segera mereka kembali kedalam ruangan, "Maaf Tuan, ada seseorang yang menyebarkan video Nona Bintang." Ucap Zidan dengan menundukkan kepalanya.
"Apa!" Seru Doni yang segera berdiri dari duduknya.
Kedua tangan terkepal hingga terlihat kuku-kukunya yang menutih, rahangnya mengeras, dan kilatan kemarahan bercampur kebencian tergambar dikedua matanya.
"Pasti pria br/sek itu yang menyebarkannya! Segera suruh bagian IT untuk melacak IP dan menghapus video itu, sebelum Bulan dan Bintang tahu." Ujar Doni kepada Zidan.
"Sudah Tuan, kita tinggal menunggu hasilnya." Jawab Zidan dengan sopan.
"Lin, segera bantu Zidan untuk menangkap orang tersebut." Ucap Rudi yang memberikan perintah kepada Lin.
"Sudah saya laksanakan Tuan." Jawab Lin.
"Bagus, memang kamu dapat diandalkan." Jawab Rudi bangga.
Sky melirik Gabriel melalui ekor matanya, seakan bertanya apakah kamu sepintar Lin.
"Saya juga sudah menyuruh orang-orang IT yang kita punya untuk melacak IP dan keberadaan orang tersebut Tuan." Jawab Gabriel dengan cepat.
Sky hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata asistennya juga dapat diandalkan seperti Lin. Dia merasa sangat senang.
...**...
Dinegeri seberang, terlihat seorang wanita tengah melakukan transaksi jual beli barang branded miliknya.
"Akhinya habis, aku harus segera memesan tiket untuk kembali ke negaraku." Ujarnya.
Segera tangannya berselancar di HPnya, dia memesan tiken secara online.
"Aku harus menghubungi kepala pelayan itu, bagaimana kacaunya saat ini disana karena video anu tersebut." Ucapnya dengan diiringi tawa.
Wajahnya terpancar kebahagiaan karena rencananya pasti berjalan secara lancar.
Sudah puluhan panggilan dia lakukan di nomor kepala pelayan mansion keluarga Wiratama. Biasanya kepala pelayan itu selalu cepat dalam. memberikan informasi, tetapi sudah sehari ini dia tidak mendapatkan informasi apapun.
"Bre/sk kemana orang itu! Jangan-jangan dia berkhianat dibelakangku, dan membawa kabur uang bayarannya yang sudah aku transferkan terlebih dahulu!" Ucapnya geram terhadap kepala pelayan mansion tersebut.
Ketika dirinya dalam perjalanan untuk mengambil flashdish yang dipegang oleh mafia yang dia bayar, dia melakukan transfer kepada kepala pelayan mansion.
Karena kinerja yang bagus dan sudah tahunan mereka bekerjasama, sehingga membuat dirinya begitu mempercayai kepala pelayan tersebut.
"Argghhh!!!!!" Dibantingnya Hp itu di dinding.
"Si/l aku sudah tidak memiliki orang kepercayaan yang berada didekat keluarga Wiratama, jika aku menyewa seseorang lagi uangku akan habis untuk membayar mereka." Monolognya untuk dirinya sendiri.
Segera wanita tersebut mengambil Hp yang sudah dia hempaskan ke tembok, hanya retak sedikit masih dapat digunakan.
Dia harus segera berangkat kebandara, karena ketika melakukan transaksi. Wanita tersebut juga membawa kopernya agar tidak kembali lagi ke kontrakannya.
...**...
"Tuan, kami sudah mendapatkan alamat IP-nya. " Ucap Lin pada Rudi.
"Siapa?" Tanya Doni dengan perasaan yang tidak sabar.
"Tenanglah Doni, kamu harus memikirkan langkah sslanjutnya dengan kepala dingin." Jawab Rudi kepada temannya.
"Bagaimana aku bisa tenang, aku tidak menyangka pria itu sudah menghamili Bintang. Dan apa ini, dia menyebarkan video tidak senonoh dimedia sosial." Geram Doni.
"Jangan terpancing dengan pria itu, kita harus fokus ke saudarimu. Karena yang berbahaya saudarimu bukan pria tersebut." Jawab Rudi dengan tenang.
"Benar apa yang diucapkan Om itu Paman, kita harus lebih cerdik untuk mengelabuhi saudari tiri Paman. Karena yang dia incar adalah harta warisan dari Kakek Gunawan, bagaimana jika kita membuat pengumuman jika Putri sudah ditemukan." Usul Sky kepada kedua pria tersebut.
"Tapi, nanti akan membahayakannya bukan. Cukup satu anakku yang hancur tidak yang lainnya." Tegas Doni kepada Sky.
Sky juga tidak ingin membahayakan istrinya, seujung rambutpun tidak boleh ada yang menyentuhnya.
"Kita buat perusahaanmu bangkrut." Sela Rudi.
"APA!! Kamu jangan gila Rudi." Seru Doni yang semakin dibuat jantungan dengan usulnya.
"Kita buat saja seolah-olah perusahaanmu goyah, dia pasti akan muncul." Jelas Rudi.
Tidak mungkin dia membuat kabar burung tentang perusahaannya yang akan bangkrut.
"Lebih baik kita lakukan sesuai saran dari Om Rudi saja Paman. Sky akan membantu juga." Jawab Sky yang meyakinkan Doni.
...**...
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE
LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE LOVE