
Happy Reading 🌹🌹
Hari telah berlalu.
Pagi ini, sebuah platform media sosial di gemparkan sebuah berita kemunculan anak lain dari Kakek Gunawan Wiratama.
Putri yang tengah minum, menyemburkannya kearah Sky.
"Ya!!" Seru Sky yang langsung berdiri dari duduknya.
"Maaf... maaf, aku hanya kaget." Jawab Putri dengan menyodorkan berita yang tengah heboh di internet.
Sky segera mengambil Hp istrinya, dia membaca berita yang berisi anak lain dari pernikahan rahasia yang dilakukan Kakek Gunawan.
"Berarti Papaku memiliki saudara tiri, dan aku memiliki Bibi tiri begitu?" Tanya Putri bingung, karena selama bertemu dengan kedua orangtua kandungnya.
Orangtuanya tidak pernah menyinggung kerabat kandungnya.
"Ck, akhirnya orang ini sudah mulai muncul." Ucap Sky dengan seringainya.
Putri memandang wajah Sky dengan penuh tanya, apa yang tidak dia ketahui.
"Siapa orang itu? Lalu kenapa dia baru muncul di publik saat perusahaan Papa sedang kacau?" Tanya Putri dengan tidak sabaran.
"Duduklah, hari ini kita dirumah saja." Ucap Sky dengan melenggang pergi dari hadapan Putri.
"Ya!!! Kamu mau kemana!" Teriak Putri yang melihat Sky pergi meninggalkannya.
Dasar menyebalkan, menyuruhku tidak kuliah tetapi dia malah pergi. Gerutunya di dalam hati.
Sedangkan Sky menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya, terlihat wajah yang serius tengah memikirkan sesuatu.
Aku harus segera menyingkirkan orang itu, dan aku akan fokus dengan rumah tanggaku.
Kini Sky dan Putri sudah duduk di sofa depan TV, Sky melirik ke arah istrinya yang masih terlihat kesal dengannya.
"Apa kamu ingin tahu siapa wanita itu?" Tanya Sky yang saat ini sudah bersila diatas sofa menghadap Putri.
"Ck, bodo!" Cebik Putri kesal.
"Hey! Apa kau masih marah karena aku tinggal sebentar untuk ganti baju." Jawab Sky dengan menoel pipi istrinya.
Putri menepis jari Sky, dan menatap sinis kearahnya dengan wajah yang merengut.
Sky tergelak dengan wajah kesal istrinya, "Kamu semakin imut jika seperti ini, apalagi bibirmu." Ucap Sky dengan nada menggoda.
"Sudahlah! Aku malas denganmu." Jawab Putri yang segera berdiri.
Belum sempat Putri berjalan tangannya sudah dicekal oleh Sky, dan sedikit ditarik.
Hingga membuat keseimbangan Putri hilang, dia jatuh tepat di pelukan suaminya.
Untuk sesaat seakan waktu bagi mereka berhenti, hanya detak jantung yang terdengar saling bersahutan untuk membuktikan siapa yang baling keras debarannya.
Putri tersadar, dan mencoba menjauh dari pelukan suaminya.
Tetapi tidak untuk Sky, dia semakin menarik Putri hingga wajah mereka saat ini hanya berjarak beberapa centi saja.
"Apa kamu menggodaku, hem." Ucap Sky tepat di depan wajah Putri.
"Lepaskan, ak... aku pegal. Aku ingin duduk." Jawab Putri tergagap dan terdengar ambigu ditelinga Sky.
"Baiklah, kau boleh duduk di pangkuanku saat ini." Jawab Sky dengan cepat dia merubah posisi duduknya hingga membuat Putri duduk dipangkuannya.
"Heh, aku duduk di sofa bukan di pangkuanmu." Ucap Putri kesal.
"Baiklah, karena kamu memaksa aku akan memelukmu." Sky tidak menggubris ucapan istrinya.
Putri memutar bola matanya jengah, percuma dia berdebat dengan pria tersebut.
"Baiklah, terserah dirimu. Sekarang ceritakan siapa wanita tersebut." Ucap Putri yang menatap lekat wajah Sky.
"Baiklah, tapi peluk aku. Aku akan meceritaknnya kepadamu." Jawab Sky dengan menaik turunkan alisnya kearah Putri.
"Ck, kalau tidak niat menceritakannya bilang dari tadi." Jawab Putri dengan nada sinis.
"Ayolah, tidak ada salahnya memeluk suami sendiri. Jangan-jangan kamu takut jatuh cinta kepadaku?" Tanya Sky dengan nada menghoda.
"Narsis." Jawab Putri yang membuang mukanya ke arah lain dan memeluk tubuh suaminya.
Aku berharap sudah ada cinta dihatimu untukku sayang. Harapan Sky dari dalam hatinya.
"Cepatlah ceritakan." Putri yang terlihat tidak sabaran.
"Baiklah... peluk aku yang erat atau kamu akan jatuh, jatuh ke hatiku." Jawab Sky dengan tertawa.
...**...
Di kediaman Wiratama.
"Pah, sadara tirimu sudah muncul." Ucap Bulan pelan.
Saat ini mereka tengah berada di dalam kamar pribadi, karena keadaan Bintang yang masih lemah dan mengharuskan dia bedres.
"Iya Mah, akhirnya berhasil." Jawab Doni senang.
Rencana yang sudah mereka rencanakan sebentar lagi akan tercapai, bahkan satu per satu kejahatan Intan sudah mereka dapatkan.
"Pah, jangan sampai Bintang tahu kejadian ini. Ingat dia masih sakit." Ujar Bulan.
"Iya Mah, kita hubungi Sky agar dapat menjaga Putri lebih ketat lagi." Doni segera mencari nomor telfun menantunya tersebut.
"Iya, Pah. Sky sudah menjelaskan semuanya kepada Putri." Jawab Sky di sebrang telfun.
"Baiklah, hati-hati jangan sampai lengah." Ucap Doni sebelum mematikan sambungan telfunnya.
...**...
Kini seorang wanita dengan pakaian yang glamor dan riasan yang sangat mencolok, tengah memasuki perusahaan Wiratama.
Karena penampilannya tersebut, membuat para karyawan Wiratama memperhatikan setiap langkahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis dengan sopan.
"Tunjukkan aku ruangan CEO." Ucap Intan dengan nada angkuh.
"Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya Nyonya?" Tanya resepsionis lagi.
Intan terlihat menggebrak meja resepsionis, dan membuka kacamata hitamnya.
"Apa kau tidak tahu aku, hah! Aku adalah anak kedua dari keluarga Wiratama!" Seru Intan dengan nada marah.
Resepsionis hanya berkedip, "Saya hubungi dulu dengan sekertaris Zidan." Ucapnya.
"Ya!! Apa kamu tidak mendengarkanku! " Seru Intan yang semakin terlihat marah karena tidak terima.
"Maaf, Nyonya saya hanya menjalankan prosedur perusahaan." Jawab resepsionis.
"Kamu akan menjadi orang pertama uang aku pecat!!" Seru Intan dengan menjambak rambut resepsionis itu.
Terjadi saling tarik menarik antara Intan dan resepsionis Wiratama.
"Berhenti!! " Suara bariton menghentikan pertikaian mereka.
Keduanya berhenti dengan tangan saling berada di rambut lawan duel. Kepala mereka menoleh ke arah suara tersebut.
Terlihat asisten Zidan tengah menatap tajam kearah mereka mereka.
Zidan yang akan keluar untuk datang di kediaman Wiratama berhenti karena terlihat kegaduhan yang menjadi tontonan karyawan.
"BUBAR!!" Seru Zidan kepada karyawan yang lain.
Segera para karyawan membubarkan diri, karena asisten tersebut sudah mengeluarkan tanduknya.
Intan dan resepsionis segera berdiri dengan benar, Intan dengan menggerutu tidak jelas memoerbaiki tampilannya.
Sedangkan resepsionis menundukkan kepala, karena takut jika asisten Zidan memecatnya.
"Kamu segera pergi, perbaiki tampilanmu dan kembali lagi di tempat." Ucap Zidan memerintah resepsionis tersebut.
Dengan segera resepsionis berlari untuk ke kamar mandi, dia merasa bersyukur karena tidak di pecat dari pekerjaannya.
"Ya!! Kenapa kamu melepaskannya, harusnya pecat saja dia." Seru Intan kepada Zidan dengan nada tinggi.
"Anda tidak memiliki hak untuk mengaturku maupun perusahaan Wiratama. Ada apa datang kesini." Ucap Zidan yang terkesan dingin.
"Aku ingin keruangan CEO. Ingat, aku adalah anak dari Gunawan Wiratama." Ucap Intan mengingatkan Zidan dengan sombong.
"Tuan Doni tidak hadir di perusahaan, silahkan pergi temui beliau besok hari." Usir Zidan dengan wajah datar.
"Untuk apa aku menemui Doni, aku juga memiliki hak di perusahaan ini. Aku adalah anak kedua dari Wiratama!" Seru Intan yang sedari tadi terus di sepelekan oleh mereka.
Zidan hanya memandang wajah yang nerwarna merah padam itu dengan tatapan datar, "Satpam!!!" Seru Zidan.
Dengan tergopoh-gopoh dua orang satpam menghampiri Zidan.
"Seret wanita ini keluar, dan jangan pernah ijinkan dia masuk ke perusahaan ini." Ucap Zidan yang kemudian melenggang pergi dari hadapan Intan.
Segera kedua satpam itu menyeret Intan dengan susah payah, karena Intan terus meronta.
"Ya! lepaskan tangan kotormu dariku. Aku adalah anak Wiratama! Kalian akan aku pecat karena tidak memperlakukanku dengan baik!" Seru Intan yang terus mencaci maki kedua satpam tersebut dan berusaha melepaskan cekalan mereka.
"Nyonya, jangan mempersulit kami. Silahkan pergi dari sini." Ucap salah satu satpam yang sudah berhasil menarik Intan keluar gedung.
Dengan sedikit kasar mereka melepaskan Intan, tubuh Intan sedikit terhuyung dan hampir jatuh.
"Sudah Nyonya, jangan pernah membuat keributan disini lagi. Pergi saja." Usir satpam.
Intan menghentakkan sebelah kakinya dengan kasar, dia segera melenggang pergi untuk merencanakan sesuatu.
...**...
...HALO READERS....
...MAAF JIKA UP SERING TERLAMBAT....
...KARENA KARYA AUTOR SEDANG DIPANTAU EDITOR 😂😂...
...DI REVIEW SECARA MANUAL...
...HARAP BERSABAR, AUTOR TETAP UP DUA BAB SETIAP HARINYA....
...JANGAN LUPA LIKE DAN HADIAHNYA...
...**...
PROMOSI, JANGAN PADA PROTES YA.
BENNER AJA UDAH.