
Happy Reading 🌹🌹
Kini Rose dan Dave duduk santai di depan ruang televisi, terlihat Rose sesekali tertawa karena adegan lucu yang di tayangkan dalam acara tersebut.
Sedangkan Dave? Dave hanya duduk diam di sampingnya dengan bersedekap dada, memandang wajah cantik gadis yang mengejar-ngejarnya.
Merasa dirinya di perhatikan membuat Rose menoleh ke Dave, "Ada apa kak?" Tanya Rose dengan berkedip cepat.
Rose merasa gugup karena di perhatikan oleh Dave, "oh my jantung jangan menjadi murahan di depan Kak Dave!" Jerit Rose dalam hati.
Jemari Dave terulus mengelus pipi Rose, semakin membuat tubuh Rose menegang karena gugup. Jari jempol Dave mengelus bibir yang cukup berisi itu.
"Apa pernah ada yang menciummu?" Tanya Dave dengan menatap kedua mata Rose intens.
Rose menggeleng dengan cepat.
Membuat sudut bibir Dave terangkat sedikit, Dave menarik Rose sehingga membuat gadis itu terjerembab di atas tubuh Dave.
Pandangan keduanya terkunci, Dave. mendorong Rose pelan sehingga membuat gadis itu di bawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Ka... kakak ma.. u apa." Tanya Rose tergagap.
Jantung Rose saat ini kondisinya seperti ingin meledak, melihat senyumnya saja membuat Rose meleleh dan saat ini dia dan Dave hanya berjarang satu jengkal tangan saja.
"Hemm.. apa yang di lakukan wanita dewasa dengan seorang pria di dalam apartemen?" Tanya Dave yang tangannya masih menusuri wajah Rose.
"Ma.. makan?" Jawab Rose.
"Hemm.. apa lagi?" Tanya Dave kembali.
"Nonton televisi?" Jawab Rose lagi.
Meskipun Rose pernah beberapa kali berpacaran, tetapi pengalaman pertama datang ke apartemen maupun rumah baru ditempat Dave.
Rose memang tahu tentang hubungan badan, tetapi dirinya juga belum pernah melakukannya.
"Aku akan memberitahumu." Rose berbisik di telinga Rose.
Membuat tubuh Rose meremang karena Dave mengecup daun telinga Rose.
Dave mendekatkan wajahnya dengan Rose hingga tidak berjarak lagi.
Dave mengecup bibir yang menggoda dirinya sejak di restoran itu, membuat pria tersebut selalu mengingat kecupan singkat itu.
Rose hanya meremat pinggang Dave, baru kali ini dia berciuman sehingga membuat dirinya bingung harus merespos seperti apa.
Dave benar-benar lihat, dia mengigit bibir Rose sehingga terbuka. Lidah Dave terlihat mengeksplor seluruh isi di bibir wanita itu.
"Balas aku." Ucap Dave dengan suara paraunya.
Rose berusaha membalas Dave tetapi permainan yang masih sangat kaku, tidak masalah bagi pria itu. Dave senang ternyata dirinya yang menjadi pertama mencium bibir itu.
Tangan Dave tidak tinggal diam, dia mengelus pinggang Rose yang masih mengenakan pakaian itu, ciuman Dave turun menyujuri leher yang putih dan jenjang itu.
Rose menggigit bibirnya, dia merasa ingin mengeluarkan suara laknat tetapi dia tahan.
Dave terus bermain di sekitar leher dan telinga. Rose, Dave mengangkat pakaian Rose sehingga memperlihatkan perut ratanya.
Tangan Dave meleus perut itu, pria itu kembali menyesap bibir Rose dengan lebih dalam.
Perasaan aneh menjalar di diri mereka masing-masing, Rose yang berfikir jika Dave sudah mulai mencintainya sedangkan Dave merasa dia tidak ingin melepaskan gadis yang berada di bawah kungkungannya.
"Stop kak!" Ucap Rose memegang tangan Dave yang sudah berada di buah dadanya.
"Ada apa?" Tanya Dave bodoh.
"Apa kakak sudah mencintaiku?" Ucap Rose menatap kedua netra Dave dengan intens.
"Apa perlu aku mengucapkan kata cinta, bukankah aku sudah bilang. Aku menyukai wanita yang dewasa dan tampilan dewasa." Jawab Dave mengingatkan persyaratan kepada Rose ketika dia menerima perasaan Rose.
"Kau menolakku." Tanya Dave dingin.
Rose yang di tatap tajam oleh Dave hanya menundukkan kepalanya, kini posisi keduanya sudah duduk dan Dave mencengkram tangan Rose seakan menyalurkan rasa amarahnya.
Rose hanya diam dengan menahan rasa sakit di tangannya, "Apa kakak sudah mencintaiku? Jika belum jangan menyentuhku kak, harga diriku lebih tinggi tidak ternilai kak." Jawab Rose pelan.
Dave menyunggingkan senyum sinis, "Kamu membicarakan harga diri? Apa kamu tahu jika harga dirimu hilang sejak kau mengemis cinta terhadapku." Ucap Dave tajam.
Sebelah tangan Rose meremat pinggiran sofa, sungguh kejam sekali pria di hadapannya.
"Ya, aku rela tidak memiliki muka di depan Kakak. Karena aku benar-benar mencintai kakak, aku memperjuangkan kakak karena aku tidak ingin menyesal di kemudian hari. Setidaknya aku pernah berjuang kak." Jawab Rose panjang lebar dengan menatap Dave dengan pandangan teduhnya.
"Jika kamu ingin berjuang, berjuanglah sampai akhir Rose. Aku akan menunggumu besok malam di hotel XX." Ucap Dave yang kemudian berlalu dari hadapan Rose menuju kamarnya.
Rose yang di tinggalkan begitu saja terlihat matanya berkabut, terlihat gadis itu menyeka air mata yang ingin keluar.
Sedangkan Dave mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air dingin, dirinya merasa marah kepada Rose.
Dave keluar dengan kaos santainya dengan tangan memegang handuk kecil mengeringkan rambutnya.
"Dimana gadis itu?" Ucap Dave pelan.
Dave melangkahkan kakinya ke seluruh ruangan apartemen miliknya, tidak ada Rose.
Rose memutuskan kembali ke kampus dengan menaiki taxi, karena mobil Rose dia tinggalkan di kampus tadi siang.
Rose meletakkan kepalanya di atas stir itu dengan bertumpu kedua tangannya, "Apakah cinta sesakit ini." Gumamnya lirih.
Di kantor Ayah Rose, terlihat sekertarisnya memberikan foto-foto Rose dan Dave.
Kedua netra pria paruh baya itu melebar ketika melihat anaknya di bawa di sebuah apartemen, Ayah Rose meraup wajahnya dengan kasar.
"Apa yang di lakukan pria bre*sek itu, kenapa dia membawa anakku ke apartemen." Ucap Ayah Rose frustasi.
Sang asisten hanya menundukkan kepalanya saja, dia juga tidak bisa memberikan informasi apa yang terjadi di dalam apartemen.
"Berapa lama mereka di dalam?" Tanya sang Ayah.
"Cukup lama Tuan, sekitar tiga jam. Tetapi Nona keluar dengan berlari menuju sebuah taxi." Jawab sang asisten.
Ya, orang suruhan sang asisten hanya menunggu di basement apartemen juga di luar gedung apartemen karena tidak mungkin mereka menunggu di depan unit pasti akan banyak yang curiga.
"Apa lagi yang di lakukan pria itu, apa tidak cukup membuat putriku menunggunya tadi malam." Geram sang Ayah.
"Ikuti terus, sepertinya kali ini pria itu melakukan sesuatu. Tapi aku tidak tahu itu apa," Kata sang Ayah.
"Baik Tuan," Jawab sang asisten.
"Ayo kita pulang, aku tidak ingin mendengar anak gadis itu mengomeliku." Kelakar sang Ayah yang mengingat Rose akan melakukan tausiyah jika melihat dirinya kerja lembur.
"Mari Tuan, berkas-berkas yang lain akan saya kerjakan di rumah." Ucap sang asisten.
"Sudah tinggalkan saja, jika di rumah bersenang-senanglah dengan anak dan istrimu." Larang Ayah Rose.
Sang asisten hanya mengangguk, dia sebenarnya sering membawa pulang pekerjaannya agar bosnya tidak lembur. Seperti ini jika atasan mengetahuinya, Ayah Rose akan melarang.
Sang asisten tahu, kehidupan bos dan anaknya menjadi berbeda semenjak kematian istri Sang bos.
...**...
Halo,
Author menyapa.
Apa ingin di buatkan cerita dari anak-anak mereka nanti?