Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Kabar Burung


...Hallo teman-teman, sebentar lagi umat muslim akan memasuki Bulan Suci Ramadha....


...Autor ingin mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, jika selama autor berkarya ada salah kata yang menyakitkan hati kalian....


...Semoga di Bulan Suci Ramadhan tahun ini kita mendapatkan safa'at dari Allah SWT. Amin....


Happy Reading 🌹🌹


Terlihat mobil yang cukup tua, terparkir tidak jauh dari gedung Wiratama.


Intan menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, dia tersenyum membayangkan dirinya menduduki posisi tertinggi perusahaan tersebut.


Tanpa wanita itu sadari, dari kejauhan dia juga tengah di pantau oleh mata-mata suruhan Rudi.


Segera dirinya melaporkan jika wanita tersebut sudah bergerak, Rudi yang mendapatkan laporannya menyunggingkan senyum sinis.


"Sebentar lagi, aku akan terbebas dari beban ini." Gumamnya dari dalam hati.


Kakek Gunawan adalah sehabat dari mendiang Ayahnya. Mereka adalah teman sekolah bahkan jika keturunan mereka berbeda lawan jenis mungkin akan di jodohkan.


Beruntung mereka sama-sama memiliki anak laki-laki dari pernikahan mereka.


Suatu hari, Kakek Gunawan datang kediaman Danuarta dengan dahi yang berdarah.


Rudi ingat betul bagaimana wajah pucat diwajah yang sudah tidak muda itu lagi.


"Paman kenapa?" Tanya Rudi.


"Tidak apa-apa, dimana Ayahmu." Jawab Gunawan.


"Ayah diruang kerja." Jawab Rudi.


"Baiklah, Paman harus menemui Ayahmu dulu." Ucapnya kepada Rudi muda.


Cukup lama Kakek Gunawan berada di dalam ruang kerja Ayahnya, bahkan makan malam mereka lakukan di dalam sana.


Hingga Ayahnya terbaring sakit di Rumah Sakit, Rudi mendapatkan sebuah amanat yang menurutnya sangat berat karena menyangkut nyawa seorang gadis.


Seluruh rahasia pembicaraan yang di lakukan oleh Kakek Gunawan dengan mendiang Ayahnya, diketahui oleh Rudi.


Bahkan Rudi tidak menyangka jika ada wanita yang sangat licik berada di dunia ini.


Oleh karena itu, Rudi dan keluarga kecilnya sering berkunjung ke sebuah panti meskipun hanya satu atau dua minggu sekali.


Hingga akhirnya, dia menemukan sebuah kejanggalan yang terjadi pada putranya. Rudi tidak pernah melarang jika putranya memilih jodohnya sendiri.


Tetapi sebuah obsesi yang berlebihan, akan menghancurkan lebih dalam perasaannya. Hubungan yang dia jalin tidak akan berakhir bahagia.


Rudi dan Lila memutuskan pergi keluar negeri untuk waktu yang belum dapat di tentukan, selain berobat untuk anaknya. Rudi juga harus membuat gadis yang dititipkan Ayahnya aman dari jangkauan penjahat.


...**...


Diperusahaan Wiratama.


Doni telah mendapatkan kabar jika saudari tirinya sudah bergerak memantau perusahaannya, berarti kediamannya pasti tidak luput dari pantauannya.


Segera Doni memerintahkan seluruh orang-orang kepercayaannya untuk memperketat penjagaan rumahnya, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang berbahaya menimpa keluarganya.


"Zidan, segera sebarkan berita burung jatuhnya harga saham di perusahaan Wiratama." Perintah Doni.


Segera Zidan menjalankan perintah bosnya, dia memulai mengobrol dengan kepala bagian keuangan. Dengan sedikit nada yang tinggi agar banyak karyawan yang mendengarkannya.


Sedangkan kini terjadi kekacauan dengan para pemegang saham karena mendengar kabar burung yang sengaja dibuat oleh Doni dan Zidan.


Intan yang kini tengah duduk-duduk di dekat kantor dengan meminum segelas kopi, mendengarkan salah satu karyawan Wiratama.


"Kamu lihat kekacauan di dalam, jika harga saham anjlok pasti perusahaan ini sebentar lagi akan gulung tikar." Ucap seorang karyawan A.


"Benar, sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan baru." Jawab laryawan B dengan nada lesu.


"Sama, aku tidak menyangka skandal anaknya menjadi guncangan besar diperusahaan ini." Kata karyawan A lagi.


"Hah, orang kaya selalu ada-ada saja tingkahnya. Sudah ayo masuk aku ingin melihat seberapa jauh kekacauan sekarang." Ajak karyawan B kepada karyawan A.


Intan yang mendengarnya tersenyum sinis, segsra dirinya membuang kopi tersebut di tempat sampah yang mudah dia jangkau.


"Aku harus mencari warnet komputer, dengan munculnya keberadaanku akan membuat gempar dan pasti pemegang saham akan melengserkan saudara tiriku." Ucap Intan berbicara pelan dan membuka pintu mobilnya.


Intan segera menancap gas untuk mencari warnet komputer.


...**...


Di kediaman Wiratama, nampak Putri dan Rose sudah berada di dalam kamar Bintang.


Rose hanya menatap prihatin ke arah saudara Putri, dia mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih nampak kecantikannya.


"Mah, kenapa Bintang bisa pingsan lagi?" Tabya Putri pada Mamanya.


"Mama juga belum tahu sayang, Bintang sudah dalam kondisi pingsan ketika dibawa pulang oleh bodyguard yang di tugaskan oleh Papa untuk menjaga kalian." Jawab Bulan sendu.


Tangan Bulan terulur mengelus surai hitam Bintang, terlihat wajah cantik anaknya yang pucat.


"Kondisi kandungan Bintang bagaimana Mah?" Tanya Putri lagi, dia mengelus perut yang sedikit menonjol Bintang.


"Bintang harus bedres mulai hari ini sayang, mungkin dia harus mengambil cuti kuliahnya." Jelas Bulan lagi.


Gerakan Putri terhenti, dia menatap wajah mamanya.


Apakah separah itu keadaan Bintang.


"Oh iya, ajak Rose untuk makan siang dulu. Ini sudah waktunya makan siang." Ucap Bulan menatap lembut kearah Putri dan Rose.


"Mama juga harus makan, jangan sampai Mama ikut sakit seperti Bintang." Ucap Putri pelan.


Bulan mengangguk mereka bertiga beriringan menuruni anak tangga untuk turun ke lantai satu.


Bulan mengambilkan nasi untuk Putri, "Mah sudah cukup, jangan banyak-banyak." Ucap Putri yang kaget dengan porsi makannya.


"Biar kamu cepat gemuk dan memberi Mama cucu." Jawab Bulan dengan binar bahagia.


Rose yang tengah makan menjadi tersedak, dia kaget dengan ucapan Ibu temannya itu.


"Minum dulu... minum dulu." Bulan mengambilkan air minum untuk Rose.


Rose segera menerima dan meninumnya hingga tandas, "Terima kasih Tante." Ucap Rose setelah selesai minum.


Putri hanya melirik Rose, dia belum mengatakan perihal dirinya yang sudah menikah.


Rose menatap tajam ke arah Putri, seakan tatapan tajamnya dapat menembus isi kepalanya.


"Kenapa Nak?" Tanya Bulan lembut.


"Oh, tidak apa-apa Tante. Memang Putri sudah menikah?" Tanya Rose pada Bulan.


"Sudah, mungkin sudah tiga atau empat bulan yang lalu." Jawab Bulan enteng.


Rose melebarkan matanya, jadi ketika masuk kuliah Putri sudah menikah.


"Wah, Rose tidak tahu Tante jika teman baik Rose ini sudah menikah." Jawab Rose dengan tersenyum dan menekankan kata teman baik.


Putri yang mendengarnya hanya dapat menghena nafasnya pelan.


"Harusnya kamu sudah ketemu dengan suaminya Putri, suaminya selalu mengantarkannya ketika berangkat kuliah. Terkadang juga menjemputnya jika ada waktu." Jelas Bulan dengan tersenyum.


Rose coba mengingat-ingat wajah pria yang mengantarkan temannya, tetapi dia juga tidak tahu. Karena yang mengantarkannya tidak pernah keluar dari mobil.


...**...


...Hallo semuanya....


...Maaf jika update tidak dapat tepat waktu....


...Seperti yang sudah-sudah, bab autor melewati review manual....


...Sudah dua bab gagal, padahal tidak mengandung adegan 21+ dan tidak ada adegan kekerasan juga....


...Jadi mohon pengertiannya, semoga cepat lulus review....