
...Kalian gak ada niatan gitu kasih autor bunga apa ngasih kopi....
...Sampai mata autor udah muncul kantung mata panda, demi dapat update untuk kalian ðŸ˜ðŸ˜...
...1 babnya 1k loh minimal, apa aku pecah aja 1k jadi 2 bab....
...Autor biar bisa bobok cepet gausah begadang 😛...
Happy Reading 🌹🌹
Dave segera berlalu dari hadapan sepasang suami istri tersebut.
Sedangkan Gabriel tengah menjalankan mobil yang sudah dia ambil diarea parkiran.
Terlihat Sky membukakan pintu mobil untuk Putri dan memegang pergelangan tangannya.
Dave menatap nyalang pemandangan itu, dia mengepalkan tangannya karena benar-benar dia tidak rela gadis kecilnya menikahi pria lain.
Dave ingat jika sejak makan siang, Pitri memanggil Sky dengan sebutan Tuan.
Ingin sekali rasanya Dave berkomentar dengan panggilan yang Putri sematkan untuk pria yang berstatus suaminya tersebut.
Karena terlalu asik saling memamerkan perhatian mereka untuk Putri, sehingga membuat Dave lupa.
Kecurigaan Dave semakin kuat ketika Putri yang terlihat bingung, ketika ditanya oleh Rose siapa Sky.
...**...
"Inikan bukan jalan yang kita lewati tadi pagi Tuan, kita akan pergi kemana?" Tabya Putri yang tengah menatap Sky dari arah samping.
"Kepanti dimana kamu dibesarkan." Jawab Sky datar dengan tangannya masih sibuk membaca beberapa email yang masuk dari sekertarisnya Sella.
Putri mengerjapkan cepat kelopak matanya dengan cepat.
Setelah sekian lama perjalanan mereka kepanti asuhan yang berada dipinggiran kota, terluhat Putri yang tengah tertidur.
"Tuan, apakah perlu saya bangunkan Nona." Ucal Gabriel yang melihat Putri tertidur pulas.
"Jangan memandangnya Briel. Biarkan saja, jangan dibangunkan." Ucap Sky tanpa melihat Gabriel.
"Baik Tuan," Segera Gabriel keluar dan membukakan pintu untuk Sky.
Sky meletakkan tabletnya dan beralih memandang Putri, untuk sejenak dia menatap lekat kearah gadis tersebut.
"Dasar, kenapa suka sekali membuatku kesal." Gumam Sky dengan menyingkirkan anak rambut Putri.
Segera Sky keluar dan berlari kepintu sisi yang lainnya. Segera dirinya membopong Putri.
Sky dan Gabriel sudah berada didepan pintu panti asuhan, Gabriel mengetuk pintu.
"Iya, siapa?" Tanya seorang anak kecil.
"Halo, apakah bu Siti ada?" Tanya Gabriel
Anak kecil itu mengangguk, segera dia berlari masuk untuk memanggil ibu panti.
"Putri?" Ucap bu Siti melihat gadis dalam gendongan seorang pria tampan.
"Ayo... ayo silahkan masuk, ikuti saya pasti anda berat menggendong Putri." Segera bu Siti mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk.
"Tuan, silahkan ikuti saya untuk meletakkan Putri dikamarnya dulu." Lanjut bu Siti
Sky segera melangkahkan kakinya dan mengikuti bu Siti.
"Ini kamarnya Tuan," Ucap bu Siti.
Setelah Sky dan bu Siti kembali dari kamar Putri, kini mereka telah duduk diruabg tanu ditemani teh hangat buatan anak panti.
"Perkenalkan, saya Sky. Saya adalah suami Putri." Ucap Sky membuka obrolan.
"Salam kenal Tuan Sky, maaf saya tidak dapat hadur dipernikahan kalian. Karena saat itu Nana harus saya jaga." Jawab bu Siti dengan suara yang halus.
"Tidak apa-apa bu, panggil saja saya Sky." Jawab Sky dengan sopan.
"Baiklah, ada keperluan apa Nak. Apakah Putri menyusahkanmu?" Tanya bu Siti yang terlihat risau.
"Tidak bu, saya hanya ingin tau sesuatu hal yang sebenar-benarnya tentang masa lalu istriku. Apakah bu Siti ingin menceritakan kepada saya sebagai suami Putri?" Tabya Sky dengan nada datar dan tenang.
Bu Siti meremas rok yang tengah dia pakai, dia berfikir apakah kehidupan Putri mulai saat ini akan lebih banyak menghadapi kesulitan atau justru semakin mendekati kebahagiaan.
Kenapa banyak yang ingin tahu tentang keberadaan Putri, jika sebelum Putri dapat bertemu dengan kedua orang tuanya. Dia takut, jika orang jahat itu akan mencelakainya.
Air mata bu Siti tidak dapat dibendung lagi, seakan dia menyalurkan rasa takut dan khawatirnya selama bertahun-tahun.
...**...
Bintang kini tengah duduk bersantai diruang televisi, dengan sesekali tertawa karena acaranya lucu.
"Kenapa tertawa sendiri, apakah ada yang lucu." Ucap Bulan yang datang dari arah dapur membawa buah yang sudah dipotong-potong.
"Itu Mah, acaranya lucu jadi Bintang tertawa." Jawab Bintang dengan membenarkan duduknya.
"Makanlah sayang, sudah Mama potongkan buah-buahan kesukaanmu." Ucap Bulan dengan meletakkan piring yang masih dia bawa.
"Terima kasih Mah." Jawab Bintang dengan senang.
Bintang mengucir rambut panjangnya hingga menampakkan leher jenjangnya.
Indra penglihatan Bulan membola, segera tangannya menarik leher Bintang kearahnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Bintang!" Seru Bulan yang sangat yakin itu tanda cinta dileher anaknya.
"Apa sih Mah, kenapa membentak Bintang!" Seru Bintang tak kalah dengan Mamanya.
"Siapa yang melakukannya padamu." Jawab Bulan terdengar datar dan dingin.
Bintang hanya diam, dia sungguh tidak paham makhsud ucapan Mamanya.
"Katakan siapa pria yang sudah melakukannya denganmu!!!" Kini Bulan sudah berteriak hingga Bintang dan ART yang mendengarnya tersentak kaget.
"Ini... ini apa tanda merah dilehermu, sekarang cepat katakan siapa yang melakukannya terhadapmu." Jawab Bulan dingin.
Doni yang mendengar suara gaduh istrinya, segera datang menghampiri.
Kebetulan Doni pulang lebih awal karena dia merasa pusing memikirkan anak kandungnya dan siapa yang sudah tega memisahkan mereka.
"Ada apa Mah?" Tanya Doni yang sudah berdiri diambang pintu.
"Lihat Pah, Bintang sudah berani macam-macam dengan seorang pria." Adu Bulan pada suaminya.
"Makhsud Mama apa?" Tanya Doni yng masih belum mengerti.
Segera Bulan mendekat ke arah Bintang dan memperlihatkan tanda merah dilehernya yang ada beberapa.
Memang warnanya sudah mulai pudar, tetapi Bulan paham betul dengan tanda tersebut.
Doni membelalakkan matanya, dan mendekat kearah Bintang.
Doni menampar anak tersebut, karena pastilah sudah jauh dia melakukannya tidak sampai memberikan tanda merah itu.
Bintang hanya dapat memegang pipinya yang serasa panas, dia menatap tajam kearah orang tuanya.
"Cepat katakan, siapa yang sudah melakukannya denganmu!" Seru Doni yang sudah siap menghajar Bintang kembali.
Bintang hanya berdecih, "Mama dan Papa jangan kampungan! anak remaja saat ini sudah biasa melakukan hal seperti ini. Jadi terserah Bintang melakukannya dengan siapa saja!" Seru Bintang didepan wajah Papanya.
"Dasar anak tidak tau di untung!! itu namanya zina Bintang, kamu sebagai wanita harus menjaganya untuk suamimu." Geram Doni dengan pergaulan Bintang.
"Bintang, cepat katakan. Kamu melakukannya dengan siapa." Tanya Bulan yang masih menuntut jawaban anaknya.
"Baiklah, aku tidak akan pura-pura jadi anak baik lagi dihadapan kalian. Aku sudah terbiasa dengan kehidupan bebas dan alkohol, karena aku sudah mengatakannya kalian tidak perlu melarangku lagi." Jawab Bintang dengan segera melenggang pergi meninggalkan sepasang parubaya.
Bulan langsung ambruk dengan posisi tersusuk, air matanya mengalir deras.
Doni segera membawa istrinya kedalam pelukannya, Bulan akhirnya menangis.
"Papa, apa dosa kita. Hingga mendapatkan anak seperti Bintang." Tanya Bulan menangis sesenggukan.
"Apa dosa kita Pah, kenapa kita harus menanggung ini semua." Lanjut Bulan.
Doni hanya dapat menenangkan istrinya, tetaoi dalam hatinya sangat marah dengan sikap Bintang yang ternyata ini berbohong dihadapan mereka.
Setelah Bulan tenang, segera Doni menelfun Zidan untuk melaporkan seluruh aktifitas Bintang sejak duduk dibangku Sekolah Dasar hingga sekarang, termasuk teman-temannya.
"Blokir ATMnya." Ucap Doni dan segera dia mengakhiri panggilannya.
...**...
...Jangan lupa likenya teman-teman, setiap satu bab lebih 1K kata....