Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Kode


...Kasihlah bunga oii riders, jangan pelit....


...Autor lemess gak ada yang kasih hadiah....


...mode pemaksaan 😭😭...


Happy Reading 🌹🌹


"Briel, apa kau masih ingin menatap istriku." Geram Sky kepada asistennya.


"Tidak tuan, saya menatap lukisan di samping Nona. Sangat cantik." Jawab Gabriel yang tidak sadar ada rona merah di pipinya karena malu ketahuan oleh bosnya (lagi).


"Ck, kau pikir aku buta." Ujar Sky dengan berdecak pinggang.


"Sudah... sudah ayo segera kita selesaikan urusan ini. Aku sudah tidak sabar menonton pertunjukkan." Ucap Rudi yang bersender di sofa.


"Tapi aku masih belum mengerti, kenapa kalung?" Tanya Doni pada semua orang di ruangan tersebut.


Semua orang dengan serentak menggelngkan kepala mereka pelan, mereka juga tidak tahu makhsud teka-teki dari Kakek Gunawan.


"Kita coba saja menggunakan kaca pembesar Tuan, siapa tau terselip sesuatu di kalung tersebut." Saran Lin pada Rudi.


"Benar... benar kamu pintar sekali Lin." Jawab Rudi bangga dengan menepuk lengan asistennya.


Segera asisten Doni mengambil kaca pembesar di ruang kerja Doni.


Semua orang merubungi kalung yang tengah di teliti dengan kaca pembesar tersebut.


Nihil, tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.


"Tidak ada sesuatu apapun." Ucap Doni lemas.


"Sini biar aku coba," Agung merebut kaca pembesar dari tangan besannya.


Dengan teliti bahkan sampai merem melek Agung yang melihatnya. Tetapi sama saja tidak menemukan sesuatu.


Agung meletakkan kalung dan kaca pembesar di atas meja kaca, semuanya menghela nafas dalam.


Sudah hampir makan siang belum juga dapat memecahkan teka teki dari Kakek Gunawan.


"Ayo kita makan siang dulu agar dapat berfikir kembali." Ajak Bulan pada semuanya karena makan siang sudah tersaji di atas meja dengan rapi.


"Iya benar, mungkin yang di makhsud juga bukan kalung itu." Jawab Rudi yang sudah berdiri dari duduknya.


Jujur saja dia sudah sangat lapar, berfikir keras membuatnya cepat lapar. Doni melangkah ke arah ruang makan di ikuti semua orang kecuali Sky.


Sky masih duduk termenung di sofanya, "Sayang tidak makan?" Tanya Putri yang menyentuh bahu Sky pelan.


"Nanti saja, aku masih memikirkan sesuatu." Jawab Sky dengan mengelus dagunya seperti orang berfikir keras.


"Makan dulu saja, nanti sakit." Ucap Putri lembut.


Sky menoleh, "Kamu mengkhawatirkan aku?" Tanya Sky dengan tersenyum lebar.


"Ck, bodo amat!" Jawab Putri dengan beediri dari duduknya.


Tangan Putri di cekal sehingga membuatnya terjatuh di tubuh Sky, jantungnya serasa mau melompat dari tempatnya.


"Aku tahu jika aku tampan," Ucap Sky membuyarkan lamunan Putri.


"Dasar nyebelin, aku kasih sayur kecubung lagi biar tau rasa." Ucap Putri yang bangkit dari atas tubuh Sky.


"Sudah ayo, cepat makan." Lanjut Putri lagi.


Sky berdiri dan menghentakkan kakinya kesal. Dia sungguh kesal karena di ingatkan oleh buah kecubung itu.


Putri hanya terkekekh geli, kebanyakan novel yang dia baca. Kebanyakan tokoh wanitanya yang menghentakkan kakinya tetapi kini dia melihat suaminya yang seperti itu.


...**...


Setelah makan siang, Sky dan Gabriel kembali ke ruang tamu.


Sedangkan yang lainnya beristirahat sejenak agar nanti dapat berfikir kembali.


Terlihat Putri dan Bintang datang menyusul ke ruang tamu dengan membawa camilan dan juga es buah yang segar untuk hari yang terik.


"Apakah belum ketemu?" Tanya Bintang yang sudah mendudukkan dirinya di sofa empuk tersebut.


Sky menggeleng, dia menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Matanya masih menatap lekat ke arah kalung yang berada di atas meja tersebut.


Netranya bergerak, telihat bayang-bayang yang samar dari kalung tersebut.


"Cepat tutup seluruh tirai di ruangan ini dan nyalakan senter Hp." Ucap Sky dengan memerintahkan siapa saja yang ada di ruangan tersebut.


"Ada apa sayang, jangan membuatku takut." Jawab Putri yang sudah duduk menempel ke arah Sky dengan meremas lengan kemeja putihnya.


"Tenang saja sayang, aku menemukan bayangan yang mencurigakan dari kalungmu itu. Cepat Briel tunggu apa lagi." Jawab Sky dengan tegas.


Gabriel bergegas menutup seluruh tirai yang berada di ruang gamu tersebut, terlihat sangat gelap hanya cahaya yang berhasil masuk dari celah-celah ventilasi.


"Briel Hp." Ucap Sky dengan mengadahkan tangannya.


Gabriel segera menyerahkan Hp yang dia bawa, segera Sky menyalakan senternya.


Dia coba menyenter dari atas, hanya bayangan yang buram dia dapat.


"Tulisan apa ini, ck sungguh Kakek tidak jelas." Gerutu Bintang yang kesal dengan permainan teka teki kuno itu.


"Iya, mataku sampai sakit karena mengamati tulisan itu." Putri menimpali ucapan Bintang.


Sky menggelengkan kepalanya, dia merasa pusing.


"Tuan, kita coba menyenterinya dari bawah saja." Usul Gabriel pada bosnya.


"Bawah? bawah mana." Tanya Sky heran dengan menoleh ke arah asistennya.


"Bawah kalungnya Tuan, mau bawah mana lagi. Bawah yang lain juga belum pernah dilihat." Jawab Gabriel dengan nada mengejek sekaligus ambigu.


Brengsek! Umpat Sky dalam hatinya.


Gabriel melipat bibirnya kedalam agar tidak tertawa, sudah dapat dia bayangkan wajah kesal pria itu.


Segera Sky mengarahkan senter hp-nya ke arah bawah kalung. Dia menyenter bagian permata yang berada di tengah kalung tersebut.


Terlihat jelas sebuah nomor, "Itu tanggal lahirku." Ucap Bintang dan Putri bersamaan.


...**...


MAMPIR KE NOVEL TEMAN AUTOR