Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Terbuai


...Jangan lupa like dan dukungannya...


Happy Reading 🌹🌹


"Bagaimana, bik." Tanya Bulan pada ART yang baru saja turun dari lantai dua.


"Nona tidak ingin sarapan bersama Nyonya, Non Bintang ingin ATMnya dikembalikan." Jawab ART tersebut dengan kepala menunduk.


Bulan melihat kearah suaminya, tetapi Doni hanya diam saja.


"Yasudah bik, silahkan lanjutkan pekerjaanmu." Ucap Bulan.


"Pah, lebih baik kembalikan lagi ATM Bintang. Mama takut, dia akan semakin liar diluar sana." Ucap Bulan yang berharap suaminya memberikan kesempatan untuk Bibtang.


Doni mengambil air yang berada didalam gelas, dan meneguknya hingga tandas. Dia mengelap biburnya dengan tisu yang berada dimeja.


"Mah, Papa berangkat kerja dulu ya. Biarkan saja anak itu." Jawab Doni yang kini mengecup dahi dan pipi istrinya.


"Tapi, Pah." Bulan berusaha menyelesaikan masalah mereka hari ini.


"Sudah, percaya saja dengan Papa. Biar anak itu sadar diri, jika dia tidak bisa seenaknya menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna." Jawab Doni yang segera meninggalkan ruang makan.


Bintang yang mendengar jawaban dari Papanya hanya dapat mencengkram kuat pegangan tangga yang terbuat dari besi tersebut.


Lima menit sebelum pergi, Bintang ingin turun untuk sarapan karena merasa dirinya sangat lapar. Tetapi baru akan sampai ditengah anak tangga.


Langkahnya terhenti, dia mendengar bagaimana Mamanya mencoba memohon kepada Papanya. Tetapi tidak digampai oleh pria tersebut.


"Si*al, jika Papa tidak mengembalikan ATMku seperti dulu. Aku tidak akan bisa bersenang-senang lagi diclub." Gerutu Bintang dalam hatinya.


Semalam, Bintang berhutang kepada temannya untuk membayar semua makanan dan minuman yang dia pesan.


Sudah beberapa kali kasir menggesek kartu ATMnya tapi tidak juga berhasil, akhirnya dengan kepala bersungut-sungut. Bintang meminjam kepada temannya.


Untuk bersenang-senang dalam waktu satu malam, Bintang bisa mengeluarkan dua sampai lima juta. Bagaimana tidak besar nominalnya, jika terkadang dirinya membayari teman-temannya, belum lagi pria yang dia sewa untuk memuaskan hasratnya.


"Bintang, ayo sarapan. Ngapain kamu berdiri saja disitu." Panggil Bulan yang melihat anaknya hanya berada ditangga.


Segera Bintang melanjutkan langkahnya keruang makan, dia akan menikirkan bagaimana caranya agar Papanya mengembalikan fasilitasnya lagi.


"Kamu tidak pergi kuliah." Tanya Bulan yang kini tengah mengoleskan selai coklat diatas roti tawar untuk Bintang.


"Malas Mah, Bintang capek." Jawab Bintang sekenanya.


"Memangnya kamu pulang jam berapa sih Bin, ingat kamu itu perempuan." Jawab Bulan yang sudah meletakkan roti diatas piring Bintang.


"Ck, Mama jangan mulai deh. Bintang hanya bersenang-senang saja dengan teman Bintang." Jawab Bintang cemberut dan menggigit rotinya.


"Iya, Mama tau. Bersenang-senang tidak harus pulang pagi jugakan, sebenarnya kalian pergi kemana?" Tanya Bulan yang mengintrogasi.


Suara sendok dan garpu terjatuh dari meja membuat Bulan melebarkan matanya, Bintang membanting roti dengan kasar sehingga membuat gerakan tangannya menyenggol beberapa peralatan makan diatas meja.


"Mama biasa diem gak sih! Bintang itu sudah besar, terserah Bintang ingin pulang jam berapa. Terpenting tidak hamil." Jawab Bintang dengan wajah kesal.


"BINTANG!!! Jaga ucapan kamu!" Teriak Bulan pada anaknya.


Bintang berdiri dengan kasar dan meninggalkan Bulan sendirian diruang makan, bahkan para ART yang mendengar percakapan keduanya kaget.


Bintang dulu tidak pernah berani membentak Ibunya, tetapi kenapa sekarang dia bahkan membentak dan berteriak didepan kedua orang tuanya.


...**...


Mobil sedan mewah menembus jalan raya, kini mereka telah sampai dijalan raya kota.


Jika tadi mereka dapat mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, tetapi kini harus rela bermacet-macetan ria.


"Kamu tidak usah masuk kuliah saja hari ini." Ucap Sky yang sudah sibuk dengan tablet ditangannya.


"Tidak bisa, hari ini Pak Dave akan kekampus. Katanya dia akan memberikanku tugas." Jawab Putri yang sesekali melihat kearah jalan raya.


Pergerakan tangan Sky terhenti, dia menoleh kearah istrinya.


"Kenapa harus ketemu, suruh kirim saja tugasnya lewat email. Sekarang jaman sudah canggih, bukan lagi jaman batu." Gerutu Sky pada Putri.


Putri hanya mengendikkan kedua bahunya, sebagai jawaban dia tidak tahu.


"Kenapa tidak kamu tolak, bisakan kamu menolaknya!" Jawab Sky dengan wajah yang semakin kesal.


"Sudah aku coba. Jikapun bisa aku juga tidak ingin jadi asdos." Gerutu Putri yang kini malah berbalik cemberut terhadap Sky.


"Ishh, seharusnya aku yang kesal. Kenapa jadi kamu." Jawab Sky heran.


"Tuan juga menyebalkan, memang Tuan pikir aku ingin menjadi asdos. Apa Tuan tahu, asdos itu pekerjaannya lebih banyak. Harus selalu siap duapuluh empat jam jika ada perintah dari dosen, jika aku bisa menolak. Aku akan menolahnya, lebih baik aku hanya jadi mahasiswi biasa saja." Jawab Putri panjang lebar dengan nada kesal.


"Tuan?" Ucap Sky tersenyum smirk.


Putri menelan salavinanya susah payah, dia lupa bagaimana kejadian tadi pagi dikamarnya.


Putri duduk mundur sampai punggungnya membentur pintu mobil, matanya bergerak cepat dan berfikir untuk mencari alasan.


"Emm... anu, maaf aku belum terbiasa dengan panggilan itu." Jawab Putri dengan kepala menunduk dan mere*mas jari-jarinya.


"Mendekatlah." Ucap Sky datar.


Putri menggeleng, dia mengangkat kepalanya dan menatap Sky penuh permohonan.


Sky menjentikkan jarinya sebagai tanda Putri harus tetap mendekat kearahnya.


Dengan perasaan yang campur aduk, Putri mendekat dan memejamkan matanya dengan sedikit mencondongkan wajahnya.


Sky yang melihat tingkah laku istrinya menaikkan sebelah alisnya karena heran.


"Kenapa dia begitu." Gumam Sky dalam hati.


Sedangkan, Gabriel yang tengah menyetir melihat Putri dari pantulan kaca mobil melipat bibirnya kedalam agar tawanya tidak meledak.


Satu detik... dua detik... hingga lima detik.


"Eh, kenapa aku tidak merasakan sesuatu. Apa aku sudah mati." Gumam Putri dalan hati.


Putri memberanikan diri membuka kelopak matanya hanya sebelah, terlihat Sky tengah menatapnya dengan senyum mengejek.


Segera Putri menegakkan duduknya, dia sangat malu dengan perilakunya sendiri.


"Kenapa kamu pagi-pagi berpikiran mesum? Apa yang kamu pikirkan, apakah kamu ingin aku menciummu." Tanya Sky dengan nada mengejek.


"Tidak!" Sangkal Putri dengan cepat.


Sky menarik lengan istrinya, dan mendaratkan kecupan dibibir yang sudah menggoda imannya sedari pagi.


Bahkan, Sky harus rela bersolo ria dikamar mandi. Hanya agar dapat menenangkan buayanya.


Putri yang kaget dengan tindakan Sky, dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Untuk menyadarkannya.


Putri terbuai dengan permainan suaminya bahkan kini tangannya sudah dia kalungkan dileher suaminya. (Iyalah, mantan celup-celup 😂 tentu lihai dalam bermain.)


Beruntung posisi Sky menghalangi wajah Putri, sehingga hanya menampakkan sedikit jidat istrinya.


Gabriel yang melirik dari kaca mobil, hanya dapat menelan salavinanya susah payah. Bagaimana tidak, dirinya juga pria normal. Tentu saja ingin menyentuh wanita seperti yang dilakukan Tuannya.


Sesekali suara kecapan keluar dari aktivitas keduanya, bahkan tangan Sky sudah mulai bergerilya dibelakang punggung Putri.


...**...


Sky : Yah, tor kenapa gak dilanjutkan. Nanggung! 😭


Autor : Ingat, masih banyak jomblo disini. Lihat Gabriel sampai ngeces. 😌


Sky : Biarin, biar mereka main solo. Aku belum anu-anu sama Putri loh, kita sudah menikah berapa minggu. 😈


Autor : Inget, masih dalam pantauan editor manual 😐


Sky : Kapan aku bisa jebol gawang tor! Keburu bulan puasa. 😫


Autor : Bisa dilakukan habis sholat teraweh 😀


Gabriel : Aku padamu torr... ❤


Autor : Aku juga Briel ❤