Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Detik


...Jangan lupa like dan sesajennya teman-teman...


...Kemarin autor up lima bab, tetapi kenapa likenya sedikit ๐Ÿ˜ข yaudah upnya autor kurangi aja....


...Jadi tiga bab setiap harinya....


Ada beberapa pertanyaan kenapa lama waktu antar babnya?


Karena memang dibikin autor serasa kaya minum obat gitu, sehari tiga kali.


...Pagi - Siang - Sore ๐Ÿ˜๐Ÿ˜...


...Jadi, jangan pelit-pelit sama autor. Jika autor lagi ketempelan malaikat bisa up banyak....


Happy Reading ๐ŸŒน๐ŸŒน


Terlihat kini Sky dan Putri tengah duduk santai dimeja makan, setelah Dive berpamitan untuk pulang. Sky mengajak Putri untuk minum teh sambil mengobrol.


"Put." Panggil Sky dengan nada halus.


Putri menegakkan kepalanya, dia menatap Sky.


"Ya, ada apa?" Tanyanya.


"Bagaimana jika kedua orangtuamu masih hidup?" Tanya Sky to the point.


"Apa mereka ingin bertemu denganku, terutama Ibuku." Jawab Putri yang terlihat matanya tengah berkabut.


Putri ingat jelas bagaimana pertemuan terakhir mereka, pasti Bintang telah menceritakan pekerjaan yang selama ini dia jalani sebelum menikah dengan Sky.


Sky mengangguk, "Apa kamu tidak ingi tahu wajah kedua orangtuamu?" Tanya Sky lagi.


"Aku sudah pernah bertemu mereka." Jawab Putri dengan membuang pandangannya kesamping.


Sky tertegun dengan jawaban istrinya, "A.. apa kamu sudah mengetahuinya?" Jawab Sky cepat.


Putri mengangguk, bahkan airmatanya sudah menetes.


"Aku mendengar obrolan kalian ketika berada dipanti asuhan." Jawab Putri dengan nada yang sudaj serak.


Sky segera berdiri dan beranjak dari kursinya, dia berjalan menghampiri Putri.


Dipeluknya tubuh kecil itu bahkan tubuj Putri tenggelam dalam pekukannya.


"Kedua orang tuamu tadi menemuiku dikantor, dia menginginkan bertemu denganmu." Jelas Sky pada Putri yang masih setia dia peluk.


"Bagaimana mereka yakin jika aku adalah anak kandungnya, apa mereka tidak menginginkan tes DNA denganku." Jawab Putri dengan tersenyum getir.


Hatinya saat ini tengah gundah, dia bahagia karena ternyata kedua orang tuanya masih hidup. Tetapi dia juga sakit mendapati kenyataan jika selama ini ada gadis yang mendapatkan kasih sayang mereka.


"Tidak, mereka yakin jika kamu anak kandungnya. Apa kamu tau kalung yang kamu kenakan adalah warisan turun temurun dari keluargamu." Jelas Sky yang kini sudah berjongkok didepan Putri.


"Kamu tidak perlu takut, jika mereka tidak percaya masih ada aku, Mama, dan Ayah." Lanjut Sky yang kini tangannya terulur mengelus pipi Putri.


Putri mengangguk cepat, dia sangat bersyukur keluarga Sky sangat menyayanginya. Bahkan kini terlihat air matanya semakin deras.


Sky mengusap airmata istrinya dengan lembut, entah siapa yang memulainya. Terlihat sepasang suami istri sudah menyatukan bibirnya.


Mereka memainkannya dengan begitu lembut dan penuh perasaan, bahkan kesunyian rumah mereka terisi dengan suara decapan dari bibir yang saling bertautan tersebut.


Sky melepaskan ciumannya, dia tersenyum kearah Istrinya.


Putri langsung menundukkan kepalanya, terlihat wajahnya memerah karena menahan malu.


Sky berdehem untuk menetralkan detak jantungnya yang serasa akan meledak, dia segera berdiri.


"A... aku tidur duluan, selamat malam." Jawab Sky dengan berjalan meninggalkan Putri sendirian dimeja makan.


Setelah memastikan kepergian Sky, Putri membenturkan kepalanya beberapa kali dimeja makan, bodoh... bodoh... apa yang kamu lakukan Putri. Terlihat dia tengah merutuki dirinya sendiri.


Sky langsung berlari kekamar dan mengunci pintunya, dia membuka gorden memastika jika Putri tidak mengikuti dirinya.


Dengan bersandar dibelakang pintu, tangan Sky memegang sebelah dadanya. Terasa detak jantungnya begitu berdebar kencang.


"Apa ini yang namanya jatuh cinta, kenapa rasanya membuat hatiku menggila." Ucap Sky dengan suara lirih.


Sky segera berjalan dan meloncat kekasur yang berukuran king size tersebut, dia berguling-guling dan sesekali menghentakkan kakinya.


Umurnya sungguh tidak menggambarkan perilakunya saat ini, jika asistennya melihat kelakuan bosnya. Dia yakin akan menjadi bulan-bulanan Gabriel.


Tersemyum, tertawa, dan dia kesenangan sendiri.


...**...


Pagi hari dikediaman Danuarta.


Terlihat Lila, Rudi, dan Bu Siti tengah berkumpul dimeja maka.


Setelah kedatangan Bu Siti, mereka menyarankan untuk dirinya menginap dan segera mendatangi keluarga Wiratama.


Terlihat Dave menuruni anak tangga, "Selanat pagi Mah, Pah." Sapa Dave kepada kedua orang tuanya.


Tubuh Dave membatu, tatapannya mengarah kearah seorang wanita yang sangat dia ingat betul.


"Bu Siti." Ucap Dave lirih.


Bu Siti melemparkan senyum kearah Dave, "Selamat pagi Dave, kamu tumbuh dengan tinggi dan tampan." Jawab Bu Siti dengan suara halusnya.


Dave segera menghampiri Bu Siti, pria tersebut memeluk sebagai tanda selamat datang dirumahnya.


"Ayo Dave segera duduk." Ajak Lila Mamanya.


Dave mengangguk dan mendudukkan dirinya disamping Papanya.


Selama sarapan berlangsung hanya suara sendok yang senantiasa menemani mereka, didalam keluarga Danuarta ketika makan adalah waktunya mensyukuri nikmat Tuhan hari ini.


"Semuanya, Dave pamit berangkat kekantor dulu ya." Pamit Dave dengan sopan.


"Iya Dave, hati-hati." Jawab Bu Siti dengan menepuk pundak Dave pelan.


Dave segera pergi meninggalkan kediaman Danuarta, terlihat dia menaiki mobilnya dan keluar dari pekarangan mansion tersebut.


"Ayo segera kita bersiap-siap." Ucap Rudi kepada kedua wanita didepannya.


Hari ini mereka akan mendatangi keluarga Wiratama, karena sudah genting.


Benalu yang tidak diketahui oleh Doni sudah bergerak bebas, jika sampai tidak segera dibasmi akan membuat inangnya menjadi hancur seperti keinginan benalu.


...**...


Dikediaman Sky dan Putri, setelah mereka selesai sarapan segera mengendarai mobil menuju Rumah Sakit.


Sky mendapatkan kabar jika Bintang tengah dirawat dan kedua mertuanya menunggunya.


Membutuhkan waktu lebih lama, akhirnya mereka sudah sampai didepan Rumah Sakit.


"Sky, kenapa kita kesini? Siapa yang sakit?" Tanya Putri melihat suaminya.


"Kedua orangtuamu sedang di Rumah Sakit, ayo segera kita turun." Jawab Sky segera keliar dari dalam mobil.


Mata Putri sudah berkaca-kaca, baru akan bertemu dengan orangtua kandungnya. Tetapi sekarang mereka tengah sakit.


Apa dia akan dipisahkan lagi dengan kedua orangtuanya dengan cepat.


Putri menggelengkan kepalanya, segera dia mengikuti Sky keluar dari dalam mobil.


Pasangan beda usia tersebut terlihat memasuki loby Rumah Sakit, disana sudah ada Gabriel yang menunggu.


"Dimana kamarnya?" Tanya Sky.


"Lantai tiga, ruangan VVIP. Mari saya antar." Jawab Gabriel sopan.


Segera Gabriel berjalan sebagai penunjuk arah bagi sepasang suami istri tersebut, Putri sedari tadi hanya mengikuti langkah kedua pria.


Tatapannya kosong, entah apa yang tengah dia pikirkan.


Tangan Sky menggenggam tangan Putri, Putri tersentak kaget dan menatap pria yang berada disampingnya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ucap Sky dengan mengeratkan genggamannya.


Sesampainya dilantai tiga, mereka berjalan kesalah satu kamar.


Putri, Sky, dan Gabriel sudah berdiri tepat didepan pintu yang berwarna putih itu.


Putri masih senantiasa memandanginya, tangannya semakin erat menggenggam tangan suaminya.


Pintu ruangan tersebut terbuka, sedetik kemudian air mata keduanya menetes.


...**...


...Jangan lupa sesajennya ๐ŸŒนโ˜•โค...