Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
IGD


Happy Reading 🌹🌹


Kini Celine sudah sampai di parkiran Rumah Sakit, segera dirinya keluar dari dalam mobil dengan langkah yang tergesa-gesa terkesan berlari kecil.


Seorang suster yang melihat kedatangan Celine langsung menyambutnya dan melaporkan para korban kecelakaan.


"Berapa korban kecelakaan hingga kamu menelfon ku?" Tanya Celine yang berjalan ke ruangannya.


"Sekitar dua ratus orang dok," Jawab suster.


Langkah Celine terhenti, "Kecelakaan apa yang melukai orang sebanyak itu." Ucapnya dengan wajah kaget.


"Kecelakaan gedung mall yang baru saja di buka peresmiannya dok." Jawab suster.


"Berapa persen yang terluka parah?" Tanya Celine yang sudah membuka ruangannya dengan kasar.


"Dua puluh lima persen dokter Celine. Kamintengah menunggu dokter yang lainnya. Sudah banyak pasien yang di pulangkan dan juga di bagi ke Rumah Sakit besar lainnya." Jelas suster secara rinci.


Celine mengangguk paham, segera dia bersikap dan mengikat rambutnya tinggi-tinggi sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Bahkan Celine tidak sadar jika tanda cintanya tidak dia tutup dengan foundation karena terburu-buru datang ke Rumah Sakit.


"Dokter, anu... itu." Ucap suster menunjukkan sesuatu di leher.


Celine menaikkan sebelah alisnya, suster segera mengambil kaca yang ada di atas meja Celine dan mengarahkan ke arah yang suster maksud.


"Bagaimana ini, aku tidak membawa foundation." Keluh Celine yang mencoba menghapus dengan tangannya.


"Apa kamu membawa foundation?" Tanya Celine kepada suster.


"Tidak dok," Jawab suster cepat.


Celine menghembuskan nafasnya kasar, "Biarlah sudah terlanjur. Ayo kita segera bergegas." Ajak Celine.


Segera mereka berdua keluar dan berlari menuju ruang UGD dimana banyak para korban yang tertimpa gedung bangunan yang belum mendapatkan tindakan.


Sejenak Celine terpaku di depan pintu UGD, sungguh kacau ruangan itu. Banyak suara rintihan, jeritan, dan tangisan yang menggema di dalam ruangan tersebut.


Bahkan kondisi korban yang belum pernah Celine lihat, sejenak pijakan Celine menjadi gamang. Suster yang berada di belakang menahannya agar tidak ambruk.


"Dok, are you oke?" Tanya suster yang khawatir karena melihat wajah Celine pucat.


"Ah, maafkan aku. Aku.. aku belum pernah melihat keadaan seperti ini." Jawab Celine jujur.


"Apa dokter mampu untuk membantu kami, kami butuh bantuan dokter Celine." Ujar suster.


Seorang dokter laki-laki segera menepuk pundak Celine sehingga membuatnya menoleh. Terlihat wajah rupawan dan senyum yang manis.


Celine menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia mengangguk pasti dan berjalan dengan menggulung lengan jas kebesarannya.


Dengan cekatan Celine memerika dan mengobati pasien satu per satu, dokter laki-laki itu memandang ke arah Celine dengan tersenyum melihat wajah yang tengah serius bekerja.


"Ayolah otak, kita bekerja. Mata kita bisa melihatnya setiap hari." Katanya di dalam hati.


Sudah berjam-jam Celine dan para tenaga medis yang lainnya bekerja tetapi seakan pasien tidak berkurang.


Bahkan baru saja Celine akan memakan mie instan sudah ada teriakan yang menandakan ada pasien datang.


Segera Celine menaruh mie instan di atas nakas untuk keluar, tetapi sebuah tangan memegang lengannya.


"Dokter lanjutkan saja makannya, biar aku saja. Aku lihat Dokter Celine belum makan sejak tadi jangan sampai mengobati orang tetapi kita sendiri juga sakit." Ucap Dokter Isam kepada Celine.


Celine berfikir sejenak, benar apa yang di katakan rekan kerjanya tersebut.


"Baiklah, Terima kasih Dokter Isam. Aku akan segera menyusul nanti." Jawab Celine dengan lembut.


Hati Dokter Isam berdesir setiap melihat dan mendengar suara Celine, sudah sejak lama dia menaruh hati tetapi Celine selalu berkata sedang berjuang untuk mendapatkan hati seorang pria.


Tetapi Celine sudah beberapa hari tidak masuk ke Rumah Sakit, apa wanita ini patah hati?


"Dok, apa dokter masih memperjuangkan pria lain?" Tanya Dokter Isam sebelum meninggalkan Celine.


"Tidak, dia sudah bahagia dengan keluarganya." Jawab Celine tersenyum hangat.


Tiba-tiba hati Dokter Isam tumbuh jutaan bunga di dalam hatinya, bahkan jika di gambarkan dengan emot sekarang di sekeliling mereka tengah banyak tanda love.


"Baiklah dok, aku akan bekerja. Selamat makan." Ucap Dokter Isam dengan wajah yang sangat bahagia.


Dokter Celine yang melihat perubahan Dokter Isam hanya menggeleng lemah dan tertawa pelan, sungguh orang yang jujur karena tidak dapat menyembunyikan ekspresi wajahnya sejak duduk di bangku kuliah.


Sedangkan Rex yang berada di dalam kamar tengah melakukan panggilan telfon dengan seseorang menggeram marah.


"Terus awasi dia." Titah Rex pada orang di seberang sana.


...**...


SIAPA YANG DI AWASI SAMA BABANG REX YA? 😀😀


PROMO