Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Berbagi Sesuatu yang Enak


Happy Reading 🌹🌹


"Mah, Ayah kemana?" Tanya Sky kepada Mamanya.


"Sedang pergi ke luar kota, nanto sore baru kembali." Jawab Ambarsari dengan memakan buah potong.


"Tuan, ini sayurnya." Ucap pelayan mansion.


"Terima kasih bi." Jawab Sky dengan tersenyum.


Gerakan Ambarsari dan pelayan berhenti, apakah telinga mereka sudah sakit.


Mendengar Sky mengucapkan terima kasih, seperti mendapatkan durian runtuh.


Sky yang tersenyum memandangi kotak makan, menjadi heran karena suasana hening.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu." Tanya Sky pada keduanya.


"Eh, maaf Tuan. Saya balik ke belakang lagi." Pamit pelayan kepada kedua majikannya.


"Mama kenapa sih." Ucap Sky heran.


Ambarsari mendekat, dia mendaratkan ounggung tangannya di dahi Sky.


"Tidak demam, apa karena kamu di pukul orang jadi membuat otakmu sedikit waras." Ucap Ambarsari pada Sky dengan nada serius.


"Sky berangkat ke kantor dulu Mah, sebelum Sky benar-benar menjadi gila karena ulah Mama." Ucap Sky dengan mengecup kedua pipi orangtuanya.


Sky melihat Mamanya hanya mengangguk segera keluar dengan sedikit berlari, tidak lupa kotak bekalnya.


"Ya!! Dasar anak tampan, kamu kira dekat dengan Mamamu membuat orang lain gila." Seru Ambarsari ketika proses berfikirnya baru lancar.


Sky hanya tergelak di dalam mobil yang akan mengantarkannya ke kantor.


Gabriel setelah selesai membersihkan diri, dia segera sarapan dengan sayur yang sudah di berikan Putri olehnya.


Dia sudah tidak peduli lagi jika harus kehilangan lehernya, yang terpenting saat ini dia harus banyak-banyak mengisi tenaga untuk menghadapi bos yang menyebalkan.


Tanpa di sadari, Gabriel menitikan air mata. Dia memakan masakan Putri dengan tangan dan bibir yang gemetar karena menahan gejolak yang ada.


Apakah seperti ini rasanya memiliki saudara. Tidak perlu memasak sendiri ataupun makan di luar rumah. Seandainya aku masih tinggal bersama Ibu, apa Ibu akan membuatkan aku sarapan setiap pagi.


Oh, come on Gabriel. Ibumu saja membuangmu jangan berkhayal terlalu tinggi. Jangankan untuk merasakan masakannya, diakui oleh dirinya saja sudah sangat mustahil.


Gabriel makan dengan lahap bahkan dirinya sampai tersedak-sedak sembari mengusap air matanya dengan kasar, tidak ada yang tahu perasaan dirinya.


Gabriel selalu memperlihatkan dirinya yang tegas dan baik-baik saja, tanpa cacat sedikitpun.


Gabriel menghabiskan seluruh bekal yang di berikan Putri, tidak akan dia tinggalkan barang sesuap saja sisa sayur dan bekal yang lainnya.


Sungguh sesak dan tidak nyaman makan dengan keadaan hati yang begitu terluka, tetapi Gabriel mencoba kuat dan tegar. Dia masih memiliki keluarga Gandratama dan sekarang Putri menantu dari keluarga tersebut.


...**...


Seperti biasa, hari ini Putri menjalani kuliahnya dengan monoton.


Masuk kelas, mendengarkan dosen menerangkan, tugas, dan mengerjakan.


Siklus mahasiswa yang tidak pernah berubah.


Pelajaran terakhir hari ini adalah mata kuliah Dave, terlihat Dave memasuki kelas dengan di tatap para mahasiswa dengan wajah bertanya-tanya.


Kenapa dengan wajah dosen tampan mereka, meskipun penuh luka tetapi tidak menyurutkan kadar ketampanannya.


"Baiklah, apa sudah dapat kita mulai perjuliahan hari ini?" Tanya Dave kepada mahasiswanya.


"Pak, kenapa dengan wajah Pak Dave. Apa anda baru saja berkelahi?" Tanya Rose dengan mata berkaca-kaca.


"Iya pak, sepertinya bapak terlibat cinta segitiga." Saut seorang mahasiswa dengan di akhiri kekehan kecil.


Dave hanya tersenyum, "Benar, saya tengah memperjuangkan cinta pertama saya." Jawab Dave dengan memandang lekat ke arah Putri.


Putri terpaku, dia juga membalas tatapan Dave kepadanya.


Apa kak Danu menyukaiku. Tapi sudah terlambat, aku sudah memiliki suami. Terlebih perasaanku dengan kak Danu menjadi hambar.


Mahasiswa menjadi riuh atas jawaban Dave yang baru saja terlontar, "Wah, pak Dave semoga tidak bertepuk sebelah tangan. Jika memang belum berjodoh jangan dipaksakan." Jawab dari mahasiswa yang lainnya.


"Huuuuu... ngarep banget." Seru seluruh kelas pada mahasiswa tersebut.


Putri hanya terkikik geli dengan respon teman-temannya, berbeda dengan Rose. Dia melihat dosennya yang hanya berwajah datar dan menatap sahabatnya Putri.


Ingin sekali Rose bertanya kepada temannya itu, tetapi mengetahui jika dia sudah menikah. Tidak mungkin jika di sukai oleh Dave bukan. Apa mungkin Dave mau jadi pembinor.


Setelah jam kuliah Dave selesai, Hp Putri berdering menandakan ada panggilan masuk.


Tertera di dalam layar Hpnya adalah nama Bintang.


Putri segera menjauh dari keramaian dan mencari tempat yang sepi.


"Hallo, ada apa Bin?" Tanya Putri.


"Put, apa kamu sudah selesai kuliahmu?" Tanya Bintang.


"Sudah baru saja. Sebentar lagi aku akan pulang." Jawab Putri dengan halus.


"Tolong kamu mampir ke rumah Papa dan Mama, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Jawab Bintang kepada Putri.


"Tanya apa Bin, apa tidak bisa melalui telfon?" Jawab Putri heran.


Karena biasanya Putri dan Sky akan menginao di kediaman Wiratama ketika hari Sabtu dan Minggu.


"Tidak bisa Put, ini sangat penting. Aku akan menceritakan sesuatu yang terjadi pagi tadi." Jawab Bintang dengan setengah berbisik.


"Baiklah, aku segera ke rumah setelah dari kantor Kak Sky." Jawab Putri.


"Hati-hati, belikan aku rujak di dekat kampus yang asam jangan terlalu pedas dan es krimnya di pisah ya." Jawab Bintang yang mengakhiri sambungan telfonnya dengan terkikik.


Ck dasar, jika sedang tidak hamil. Akan aku suruh kamu membelinya sendiri. Gerutu Putri.


...**...


Diperusahaan Gandratama.


Sky dan Gabriel tengah sibuk berkutat dengan pekerjaan yang sudah menumpuk.


Tanpa terasa, mereka melewatkan jam makan siang. Entah karena terlalu fokus atau memang mereka masih kenyang.


Suara pintu ruangan Sky di ketuk, muncullah sekretarisnya.


"Tuan, saya membelikan makanan untuk Anda dan Pak Gabriel. Karena waktu sudah menunjukkan pukul dua sore."


Sky dan Gabriel menghentikan aktivitas mereka, Sky melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Ya, taruh saja di meja." Jawab Sky acuh.


Dengan perasaan kesal, dia menaruh makanannya di atas meja. Ingin sekali mendapatkan perhatian tetapi hanya selalu sikap dingin yang dia dapatkan.


"Briel, ayo makan dulu. Aku takut nanti kamu pingsan." Ujar Sky yang sudah berjalan menuju meja dengan membawa kotak.


Briel segera berdiri dan menyusul bosnya, dia menatap heran kenapa bosnya membawa kotak bekal.


"Briel, aku tadi ketika pulang dari panti dan dibawakan bekal sayur oleh Bu Siti." Jawab Sky yang membuka dan menyodorkannya kearah Gabriel.


Gabriel masih meneliti, sayur asing yang belum pernah dia temui.


"Sayur apa ini Tuan?" Tanya Gabriel.


"Aku tidak tahu, tapi seperti terong belanda. Rasanya sangat enak." Ucap Sky dengan penuh tipu muslihat.


"Lalu kenapa Tuan memberikannya padaku jika suka?" Tanya Gabriel heran.


"Ck, kamu ini sudah aku anggap saudaraku sendiri. Tentu saja aku harus berbagi sesuatu yang enak bukan. Aku sengaja meminta Bu Siti untuk membungkus sayur itu." Jawab Sky dengan merengut kesal.


"Apakah Nona Putri juga enak Tuan?" Tanya Gabriel bodoh.


...**...


PROMOSI NOVEL, SILAHKAN MAMPIR.