Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Bintang dan Jackson : Lingeri Merah


Happy Reading 🌹🌹


"Termasuk suamimu?" Tanya Dokter Isam.


"Ya, termasuk suamiku." Jawab Celine tegas.


Celine kemudian melangkah melewati Dokter Isam yang ada di depannya.


Grep


Pertelangan tangan Celine dipegang oleh Isam, "Aku mencintaimu." Ucap Dokter Isam dengan menoleh kearah Celine.


Celine terpaku "Maaf aku mencintai suamiku." Jawab Celine kemudian melepaskan cekalan tangan Dokter Isam.


Celine berlalu begitu saja, dia tidak ingin menanggapi lebih jauh pembicaraan yang sudah seharusnya dia hindari.


Sedangkan Dokter Isam, masih terdiam ditempatnya yang mendengar penolakan Celine.


Celine membuka pintu ruangannya dan segera menutupnya dia berjalan ke arah meja dan bertumpu dengan kedua tangannya.


"Hah, dasar gila." Cicit Celine pelan.


Indra penglihatan Celine melihat sebuah amplop coklat lagi, dengan jantung yang berdegup kencang. Celine membuka amplop secara perlahan.


Deg


Jantung dan hati Celine serasa di remas, tangannya gemetar dan matanya sudah berkabut.


Terlihat gambar seorang wanita dan suaminya memegang lingeri merah, Celine tahu persis jika lingeri itu sama persis seperti yang dia kenakan tempo hari.


Ya, Mawar wanita licik tersebut sangat mempersiapkan semuanya agar tujuannya tercapai. Dengan dukungan dari Dark membuat Mawar leluasa bergerak menekan Celine.


Celine membalik foto tersebut yang bertuliskan kalimat menjijikkan bagi Celine, air mata Celine luruh ketika membacanya.


"Bagaimana pilihan lingeriku, pasti sangat menggairahkan bukan. Begitu juga ketika Rex dan aku berada di atas tempat tidur, suamimu benar-benar pemain ranjang yang hebat."


Celine luruh ke lantai, dia menangis sesenggukan bahkan dadanya terasa terhimpit bebatuan besar.


"Kenapa kamu jahat Rex." Ucap Celine yang masih terus menangis.


Cukup lama Celine menangis hingga dia tertidur di atas lantai.


Dokter Isam yang akan pulang, melihat mobil Celine masih berada di parkiran. Dia berfikir mungkin Celine lembur atau pulang terlambat.


"Jangan pedulikan dia lagi Isam." Ucap Isam pada dirinya sendiri.


Isam masih terdiam di kursi mobilnya, terlihat dia menompang dagu di atas stir mobil.


"Kenapa dia tidak keluar-keluar." Ucap Isam pelan.


Ya, Dokter Isam memutuskan untuk menunggu Celine pulang karena dia belum terima dengan jawaban Celine.


Sudah hampir tengah malam Celine belum keluar, Dokter Isam segera turun dari mobil dan kembali. masuk ke Rumah Sakit.


Banyak perawat yang menyapa Dokter Isam ketika melewati koridor-koridor Rumah Sakit menuju ruangan Celine.


Kini Dokter Isam sudah sampai di depan pintu ruangan Celine, dia mengetuk pintu beberapa kali tidak ada jawaban.


Cklek


"Tidak di kunci."


Dokter Isam membuka pintu perlahan takut menganggu Celine jika benar masih di dalam, netra Isam melebar melihat Celine tergeletak di lantai.


Isam lari dan membalikkan Celine, dia menepuk pipi Celine beberapa kali.


"Celine... bangun, Celine!" Seru Isam panik.


Tidak ada jawaban, segera Dokter Isam menggendong Celine menuju sofa panjang di ruangan tersebut.


Setelah memeriksa keadaan Celine, ternyata Celine pingsan dan Dokter Isam sudah memasang infus untuk Celine.


Terlihat wajah cantik dan pucat tergolek lemah di sofa hitam itu, "Ada apa denganmu Celine." Gumam Dokter Isam lirih.


Dokter Isam mendekati amplop dan selembar foto, matanya menyincing.


"Bukankah ini... suami Celine."


Dokter Isam menolehkan kepalanya dan melihat ke arah Celine, "Apa kamu sakit karena pria breng*sek ini? Aku pastikan dia tidak akan bisa menyakitimu Celine." Ucap Dokter Isam dalam hati.


Dokter Isam tersulut emosi karena melihat wanita yang dia cintai sakit hanya karena suami yang berselingkuh, Terlebih Isam mendapati keadaan yang asing di dalam diri Celine.


Meskipun Dokter Isam bukan dokter kandungan, tetapi dia sangat yakin ada sesuatu pada diri wanita tersebut.


Sedangkan Rex yang mendapatkan kabar dari bodyguard bayangannya segera meluncur ke Rumah Sakit.


Rex masih mencoba menghubungi istrinya lagi, Rex yang tengah berada di markas langsung berlari meninggalkan pekerjaannya.


Telihat jalan raya yang sudah sepi hanya beberapa mobil ataupun sepeda motor yang melintas.


Rex menyetir dengan cemas, dia terus melaju dengan cepat hingga akhirnya Rex mengerem mendadak dan membuat dahinya terluka.


Ciiitttt.


Brak.


Rex mengangkat kepalanya dan segera keluar memastikan apa yang terjadi.


Terlihat wanita yang bersimbah darah di jalanan aspal tersebut.


Rex segera membawa wanita tersebut masuk ke dalam mobil menuju Rumah Sakit.


Kini Rex sudah sampai di Rumah Sakit, segera menyerahkan wanita yang dia tabrak kepada perawat dan dokter.


Rex berlari menuju ruangan Celine setelah dirinya menanyakan letak ruangan Celine kepada perawat.


Brak!


Dengan nafas terengah-engah, Rex berhenti setelah membuka pintu ruangan Celine dengan kasar.


"Apa yang kamu lakukan!" Seru Rex yang menghajar Dokter Isam hingga tersungkur di lantai.


Ya, Rex melihat Celine duduk di sofa dengan tangannya berpegangan tangan dengan Dokter Isam. Membuat Rex tersulut emosi sehingga dia berjalan cepat dan menghajar Dokter Isam.


"Rex!!" Seru Celine yang kaget dengan kejadian tersebut.


Rex menatap tajam kearah Celine, terlihat wajah wanita yang dia cintai.


"Apa ini yang kamu lakukan di tempat kerja Celine." Ucap Rex dingin dan tajam.


Mata Celine kembali memanas, baru mendapati kenyataan yang menyakitkan harus tersakiti lagi dengan ucapan suaminya.


"Hei bung, istrimu tengah sakit. Tetapi kamu sebagai suami malah menuduhnya yang tidak-tidak." Ucap Dokter Isam yang sudah berdiri.


"Aku tidak butuh jawabanmu." Jawab Rex dingin.


"Ayo kita pulang." Rek menarik Celine dan membawa sisa infus yang masih mengalir melalui selang.


"Apa kamu gila!" Dokter Isam berteriak di ruangan tersebut.


"Kamu boleh marah tapi lihat kondisi Istrimu!" Dokter Isam merebut infus dan membawa Celin kembali duduk.


Dengan cekatan Dokter Isam menghentikan darah yang mengalir di punggung tangan Celine, sedangkan Rex dengan tangan mengepal dan perasaan marah meninggalkan ruangan tersebut.


Air mata Celine yang sudah dia tahan sejak. tadi akhirnya luruh juga, Dokter Isam tetap menghentikan darah tersebut meskipun punggung tangannya terkena air mata Celine.


Celine menangis dalam diam, bahkan rasa perih dari jarum yang sedikit terkoyak dari punggung tangannya sudah tidak terasa tergantikan rasa perih di hatinya.


Rex yang berjalan dengan cepat harus menghentikan langkahnya ketika seorang perawat memanggilnya.


"Tuan, pasien yang Anda bawa sudah sadar." Ucap perawat tersebut dengan sopan.


Rex mengangguk dan mengikuti langkah perawat menuju wanita yang dia tabrak.