Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Membawa Kabur


...Maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisannya....


...Jangan lupa like, vote dan hadiahnya....


Happy Reading 🌹🌹


Sudah tiga hari Putri berada di Rumah Sakit Y, selama tiga hari pula Sky tidak pulang dan setia mendampingi istrinya.


Lalu siapa yang mengurus perusahaan Gandratama? Tidak lain tentu saja Gabriel sebagai tumbalnya.


Hari ini Putri sudah diperbolehkan untuk pulang, terlihat Ambar dan Bulan tengah merapikan perlengkapan Putri. Sedangkan Sky memeluk perut istrinya dengan sayang sambil duduk di kursi.


"Puas-puaskanlah kamu memeluk menantu Mama, setelah ini kamu langsung pulang saja tidak perlu mengantar Putri hingga kerumah utama Wiratama." Ucap Ambar pada anaknya.


Wajah Sky semakin di tekuk, bibirnya sudah maju seperti bebek. Dia mendongak menatap wajah istrinya seakan menolak ucapan Mamanya.


Tetapi Putri tampak tenang dengan memakan roti coklatnya, tidak memperdulikan tatapan mengiba suaminya.


"Ayo sayang kita pulang, semuanya sudah seleaai." Ucap Bulan pada anaknya.


Putri mengangguk dan melepaskan pelukan suaminya untuk turun dari brangkat Rumah Sakit tersebut.


"Mah, biarkan Sky yang mengantar." Ucap Sky memohon.


"Sudah kami sama mang Ujang, kamu lebih baik bekerja saja." Jawab Ambar ketus.


"Mah, Sky mohon... Sky janji akan langsung ke kantor." Bujuk Sky kepada Mamanya.


"Sudah jeng, biarkan Sky mengantar Putri. Bagaimanapun dia lebih berhak atas Putri daripada kita." Ucap Bulan pada Ambar.


"Ck, jika aku punya suami seperti pria tua itu. Aku tendang burung gagaknya itu sampai mati." Dengus Ambar yang masih jengkel dengan perilaku Sky.


Secara otomatis Sky menutupi asetnya dengan kedua telapak tangannya, baru mendengarkannya saja sudah terasa ngilu apalagi jika ditendang beneran oleh Mamanya.


Bulan yang mendengarkan ucapan sahabatnya hanya terkekeh geli, segera Bulan menggandeng Putri untuk berjalan keluar agar dapat segera beristirahat dirumah.


...**...


Sedangkan kini Bintang terlihat resah karena sudah beberapa minggu lamanya dia mendapatkan kiriman bunga setiap harinya.


Terselip kartu ucapan permintaan maaf dan juga ungkapan cinta, yang membuat Bintang bingung siapa gerangan pengirim bung tersebut.


Seperti pagi ini, Bintang mendapatkan beberapa tangkai bunga lily putih dengan ucapan selamat pagi didalamnya.


"Pak, dari toko bunga mana yang mengirimkannya?" Tanya Bintang kepada penjaga.


"Saya tidak tahu Non, bapak menemukannya sudah berada di pos satpam belum pernah bertemu dengan pengirim bunganya." Jawab penjaga gerbang jujur.


Bintang semakin gundah tetapi terbesit di pikirannya apakah Jackson yang mengirimkannya bunga, tapi segera dia tepis. Tidak mungkin karena dia ingat ucapan Intan yang mengatakan jika Jackson sudah memiliki istri.


"Lupakan pria brengsek itu Bintang, anakmu tidak butuh pria pengecut seperti dia." Ucap Bintang menyemangati dirinya sendiri.


Dengan penuh semangat, Bintang segera menata bunga yang baru saja dia dapatkan dengan senang hati.


Sedangkan di negara sebelah.


Terlihat Jackson sudah berangsur membaik keadaannya. Tidak ada lagi wajah sayu, lingkar mata yang hitam dan juga jarum infus yang menemani hari-harinya.


"Tuan, apakah Anda yakin sudah sehat?" Tanya Rex kepada atasannya.


"Sudah Rex, sepertinya anak-anakku sudah selesai menghukum Dady mereka." Jawab Jackson dengan senyum lebar.


Beberapa pekan lalu, Bintang memeriksakan dirinya di salah satu Rumah Sakit di kotanya. Seperti biasa orang suruhan Jackson dengan mudah mendapatkan informasi tentang aktivitas Bintang.


Ternyata Bintang tidak hanya hamil satu anak tetapi dua anak sekaligus, dengan bangga Jackson memamerkannya kepada Rex jika tembakannya menghasilkan dua keturunan Jackson.


Rex yang mengetahuinya mengucapkan selamat dengan tulus, tetapi dia berdo'a semoga anak-anak dari bosnya tidak akan menyusahkan kedepannya.


"Ya tuan, mungkin mereka merasa kasihan terhadap Anda." Jawab Rex seadanya.


"Rex kapan kita akan pergi ke negara calon istriku?" Tanya Jackson yang sudah siap berangkat bekerja.


"Mungkin satu bulan lagi Tuan, perkiraan itu tepat di bulan dimana Nyonya Bintang akan melahirkan." Jawab Rex dengan menjelaskannya.


"Bagus Rex, aku akan kesana mendampingi calon istriku melahirkan." Jawab Jackson yang semakin berseri-seri.


Jackson sudah tidak sabar bertemu dengan wanita pujaan hatinya, dia sudah merencanakan pertemuannya dengan keluarga Bintang dan berniat mempersunting ibu muda tersebut.


Tanpa Jack dan Rex sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka, dengan hati yang menahan gemuruh orang tersebut segera berlari keluar dari rumah mewah itu.


...**...


Sky dan rombongan sudah keluar dari arah Rumah Sakit Y, dengan segera Sky menggandeng Putri menuju mobil yang biasa mereka tumpangi.


"Eh, mau kemana kamu membawa Putri Sky." Ucao Ambar dengan nada penuh penekanan.


"Katanya mau kerumah utama, Sky membawa mobil sendiri kemarin. Jadi biarkan Sky memuaskan diri berduaan dengan istri Sky Mah," Jawab Sky dengan wajah memohon.


"Sudah jeng... kalian hati-hati jangan mengebut ya ingat Putri sedang hamil muda." Jawab Bulan pada menantunya.


Sky mengangguk, kemudian membukakan pintu untuk istrinya. Sky berlari memutari mobil menuju pintu yang lainnya.


Terlihat Sky mengajak Putri keluar dari kota, "Mas ini bukan jalan pulang," Ucap Putri seakan dejavu dengan keadaan ini.


"Iya sayang, Mas inginmembawamu kabur, Mas ingin mengajakmu honeymoon. Sepertinya kita belum melakukannya semenjak menikah. Biarkan Mas membebaskan kamu dari nenek lampir itu." Jawab Sky dengan tersenyum lebar karena rencananya berhasil.


Sky sehari sebelumnya sudah menyiapkan rencana pelarian diri bersama Putri, karena dia mendengar para calon nenek anaknya tidak akan memperbolehkan Sky tidur bersama istrinya.


Tidak mungkin buaya Sky harus berpuasa lagi, terlebih Sky selama ini menahan rindu kepada istrinya. Karena sikap egoisnya membuat dirinya berjauhan dengan Putri.


"Mas! Dia juga ibumu, lalu kemana kita akan pergi." Jawab Putri dengan memukul lengan Sky yang mengatai nenek lampir pada mertuanya.


Sky hanya terkekeh, "Aku menyewa sebuah villa di pinggir pantai sayang. Apa kamu suka?" Tanya Sky dengan melihat ke arah Putri sebentar karena dia tengah menyetir.


Putri mengangguk dengan semangat, "Kita nanti disana bisa jalan-jalan seperti di film-filmkan mas?" Tanya Putri antusian.


"Tentu saja bisa sayang, kita bisa berjalan-jalan di pinggir pantai melihat sunset dan sunrise dari balkon villa dengan saling berciuman." Ucap Sky dengan menaik turunkan alisnya.


"Ish, dasar mesyum kamu Mas." Jawab Putri mencebik.


Sky tertawa, dia bahkan merencanakan sesuatu hal yang lebih gila dari apa yang dibayangkan Putri.


Sedangkan kini di kediaman Wiratama, Ambar dan Bulan tengah menunggu kedatangan anak menantunya. Sudah hampir satu jam tetapi mereka belum sampai.


"Bulan, kenapa mereka lama sekali sih." Ucap Ambar kesal.


"Aku juga tidak tahu Mbar, sepertinya jalanan juga tidak macet." Jawab Bulan apa adanya.


"Awas saja jika anak durhaka itu sampai, akan aku getok kepalanya pakai gagang pel." Ucap Ambar bersungut-sungut.


"Sudahlah Mbar, kenapa akhir-akhir ini kamu sering marah terhadap Sky. Apa kamu hamil lagi?" Tanya Bulan menyelidik.


Buk


Bantal sofa melayang ke arah Bulan, "Mana bisa aku hamil lagi Bul, sudah monopouse." Sungut Ambar pada sahabatnya.


Bulan tergelak, "Tetapi sifatmu seperti orang hamil, seharusnya Putri yang seperti itu bukan kamu Mbar." Jawab Bulan dengan tertawa lebar.


"Aku terlalu kesal dengan Sky, bagaimana bisa pria tua itu meninggalkan Putri hampir satu bulan sendirian Bul. Ingin aku jadikan perkedel rasanya anak itu." Keluh Ambar menggebu-gebu.


Bulan hanya menanggapi ucapan Ambar dengan kekehan saja, karena dia rasa Ambar akan terus menyalahkan Sky.


...**...


PROMOSI