
...Jangan lupa like dan sesajennya teman-teman....
Happy Reading 🌹🌹
Saat ini Sky tengah duduk dikursi kebesarannya, terdengar seseorang tengah mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk." Jawab Sky datar.
Terlihat Gabriel masuk dan diikuti oleh Doni juga Bulan.
Sky segera berdiri dan menatap asistennya seakan ingin mendapatkan jawaban.
"Tuan, Tuan Doni dan Nyonya Bulan ingin berbicara penting dengan Anda." Ucap Gabriel dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Sky mempersilahkan kedua pasangan, lebih tepatnya adalah mertuanya sendiri.
"Ada apa, Tuan dan Nyonya sampai jauh-jauh datang kekantor Saya." Ucap Sky dengan tenang.
Doni memandang Sky kemudian bergabtian memandang Gabriel. Sedangkan istrinya seperti orang yang tidak sabaran.
Sky paham dengan arti tatapan Doni, "Tenang saja Tuan, Gabriel akan menjadi patung disini. Jadi tidak perlu dihiraukan." Ucap Sky dengan melirik sinis ke arah asistennya.
Gabriel hanya mendengus kesal didalam hati, dasar bos lacnat! Awas saja kamu akan dianggap patung oleh Putri. Gerutunya didalam hati.
"Nak Sky, apakah kami dapat bertemu dengan istrimu?" Tanya Bulan dengan cepat.
"Untuk apa Nyonya, bukankah terakhir kali pertemuan kalian tidak meninggalkan bekas yang baik." Jawab Sky dengan datar dan dingin.
Bulan menundukkan kepalanya, hanya dapat mengucapkan kata maaf dengan suara yang lirih.
Doni segera mengeluarkan amplop dan menyerahkan hasil DNA yang sudah dia persiapkan sebelum menemui Sky.
Sky segera menerima dan membukanya, bahkan Gabriel yang kepo juga segera mendekat agar dapat membacanya bersama.
(duh, serasa anak TK kalo lagi baca buku bareng 😂)
Jadi mereka sudah tahu dan menyelidikinya terlebih dahulu. Pikir Sky dan Gabriel secara bersamaan.
"Bagaimana kalian bisa meragukan Bintang, sebagai putri kandung kalian." Kata Sky dengam meletakkan kembali kertas hasil tes DNA tersebut.
"Apa kamu ingat, ketika Bintang melakukan percobaan bunuh diri beberapa bulan lalu. Ketika pertunangan kalian batal. Dia kekurangan darah, dan tidak ada salah satu darah kita yang cocok dengannya. Sehingga kami melakukan tes DNA." Jelas Doni dengan nada sendu.
"Lalu, apa hubungannya dengan Putri istri saya Tuan Doni." Tanya Sky dengan menatap datar keduanya.
"Karena dia adalah anak kandung kami." Jawab Doni lirih.
Gabriel dan Sky tidak kaget dengan jawaban yang mereka dengar, karena memang itu kenyataannya.
"Apa buktinya jika istriku adalah anak kandung Anda." Ucap Sky datar dengan punggungnya bersender disofa.
"Kalung... kalung keluarga Wiratama yang hanya diberikan kepada menantu keluarga. Kalung dengan liontin Bintang dengan permata ditengahnya." Bulan menjawab dengan semangat.
"Nyonya, pasti banyak duplikat kalung seperti yang Anda bicarakan." Sergah Sky, dia ingin tahu segigih apa perjuangan kedua mertuanya tersebut.
"Tidak... kalung keluarga itu sangat spesial. Ada sesuatu dikalung itu, tetapi aku belum dapat memecahkannya." Jelas Doni dengan wajah lesu.
"Tolong Nak, pertemukan kami dengan putri kandung kami." Ucap Bulan dengan nada memohon dan wawah memelas.
Sky segera menegakkan duduknya, "Aku akan bicarakan ini dengan istriku, karena Putri belum mengetahui kebenarannya jika dia bukan anak yatim piatu." Jawab Sky dengan rasa hormat kepada keduanya.
"Ap... apa kamu tau sesuatu Sky?" Tanya Doni dengan menatap curiga.
Sky hanya mengangguk, "Sebenarnya siapa musuh keluarga kalian, bahkan sampai Ibu panti dan Kakek Gunawan harus mempertaruhkan nyawanya demi melindungi anak kalian." Ucap Sky dengan menuntut jawaban.
"Kami juga tidak tahu Sky. Kamu tahu, Kakek meninggal ditempat karena kecelakaan. Kasus itu juga tidak bisa dilanjutkan, karena memang murni sebuah kecelakaan." Jawab Doni dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Bulan sudah menangis, seakan serentetan kejadian dimasalalu dan sekarang bermunculan diotaknya.
Dari pertama dia menikah dengan Doni, menjalani kehamilannya yang selalu terancam keguguran, dan kematian ayah mertuanya.
"Sky, apakah anakku akan berada diposisi yang berbahaya. Jika sampai dia mengetahui kenyataannya?" Tanya Bulan tanpa berani menatap kearah Sky.
"Saya juga tidak tahu Nyonya." Sky menghela nafasnya.
...**...
Didalam ruangan, tengah duduk berhadapan anatara Dave dan Putri.
"Ada perlu apa Pak Dave, apakah ada tugas dari kami yang kurang?" Tanya Putri dengan sopan.
"Panggil saja Dave, umur kita tidak terlalu terpaut jauh." Dave tidak menjawab pertanyaan dari Putri.
"Tetapi itu tidak sopan, Anda adalah dosen Saya dikampus ini. Terlebih memang Anda jauh lebih tua umurnya diatas saya." Jawab Putri yang mulai merasa jengah.
"Apa aku harus mengundurkan diri jadi dosen, agar kamu dapat memanggil namaku tanpa embel-embel pak." Jawab Dave datar. Dia masih merasa kesal dengan kejadian diswalayan tadi.
"Deal, ayo temani aku makan." Tanpa menunggu jawaban dari Putri, Dave segera menariknya untuk berdiri.
Putri langsung melepas cekalan tangan Dave, "Maaf, ini area kampus dan saya sudah memiliki suami." Jawab Putri datar dan berjalan meninggalkan Dave sendiri.
Dave menghirup udara sebanyak-banyaknya, dia harus meredam emosinya.
Putri berjalan dengan menggerutu sepanjang jalan menuju kelasnya, bahkan bibirnya sudah seperti salah satu ekor unggas yaitu bebek.
Hingga tubuhnya terhuyung kebelakang dan terjatuh.
"Apa kau tidak punya mata, hah!!!" Seru seorang gadis yang menatap nyalang kearah Putri.
Putri menegakkan kepalanya, ternyata dia bertabrakan dengan Bintang. Kini posisi keduanya sama-sama terjatuh dilantai, buku yang dibawa Bintang juga berserakan.
"Maaf," Jawab Putri dengan membantu memungut buku Bintang.
"Singkirkan tangan kotormu!! Aku tidak sudi buku-buku itu tercemar dengan virus ja/ngmu!" Ucap Bintang dengan bersungut-sungut mengambil bukunya dengan kasar.
Mata Putri berembun, dia mengigit bibir bagian dalamnya. Seharusnya aku yang berada diposisimu, seharusnya aku tidak perlu hidup sudah, seharusnya kamu yang berada diposisiku! Seru Putri didalam hatinya.
Bintang segera berdiri, dan melangkah meninggalkan Putri dengan sedikit menginjak jarinya.
Putri memejamkan matanya, hingga air mata yang dia bendung akhirnya menetes dimata indahnya.
Kejadian tersebut, banyak disaksikan oleh para mahasiswa yang lainnya. Tetapi mereka seakan tutup mata dengan kejadian tersebut.
Dari kejauhan, Dave melihat kejadian tersebut. Segera dirinya melangkah meninggalkan Putri dan segera mengejar gadis yang telah memaki wanita pujaannya.
Tubuh Bintang terhuyung kebelakang hingga membetur tembok, "Apa kau gila!!" Serunya dengan orang tersebut.
Terlihat seorang pria tampan, berkulit putih, dan tubuh tinggi. Tetapi pandangan orang tersebut tidak ramah terhadap Bintang.
"Siapa kamu." Lanjut Bintang lagi.
"Aku peringatkan, jangan pernah lagi kamu menyakiti Putri atau aku yang akan menghabisimu!" Ancam Dave pada gadis tersebut dengan sorot mata tajam.
Karena Putri dan Bintang hanya satu kampus, tetapi beda jurusan. Sehingga Bintang tidak mengenal Dave.
Senyum sinis tercetak jelas dibibirnya, "Eih, apa dia ja/ngmu. Cih, tidak perlu sok menjadi pahlawan lebih baik kau beri tahu ja/ngmu itu agar keluar dari kampus ini." Jawab Bintang dengan nada mengejek.
Tangan Dave terulur dan memegang leher Bintang, dia tidak terima gadisnya direndahkan seperti itu.
Bintang memukul-mukul tangan yang tengah mencekiknya, bahkan wajahnya sudah memerah karena kekurangan oksigen.
"Apa kau ingin mati, aku akan mempercepat kematianmu." Ucap Dave datar dan dingin.
Bintang menggeleng, dia sudah menangis seakan sorot matanya memohon.
"Berjanjilah, kau akan menjauhi Putri dan tidak mengganggunya lagi." Lanjut Dave.
Dengan cepat kepala Bintang mengangguk, Dave segera melepaskannya. Bintang amburk dan terbatuk-batuk dia menatap tajam kearah pria tersebut.
Dave berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Bintang, tangannya terulur menyelipkan rambut panjang itu kebelakang telinga.
Sedetik kemudian Dave menjambaknya dengan kasar sehingga membuat kepala Bintang sedikit mendongak keatas. Suara rintihan gadis itu Dave abaikan.
"Bintang, kau tau. Kamu hanyalah anak pungut jadi jangan banyak bertingkah. Jadilah anak baik." Ucap Dave berbisik ketelinga Bintang.
Bintang melebarkan matanya, dia menggeleng cepat.
"Tidak!! Aku adalah keturunan Wiratama satu-satunya." Jawab Bintang geram.
Dave melepaskan tangannya dengan kasar, "Ck... ck... ya bersenang-senanglah untuk saat ini, jika keturunan yang asli ditemukan. Kau hanya akan menjadi gelandangan dan sifat angkuhmu tidak akan berguna lagi." Jawab Dave, dengan segera dia berdiri dan berjalan meninggalkan Bintang.
Beruntung tempat mereka berdebat sepi, karena dibelakang kampus. Tidak ada CCTV yang menjangkau mereka.
Tubuh Bintang gemetar, kepalanya menggeleng dan luruh airmatanya.
"Tidak... aku adalah anak kandung Mama dan Papa!!" Seru Bintang dengan mejambak rambutnya sendiri.
Tanpa disadari oleh Bintang, kejadian terakhir direkam oleh seorang gadis. Gadis tersebut tersenyum sinis kearah Bintang.
"Eih, anak pungut. Aku beri judul apa ya video ini, anak pungut rasa anak kandung." Gumam gadis tersebut dengan tersenyum girang.
...**...
...AYO READERS KIRA-KIRA VIDEO ITU MAU DIBERI JUDUL APA 😁...
...FEELNYA DAPET SIH PAS DAVE MARAH UDAH KAYA PSIKOPAT...
...AUTOR BARU SEMEDI TIDAK ADA YANG MENGGANGGU...