
Happy Reading 🌹🌹
Mendengar jawaban Putri, Sky menyipitkan matanya. Seakan dia tidak percaya dengan jawaban yang diberikan oleh gadis yang tengah dia tatap.
"Maaf aku lama." Ucap seorang gadis cantik yang seumuran dengan Putri.
"Apa aku salah meja? Sepertinya tidak, kalian berdua siapa?" Tanya Rose yang tengah menjadi pusat perhatian.
"Rose duduklah dulu." Ucap Putri seraya menarik temannya untuk duduk.
Tadi, setelah memesan makanan tidak lama Rose pamit kekamar mandi untuk menuntaskan sesuatu, dia membawa serta tasnya karena alat tempurnya berada didalam tasnya.
Apalagi jika bukan make up, dia tidak ingin terlihat jelek didepan pria yang dia kagumi yaitu Dave.
Sepeninggalan Rose, Dave dan Putri hanya diam bagaikan tugu monjali. Akhirnya Dave memulai pembicaraan, hingga sampailah ditopik yang membuat Putri tertarik bahkan sesekali mereka bercanda.
Dalam hati Dave, dia sangat gembira karena dapat bercengkrama seperti dulu ketika kecil. Ya, meskipun seperti orang asing setelah dewasa.
Senyum Dave tidak pernah luntur, dia ingat itu adalah senyuman yang bahagia. Dimana dulu gadis itu sangat bahagia karena kedatangannya, ketika dia memakan ice cream kesukaannya.
Ingin sekali Dave berteriak jika dia adalah Danu teman kecilnya dulu. Tetapi Dave merasa ini bukan waktu yang tepat.
Dave Danuarta, bertemu gadis kecil disebuah panti asuhan karena ibunya sering mengajaknya kesana.
Dia melihat gadis kecil yang asik bermain boneka sendiri dibawah pohon, karena penasaran akhirnya dia mendekati dan mencoba berkenalan dengannya.
Ternyata gadis itu sangat periang, bahkan mereka cepat akrab meskioun baru berkenalan. Dave memperkenalkan dirinya ke gadis kecil itu dengan nama Danu yang dia ambil dari nama keluarga ayahnya Danuarta.
"Siapa dua pria tampan ini?" Tanya Rose dengan mata yang berbinar seakan dia tidak pernah melihat pria tampan.
Putri bingung akan menjawab apa, tidak mungkin dia mengaku jika sudah menikah.
"Ini adalah temanku Sky, dan pria disanpingnya adalah Gabriel." Jawab Dave yang seakan tahu kebingungan Putri.
"Wah, memang benar ya. Jika orang tampan teman-temannya juga tampan." Jawab Rose yang memandang ketiga pria itu satu persatu.
Kenapa gadis ini tidak menjawab jika aku suaminya, apa dia malu memiliki suami sepertiku. Tidak mungkin! pasti dia merasa minder karena berdampingan dengan pria tampan sepertiku. Gerutu Sky dengan kesombongan yang mendarah daging.
Gabriel dari awal hanya sebagai penonton drama dimeja makan tersebut, dia hanya sebagai pengamat.
Apakah akan ada cinta segitiga. Aku harap tidak ada perang dunia keempat. Gumam Gabriel dalam hati.
...**...
Kini pesanan mereka telah disajikan, Gabriel sudah sempat memesan ketika mereka mencari tempat duduk.
Putri menyerengitkan dahinya, didepannya sudah ada steik. Tetapi dia tidak merasa memeaannya.
"Ada apa Put?" Tanya Rose yang melihat temannya hanya mengamati makanannya.
"Ah, tidak. Aku hanya merasa tidak memesan makanan ini." Jawab Putri lirih.
Diamnya Putri bukan karena dia tidak suka dengan makanan lezat didepannya, tetapi dia mengamati cara yang benar untuk memotongnya.
"Ini tadi aku yang pesankan, kamu harus merasakan steik disini. Karena restoran ini terkenal dengan kelezatan steik mereka." Jawab Dave sembari menukar piring miliknya dengan piring Putri.
Sky yang melihatnya langsung melotot kearah Dave, seakan memberikan peringatan.
Dave pura-pura tidak tahu, dia menganggap keberadaan Sky dan Gabriel kasat mata.
Rose yang melihat perhatian Dave terhadap temannya hanya menatap aneh.
"Ti... tidak perlu pak." Jawab Putri sungkan dengan sesekali melirik kearah Sky.
"Tidak apa-apa, makanlah. Aku memang sengaja memotong-motongkan daging itu untukmu." Jawab Dave yang penuh penekanan seakan dia mengibarkan bendera perang.
Gabriel dibuat melongo dengan ucapan absurd Dave, dia melirik kearah Putri dan Sky.
Jangan sampai Tuan Dave menaruh hati terhadap Nona, Tuan Sky masih bodoh belum menyadari perasaannya. Gerutu Gabriel dalam hati.
"Terima kasih pak." Jawab Putri dengan malu-malu.
Cih, lihat-lihat. Pipi gadis itu merona merah, apa karena sebuah daging dia sebahagia itu. Bahkan aku bisa membelikan dia satu peternakan besar. Gerutu Sky yang tidak suka melihat gadis itu tersipu malu.
Rose dan Gabriel merasa suasana dimeja makan menjadi ajang mencuri perhatian, pandangan keduanya bertemu seakan berkomunikasi jika ini tidak ada yang benar.
Sedangkan gadis yang menjadi pusat kedua pria tampan itu masih belum menyadari persaingan yang dimakhsud oleh Rose dan Gabriel.
Dia terlihat sangan senang dan lahap memakan daging pemberian dari Dave, sungguh baru kali ini dia memakan daging seenak ini.
Hingga akhirnya kaki Sky menyenggol kaki Putri agak keras sehingga membuat gadis itu tersedak.
Otomatis Dave dan Sky menyodorkan minum kearah Putri.
Putri masih terbatuk-batuk sesekali dia menukul dadanya, segera dia menerima minuman dari Sky tanpa dia sadari.
Karena rasa panas yang menyeruak di dada dan tenggorokannya, dia meminum sampai habis air dalam gelas tersebut.
Dave yang melihat itu hanya dapat mencengkram kuat gelas yang masih dia pegang.
Sky merasa diatas angin, karena gadis kecil itu lebih memilih air minum yang dia tawarkan. Dia menyunggingkan senyum sinis kearah Dave.
"Pelan-pelan Put." Ucap Rose dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"Iya, terima kasih Rose." Jawab Putri.
"Apa kamu baik-baik saja Put?" Tanya Dave dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa Pak, ini karena makanannya terlalu enak sehingga membuat saya terlalu cepat ingin menghabiskannya." Jawab Putri dengan melirik kearah Sky.
Sky acuh terhadap semua orang, dia cukup senang karena gadis itu masih memilih pemberiannya.
Sky makan dengan elegant tidak ada lagi drama memotong daging seperti akan memutasi manusia.
Gabriel menghela nafasnya panjang, sudah dapat dipastikan pasti akan mulai persaingan antara Sky dan Dave.
Kini mereka telah selesai makan, mereka beriringan menuju parkiran.
"Put, aku tidak bisa pulang bersamamu dan pak Dave. Karena aku sudah dijemput oleh sopirku." Ucap Rose dengan menunjuk salah satu mobil.
"Em, baiklah tidak apa-apa. Aku juga akan oulang sendiri naik bis, kamu hati-hati pulangnya." Jawab Putri dengan tersenyum kearah Rose.
Rose mengangguk dan melenggang pergi dari restoran teraebut.
"Put, ayo aku antar pulang." Ucap Dave pada gadis yang berada didepannya.
"Tidak perlu Pak, saya akan pulang sendiri." Jawab Putri sungkan.
"Tidak apa-apa, karena aku yang mengajakmu kesini. Aku akan bertanggung jawab untuk mengantarkanmu sampai dirumah." Jawab Dave yang masih bersikukuh untuk dapat berduaan dengan gadis pujaan hatinya.
"Ekhm, aku rasa kamu tidak perlu repot-repot mengantarkan istriku Dave. Kamu lihat aku disini." Ucap Sky datar.
"Ya benar, tetapi aku dan Putri ada yang perlu dibicarakan. Karena dia asdosku." Jawab Dave tak kalah datar.
Sky menoleh kearah Putri untuk meminta jawaban, jika benar berarti Putri akan lebih banyak waktu berdua dengan Dave.
"Maaf pak Dave, sepertinya tidak bisa. Karena saya harus segera pulang bersama suami saya." Jawab Putri menolak secara halus.
Sungguh menggelikan dia mendengar kata istri dan suami, mengingat kontrak satu tahun. Putri harus bersandiwara sebaik mungkin.
"Baiklah, kita akan bertemu lagi minggu depan." Jawab Dave dengan mengacak-acak rambut Putri dengan gemas.
Sky mencekal pergelangan tangan Dave, "Jangan menyentuh istri orang sembarangan Dave, jika aku dulu berbagi denganmu tetaoi tismdak dengan yang satu ini." Ucap Sky penuh penekanan.
"Baiklah... baiklah... aku menibta maaf bro. Kau sangat posesive sekali." Jawab Dave dengan tertawa renyah tetapi mengandung kecemburuan.
...**...
...Jangan lupa likenya teman-teman...
promo novel