Pernikahan Kontrak Sang CEO

Pernikahan Kontrak Sang CEO
Edisi Bintang dan Jackson : Umpan


...Maaf jika author update babnya sudah tidak rutin seperti bulan-bulan lalu....


...Karena sekolah sudah mulai masuk 100% dan persiapkan Ujian Kenaikan Kelas, jd autor fokus membuat latihan soal untuk peserta didik 😗😗 demi kemajuan pendidikan negara kita tercinta ini....


Happy Reading 🌹🌹


Terlihat Jackson yang terlelap tidur di samping brangkar Bintang, dengan menggunakan lengannya sebagai bantal.


Bintang mulai menggerakkan bola matanya meskipun belum membuka mata, secara perlahan Bintang sadar.


Cahaya yang silau karena di atasnya tepat lampu dan di dukung dengan cat berwarna putih di sekelilingnya.


Selintas Bintang teringat dirinya di bawa lari ke Rumah sakit karena perutnya merasa sakit, tangan Bintang meraba perutnya yang sudah kempes dan perih.


"Achh... baby twins." Ucap Bintang yang sudah menangis.


Jackson yang mendengar suara tangis wanita segera bangun, dengan wajah bantalnya dan belum sadar seratus persen Jackson panik melihat istrinya menangis.


"Ada apa Honey?" Tanya Jackson dengan mata merah khas orang kurang tidur.


"Baby twins." Lirih Bintang yang masih meneteskan air mata.


Jackson menghela nafasnya "Tenang Honey, baby twins selamat. Mereka sedang tertidur, apa kamu mau melihatnya?" Tanya Jackson yang mengusap air mata Bintang.


Bintang mengangguk, segera Jackson menaikkan sedikit tempat tidur Bintang agar seperti orang bersandar.


Jackson berjalan menuju box bayi dimana putra pertamanya tertidur, dengan perlahan dan gendongan yang kaku. Jackson berusaha membawa putranya dengan selamat sampai pelukan Bintang.


Bintang menerima bayi merah itu dengan senyum penuh hari, matanya berkaca-kaca. Makhluk mungil dan lucu berasal dari dirinya.


"Dimana anak kita yang satunya?" Tanya Bintang heran.


Pandangan Bintang menyapu seluruh ruangan tersebut, hanya ada satu box bayi.


"Honey, putri kita sedang di rawat di tempat yang berbeda." Ucap Jackson mencoba memberikan pengertian.


"Kenapa?" Tanya Bintang dengan wajah sedih.


"Putri kita sedikit kurang sehat saja Honey, mungkin hanya beberapa hari saja dia akan berpisah dari kita bertiga. Nanti kita akan melihatnya apa kamu mau?" Tanya Jackson beruntun.


Bintang mengangguk, bayi dalam gendongannya menangis kencang. Bintang dan Jackson tersenyum melihat suara putra mereka.


"Anak Momy, pasti haus ya." Ucap Bintang dengan tersenyum.


Bintang sebelumnya sudah banyak membaca seputar ibu hamil, banyak artikel dan majalah yang dia baca. Karena Bintang bertekad, meskipun tidak bersama Jackson setidaknya dia harus merawat baby twins dengan sebaik mungkin.


Bintang tanpa sungkan membuka baju pasien yang berkancing dan mengeluarkan sumber nutrisi untuk anak-anaknya.


Jackson hanya menelan ludahnya susah payah, seharusnya selama satu bulan lebih aku masih dapat menghis*apnya, semua ini karena Dark! Gerutu Jackson dengan wajah memelas.


Bintang menimang anak pertamanya, "Apakah kamu sudah memberikan dia nama Honey?" Tanya Bintang tanpa melihat ke arah suaminya.


"Hem.. belum, autor belum terfikirkan namanya karena sedang sibuk membuat soal UKK." Jawab Jackson jujur.


Bintang mencebik "Autor kurang totalitas sekali, jika memberi nama pasti juga tidak keren. Suruh saja tanya dengan para readers setianya." Usul Bintang enteng.


"Benar juga, memang autor kita tidak kreatif memeberi nama. Aku akan menelfon autor agar membiarkan readersnya yang memberi nama baby twins." Jawab Jackson setuju.


Bintang mengangguk mantap, dia berharap readers autor Momy Ida lebih kreatif dalam memberi nama.


Setelah menyusui, Bintang tengah duduk di kursi roda yang digunakan dorong oleh Jackson. Baby twins sebelumnya sudah dititipkan kepada anak buah mereka.


"Tidak Honey, sebentar lagi." Jawab Jackson pelan.


Kini Bintang dan Jackson sudah berada di depan kaca transparan. Terlihat putri mereka yang tengah di dalam inkubator dengan beberapa peralatan kesehatan yang menempel di tubuh kecilnya.


Bintang mengelus pelan dinding kaca pembatas anatara dia dan putrinya, dengan jari tangan yang seakan membelai pipi putrinya.


Air mata Bintang jatuh begitu saja, Jackson mengusap pelan pundak istrinya.


"Jangan sedih Honey, nanti putri kita akan ikut sedih." Ucap Jackson dengan. mengecup ujung kepala Bintang.


Bintang mengusap air matanya dan tersenyum "Tidak, Momy tidak akan sedih cantik." Lirih Bintang dengan suara bergetar.


Jackson kembali. membawa Bintang ke kamarnya agar dapat beristirahat, disebabkan istrinya perlahan karena luka bekas caesar masih basah.


"Honey, aku akan menghubungi Rex dulu sebentar. Akan ada suster yang menemanimu merawat baby twins." Pamit Jackson kepada istrinya.


Jackson segera keluar dan menyuruh anak buahnya tidak memperbolehkan siapapun masuk kecuali dirinya dan dokter maupun perawat.


Segera Jackson menghubungi Rex, "Dimana." Tanya Jackson to the point.


"Dijalan baru saja membeli pakaian untuk Celine." Jawab Rex dengan menyetir mobil.


"Temui aku di markas." Jawab Jackson segera masuk kedalam mobil yang sudah di bawa oleh anak buahnya.


"Baik, setelah aku mengurus Celine. Aku akan kesana Jack." Ucap Rex.


Segera panggilan itu terputus, Jackson mengendarai mobilnya menuju markas sedangkan Rex kembali menuju ke Rumah Sakit.


Rex segera membantu Celine untuk mandi dan membantunya memakai bajunya, Rex terlihat mencium luka-luka yang ada di tubuh Celine.


"Rex, sebenarnya siapa yang ingin mencelakaiku?" Tanya Celin pelan.


Rex terdiam sesaat "Mereka hanya sekumpulan pria yang ingin merampokmu Honey." Jawab Rex beralasan.


"Kenapa mereka merampokmu, padahal mobil yang mereka gunakan tidak kalah bagus dengan mobilku." Jawab Celine semakin menuntut.


"Sudah ayo istirahat, agar kamu bisa segera pulang. Aku akan keluar menemani Jackson sebentar ya." Pamit Rex setelah menggendong Celine dan mendudukkannya di ranjang.


...**...


Rex dan Jackson tengah duduk saling berhadapan, "Sepertinya Dark mengincar wanita kita." Ucap Rex membuka pembicaraan.


"Kamu benar, bagaimana cara kita memancingnya untuk keluar." Jawab Jackson membenarkan ucapan Rex.


"Gunakan aku." Rex menawarkan diri.


"Tidak mungkin Rex, aku tidak ingin mengambil resiko. Yang di inginkan Dark adalah aku." Tolak Jackson dengan penawaran Rex.


"Apa kau akan mengumpulkan dirimu sendiri, bagaimana dengan Bintang? Saat ini dia sedang membutuhkanmu Jack. Lebih baik gunakan aku sebagai umpan dan kita menyusupkan anak buah yang handal di dalam klan mereka." Jawab Rex panjang lebar.


"Bagaimana dengan Celine?" Tanya Jackson dengan menatap Rex.


"Aku akan menitipkannya kepada mertuaku sementara waktu." Jawab Rex dengan wajah datar.


Jackson melihat jelas raut wajah Rex dengan seksama, "Setelah kita berhasil menyingkirkan Dark. Aku akan meninggalkan dunia hitam, aku tidak ingin membahayakan keluargaku lagi Rex cukup kali ini aku melihat keluargaku dalam bahaya." Ucap Jackson dengan menerawang jauh kejadian di bandara.


Rex hanya menatap wajah Jackson dalam, benar apa yang dikatakan Jack. Mereka sekarang sudah berkeluarga dan tidak ingin kehilangannya meskipun setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta. Tetapi Rex tidak ingin mempercepatnya.