
Sesampainya di rumah Meira dan Dokter Gewa menanyakan perihal sikap anaknya saat melakukan pertemuan dengan Melodi dan keluarganya tadi.
"Bian Mama ga habis pikir kamu bersikap tidak sopan seperti tadi apa kamu tau betapa Mama merasa tidak enak hati dengan Tante Melodi, Mama kecewa sama kamu" Meira marah-marah.
Abian hanya tertunduk menyembunyikan wajahnya duduk diatas sofa.
"Ma udah ga perlu marah-marah begitu dengan anak kita, Mama masuk kamar saja biar ini jadi pembicaraan antara laki-laki saja" jawab Dokter Gewa yang mencoba mendingankan suasana.
Meira pun pergi ke kamarnya meninggalkan suami dan anaknya itu.
"Hei Bro ku cerita lah sama Papa apa yang jadi uneg-uneg kamu Papa akan dengarkan" tanya Dokter Gewa sambil menepuk-nepuk punggung Abian.
"Pa ini terlalu mendadak untuk Bian, Bian masih sangat muda ada banyak sekali mimpi dan cita-cita termasuk membahagiakan Mama dan Papa" jawab Abian.
"Semua alasan yang kamu sebutkan tadi bisa terwujud meskipun kamu sudah menikah dan mempunyai anak, kamu masih bisa meraih mimpi-mimpi kamu dan kamu masih bisa membahagiakan kami! coba kasih satu alasan Papa yang lebih masuk akal lagi! kenapa kamu sampai menolak perjodohan ini?" tanya Dokter Gewa.
"Bian engga bermaksud menolak perjodohan ini Pa" jawab Abian.
"Lantas? apa kamu tidak menyukai Alice?" tanya Dokter Gewa.
"Bian tidak bilang begitu Pa" jawabnya lagi.
"Lalu apa? katakan sama Papa!" Dokter Gewa semakin penasaran dengan alasan anaknya itu.
"Pa keinginan Bian adalah menikah bukan karena perjodohan Bian ingin langsung sendiri menyatakan perasaan Bian bukan dengan cara begini Pa dan Bian juga ingin membiayai pernikahan Bian sendiri bukan hasil dari uang Papa" jawabnya dengan sungguh-sungguh.
"Wah kamu benar-benar anak Papa yang paling hebat, Papa tidak menyangka sifat mandiri dan mau bekerja keras Mama dan Papa tanpa bergantung pada harta orang tua menurun sama kamu Papa bangga nak" Dokter Gewa merasa terharu atas alasannya itu.
"Tapi Pa Alice terlihat sangat sedih sekali tadi" jawab Abian yang seperti tak tega melihat Alice sedih seperti tadi.
"Apa kamu menyukai Alice?" tanya Dokter Gewa.
Abian hanya terdiam dan tidak mau menjawab.
"Ah sudahlah tanpa kamu bilang Papa sudah tau seberapa besar rasa suka kamu terhadap Alice" Dokter Gewa tertawa.
"Bian harus apa sekarang Pa?" tanya Abian yang bingung tetap pada prinsipnya yang mau menikah dengan membiayai biaya pernikahannya sendiri tanpa uang dari orang tuanya dan menyatakan cintanya secara langsung atau menerima perjodohan ini karena dilihatnya Alice sudah sangat sedih atas sikap Abian.
"Kamu pikirkan lah Papa akan hargai semua keputusan kamu nak, Papa akan beri waktu kamu tiga hari untuk memutuskan semuanya" Dokter Gewa pun tersenyum pada anaknya itu.
Sementara Alice dia menempel foto Abian dibantah miliknya dengan kesal dia meninju foto Abian dibantal itu secara terus menerus.
Bugggg,,,, bughhhhh,,,, bughhh.
"Rasakan ini dasar laki-laki jahat memangnya dia pikir dia paling tampan apa aku Alice gadis paling cantik dan paling manis bisa mendapatkan laki-laki yang lebih pintar dar Abian, lebih ganteng dari Abian, lebih bisa tersenyum dari Abian keselllllll!!!!! tapi aku suka banget sama Abian heumm menyebalkan" Alice berbicara dengan bantal yang ditempelkan foto Abian itu.
Melodi yang sejak pulang dari pertemuan tadi tidak melihat Dokter Alex dirumahnya mencoba menelepon untuk menanyakan keberadaannya tapi handphonenya tidak aktive,,, karena bosan dirumah sendirian Melodi pun membereskan kamarnya termasuk pakaian-pakaian kotor yang digantung dikamarnya.
Tokkkkk,,, tokkk,,, tokkk.
"Mei,, Meira" Melodi memanggil Meira didepan rumahnya.
Meira yang mendengar suara Melodi dari depan rumahnya segera membukakan pintu.
"Mel ada apa? ayo masuk dulu!" ajak Meira.
Melodi terlihat sangat gelisah dan tidak tau harus bicara dari mana dulu.
"Ah iya Mel masalah tadi Bian aku benar-benar minta maaf tapi Bian sedang memikirkan baik-baik masalah perjodohan ini nanti aku pasti segera kabari kamu" ucap Meira.
"Engga Mei uni bukan tentang masalah perjodohan anak kita, lagipula itu masih banyak waktu" jawab Melodi dengan tatapan sedikit gugup.
"Lalu ada apa Mel? kamu bikin aku khawatir" Meira semakin khawatir pada sahabatnya itu.
"Mei kamu tahu kan umur kita ini sudah tidak muda lagi?" tanya Melodi.
"Iya kita memang sudah sangat tua, lalu kenapa memangnya?" Meira semakin penasaran.
"Sumpah Mei aku sendiri ga yakin tapi menurut aku Papa nya Alice kembali berselingkuh dari aku" jawaban Melodi membuat Meira tercengang.
"Mana mungkin kita sudah tua seperti ini masih ada pikiran bermain api Mel kamu pasti salah paham" Meira tidak percaya dengan yang dikatakan Melodi.
"Mei selama aku hidup dengan Papa nya Alice dari dulu kami memang sangat jarang melakukan hubungan itu karena dosa dimasa lalu Papa nya Alice membuat aku tidak lagi mencintai dia, selama itu juga Papa nya Alice sering pulang malam tapi aku masih berpikiran positif karena aku tidak punya bukti" Melodi menjelaskan.
"Lalu apa sekarang kamu bicara begini karena ada bukti?" Meira semakin penasaran.
"Ini Mei, aku yakin Papa nya Alice kali ini kecolongan karena biasanya dia menaruh pakaian kotornya langsung kemesin cuci jadi keburu dicuci si Mba sebelum aku temukan pakaian kotornya" Melodi memberikan kemeja Dokter Alex pada Meira dan menyuruh Meira mencium parfum dikemeja itu.
"Ini wangi parfum perempuan Mel dan bukan wangi parfum kamu" Meira sedikit tidak percaya kalau Dokter Alex benar-benar selingkuh lagi.
"Aku yakin Mei dia pasti selingkuh lagi, bagaimana ini Mei aku tidak sanggup kalau sampai Alice tau kelakuan bejad Papa nya selama ini aku mencoba baik-baik saja didepan Alice aku tak pernah mencurigai Alex agar rumah tangga kami tentram dan Alice bahagia tapi aku tidak tahan lagi Mei sekarang" Melodi menangis dibahu Meira.
"Aku paham dan aku mengerti kita bisa cari tau ini mulai sekarang Mel kamu tenang aku akan selalu bantu kamu" Meira menenangkan Melodi.
"Besok Abian dan Alice akan membantu persiapan event diresort mengisi waktu libur mereka sebelum kuliah jadi kita bisa pergi mencari tau ini tanpa sepengetahuan Alice kan Mei?" tanya Melodi.
"Ya kita bisa memanfaatkan kesibukan anak-anak kita untuk menangkap basah Alex kalau benar dia selingkuh lagi Mel" jawab Meira.
"Aku bersumpah Mei kalau sampai dia selingkuh lagi aku akan ceraikan dia detik itu juga, aku sudah muak dengan Papa nya Alice" Melodi benar-benar kesal sampai meremas sofa.
"Ya Mel kamu tenang aja aku akan temani kamu besok pertama-tama kita haru datang ke rumah sakit terlebih dahulu supaya kita tau Alex benar atau tidaknya berada di rumah sakit sampai malam hari" saran Meira.