
Keesokan harinya Melodi sedang mengajak bayinya berjemur didepan rumah dan Meira yang mendapat amanat dari suaminya untuk menyampaikan berita tentang Dokter Alex pada Melodi pagi-pagi sekali pergi menemui Melodi dirumahnya.
"Mel" sapa Meira yang langsung menghampiri Melodi dan menci* um bayi cantiknya.
"Mei tumben kamu pagi-pagi banget udah kesini" Melodi sedikit heran.
"Iya Mel kemaren Gewa menjenguk Alex dirumah sakit aku suruh sampein ke kamu kalau hari ini Alex sudah bisa pulang dari rumah sakit" jawab Meira.
"Ya aku udah dapat teleponnya dari pihak rumah sakit kemaren Mei" singkat Melodi.
"Terus gimana Mel?" Meira bingung dengan jawabam ambigu dari Melodi.
"Gimana ya gimana apanya si Mei? biarin ajalah siapa tau dia pulang kerumah orang tuanya" sinis Melodi agak naik darah memang Melodi kalau membahas masalah Dokter Alex.
"Iya jadi kamu ga akan jemput atau liat keadaannya Mel?" Meira sedikit ga enak untuk bertanya lebih dalam lagi.
"Aku malah sudah telepon lawyer Mei untuk urus perceraian aku sama Alex" Melodi terlihat sangat berani dan tegar.
Meira pun menghela nafas panjang mendengar Melodi akan segera menceraikan Dokter Alex, memang kesalahan Dokter Alex tidak bisa ditolerir lagi tapi seketika Meira menatap bayi mungil itu dan merasa kasihan bila dia tumbuh tanpa sosok ayah disampingnya apalagi sejak bayi begini bayi lucu ini tidak akan merasakan memiliki seorang ayah.
"Cantik ya Mel apa kamu sudah siapkan nama?" Meira berusaha mengalihkan pembicaraan agar Melodi bisa meredam emosinya.
Belum sempat Melodi menjawab Dokter Alex turun dari taxi sendirian didepan rumah Melodi.
"Mel" Dokter Alex memanggil Melodi dengan wajah yang memelas.
"Alex ngapain kamu kesini?" sinis Melodi dengan tanduk yang bertengger dikepalanya seolah ingin menyeruduk Dokter Alex.
"Sini Mel bayinya biar aku ajak jalan-jalan kesana" Meira mengerti butuh waktu Melodi dan Dokter Alex untuk berdua menyelesaikan masalah mereka Meira pun membawa bayi itu berjalan-jalan agak menjauh dari rumah Melodi.
"Mel apa itu anak kita?" tanya Dokter Alex hendak mengejar Meira yang menggendong bayinya.
"Bukan itu bukan bayi kita tapi itu bayi ku anakku dan ga kan pernah menjadi anak kita" tegas Melodi.
"Mel aku ayahnya kamu kenapa jadi seperti ini Mel, kamu bahkan tidak peduli sama aku aku tidak sekalipun kamu menemui aku selama dirumah sakit" Dokter Alex mulai terpancing emosinya.
"Kamu bilang aku tidak peduli Lex? kamu ga waras ya? gara-gara kamu aku hampir kehilangan anakku disaat aku berjuang mempertaruhkan nyawa aku untuk melahirkan anak kita kamu tidak ada disisi aku Lex kamu bahkan tidak mengadzani anak kita! bentak Melodi, sekarang kamu bilang aku tidak peduli sama kamu ngaca Lex" emosi Melodi benar-benar meluap hari ini.
"Iya aku tau Mel tapi aku tidak ada disisi kamu karena aku pun harus menerima belasan jahitan untuk menyelamatkan kamu dan bayi kita dari serangan Kimmy sekarang beginikah balasan kamu sama aku?" Dokter Alex berusaha membela diri.
Dokter Alex semakin terpojok dan semakin frustasi mendengar ucapan-ucapan Melodi yang menghujam telinganya tanpa titik dan koma.
"Mel aku tau aku salah aku minta maaf Mel, sumpah aku hanya sekali melakukannya Mel maafkan aku dan beri aku kesempatan sekali lagi" Dokter Alex berusaha membujuk Melodi.
"Sekali kamu bilang? itu fatal Lex fatal banget karena sekali itu aku melihat kamu sangat jijik coba jika situasi ini kita balik aku yang sudah tidur dengan laki-laki lain apa kamu masih mau hidup dengan aku dan tidur dengan aku?" Melodi berusaha menahan tangisnya kini kesedihannya tertutupi oleh rasa jijiknya membayangkan Dokter Alex tidur dengan Kimmy.
"Mel kamu bayangkan juga jika kamu menjadi aku Mel, selama kamu hamil kamu selalu menolak ajakan aku dua bulanan aku berusaha menahan hasrat yang semakin hari semakin memuncak sedangkan kamu hanya terus muntah-muntah dan terbaring dikasur tanpa mau tau aku Mel aku hanya laki-laki normal aku juga butuh ***" Dokter Alex berusaha mengungkapkan isi hatinya.
"Lex kamu sadar engga si ini kehamilan pertama aku, dan kamu tau sendiri keadaan aku saat hamil muda bahkan makan saja tidak enak dan aku muntah-muntah itu semua karena aku sedang mengandung anak kamu Lex, pikir kamu malah asik enak-enakan dengan wanita lain kami kepa* rat Lex" Melodi benar-benar sudah muak dengan Dokter Alex.
"Ya oke Mel ini sepenuhnya salah aku sekarang aku ingin memperbaiki semuanya lagi Mel" Dokter Alex berusaha merayu Melodi dan meredakan emosinya.
"Engga Lex aku sudah menelepon lawyer untuk mengurus perceraian kita, aku tidak butuh kamu lagi aku sangat sangat mampu membesarkan anak aku sendiri" tegas Melodi yang sudah bulat keputusannya.
"Mel kamu saat ini sudah menjadi seorang Ibu kamu tidak bisa egois seperti ini, kamu lihat anak kita masih terlalu kecil dia butuh figur seorang ayah Mel tolong kamu turunkan ego kamu" Dokter Alex memelas pada Melodi.
"Justru karena anak kita masih kecil Lex akan lebih baik jika dia tidak punya sosok ayah yang bad* jingan seperti kamu" jawab Melodi dengan entengnya.
Meira yang sejak tadi menguping pertengkaran antara Melodi dan Dokter Alex mengerti betul akan kekecewaan yang saat ini dirasakan Melodi.
"Sekarang aku mohon pergi dari rumah aku karena semua pakaian dan barang-barang kamu sudah aku titipkan sama orang tua kamu ketika mereka kesini" Melodi sudah tak tahan lagi ingin segera mengakhiri perdebatan ini.
"Mel, kamu kejam banget sama aku Mel kamu tega sampai hati kamu bahkan sudah mengeluarkan semua barang aku dari rumah ini" Dokter Alex menangis tersedu-sedu.
Tanpa mempedulikan suaminya itu Melodi segera masuk rumah dan mengunci pintunya, Dokter Alex pun terduduk lemas diteras depan rumah Melodi, Meira pun menghampiri Dokter Alex sembari menggendong bayinya.
'Tuh lihat ada Papah kamu cantik kita hibur Papah ya" ucap Meira pada bayi kecil itu.
"Mei ini anakku Mei? cantik sekali kamu nak maaafin Papah" Dokter Alex semakin menangis kala melihat Puteri cantiknya yang kini dia gendong dan dia ci* um.
Bayi itu tersenyum seolah mengerti saat ini sedang berada di dekapan ayahnya membuat Dokter Alex semakin menyesali apa yang sudah dilakukannya sehingga membuat anaknya lahir tanpa dia disisinya, Melodi yang mengintip dari balik jendela pun seketika air matanya tumpah ruah kala menyaksikan suaminya mendekap erat bayinya.
"Lex pulang lah dulu kerumah orang tua kamu, Melodi benar-benar sedang emosi saat ini nanti kamu bisa kemari lagi untuk bicarakan semuanya" Meira berusaha mendinginkan suasana.
"Iya Mei tolong jaga anak dan isteri aku, nanti setelah Melodi agak tenang aku akan membujuknya lagi demi anak kami Mei sumpah aku benar-benar tidak sanggup bila harus berpisah dari Melodi dan membiarkan Puteri ku tumbuh tanpa sosok ayah disampingnya" Dokter Alex mengatakan semua isi hatinya sembari terus menangis tersedu-sedu.