
Sam masuk kekamar nya dan melihat Meira terbangun dari tidurnya tengah duduk dikasur.
"Mei, kamu terbangun?" tanya Sam.
"Iya Sam, tadi aku mendengar suara orang mengobrol dari luar" jawab Meira.
"Oh itu aku Mei, tadi seorang Wanita memakai sweater hitam mengetuk pintu rumah kita, dia bilang dia mahasiswi yang sedang berlibur di pantai ini lalu tersesat dan menanyakan kepada ku losmen Pak Rudi yang diujung sana" jawab Sam dengan tenangnya dia berbohong.
"Oh begitu Sam, aku kira kamu mengingkari janji kamu dan berselingkuh lagi" jawab Meira.
Sam pun langsung menghampiri Meira dan mengelus-elus rambut Meira.
"Mei, aku pernah berbuat salah dan aku berhak kan untuk dapat kesempatan ke 2 dari kamu?" tanya Sam.
"Iya Sam, aku tau" jawab Meira.
"Untuk berubah itu aku butuh bantuan kamu Mei, aku ingin kamu bantu aku dengan cara berhenti mencurigai aku, apa kamu bisa?" tanya Sam.
'Iya Sam, aku minta maaf sudah curiga sama kamu" jawab Meira.
"Lagian mana mungkin aku berselingkuh didepan rumah kita Mei" jawab Sam.
"Iya Sam aku percaya" jawab Meira.
Sam pun memeluk Meira dengan sangat erat.
"Sam, bukankah setiap isteri berhak memperoleh kebahagiaan?" tanya Meira.
"Ya tentu sayang" jawab Sam.
"Tolong jangan sakiti mental aku lagi Sam, karena aku bisa bahagia ketika mental aku sehat Sam, tolong jangan rusak mental aku lagi" ucap Meira.
Mendengar Meira berbicara bahwa mentalnya rusak oleh dirinya, Sam sedikit terketuk hatinya apalagi selama hidup bersama Meira, Meira adalah sosok yang baik, ceria, dan tidak banyak menuntut. Membuat Sam merasa dilema saat ini, rasa cinta ketika waktu pertama kali menikah dengan Meira perlahan seakan kembali.
"Iya Mei, aku janji akan perbaiki rumah tangga kita" jawab Sam.
Keesokan harinya dikedai, Meira yang sudah mulai ceria lagi membuka kedai bakmi bersama Susan dengan semangat dan penuh kegembiraan.
Melodi yang kebetulan hari ini pun libur bekerja, mengunjungi kedai bakmi Meira, saat ini hujan turun lumayan deras, Melodi datang membawa payung dan mengenakan sweater warna hitam.
"Mel kamu dateng?" sapa Meira.
Seketika mata Meira menatap kearah Melodi yang memakai sweater hitam, mengingatkan kembali akan sosok Wanita semalam yang ditemui Sam.
"Iya Mei, hujan badai pun ku tempuh Mei kalau untuk bantuin kamu dikedai" ucap Melodi.
"Mba Mel, sweater baru nih" ledek Susan.
"Iya donk, bagus kan San, Mei, ini tuh lagi musim tau sweater yang big size kaya diKorea" ucap Melodi.
"Kamu tidak biasanya Mel pake sweater" tanya Meira dengan masih tidak percaya dengan apa yang dipikirkannya.
"Iya donk, aku biasanya kan ga pernah mau pake sweater tapi karena ini pemberian dari seseorang cowok ganteng yang spesial banget jadi aku pakai Mei" jawab Melodi.
"Yaelah Spesial udah kaya martabak aja' jawab Susan.
"Aku tau Sam semalam berbohong dan Wanita semalam adalah selingkuhan nya, tapi kenapa hari ini Melodi memakai sweater yang sama dengan selingkuhan Sam, Ya Tuhan ga mungkin ini benar-benar gak mungkin" dalam hati Meira.
"Mei, yeh malah ngelamun" ucap Melodi.
"Ah iya Mel, abis bagus banget sweater nya aku jadi terpesona" jawab Meira.
"Susan juga mau beli ah nanti gajihan" ucap Susan.
Meira yang masih tidak percaya selingkuhan Sam itu Melodi masih melamun, hati Meira benar-benar hancur saat ini, bagaimana kalau ternyata sahabat baiknya malah selingkuhan suami nya.
"Mei, aku seneng deh kamu sama Sam udah balik akur lagi, ya mudah-mudahan Sam beneran berubah" ucap Melodi.
"Iya Mel, aku juga tidak menyangka Sam akan memilih meninggalkan selingkuhan nya" jawab Meira.
"Mba Mel, clue nya dong siapa someone yang ngasih sweater itu" sambung Susan.
"Ye kepo" ucap Melodi.
"Iya Mel biasanya kamu kalau ada gebetan baru kan suka ngenalin sama aku" ucap Meira.
"Ih Mei ini tuh cowok yang beda, kayanya dia akan serius deh sama aku, nanti kalau dia sudah beres sama urusannya dan melamar aku baru aku kenalin ke kalian" jawab Melodi sambil tersenyum.
"Jadi kalian akan segera menikah gitu?" tanya Meira dengan penuh ketakutan.
"Ih Meira jadi malu aku, dilamar aja belum" jawab Melodi.
"Duh so sweet banget cowoknya Mba Mel, semoga Susan juga segera menemukan tambatan hati Susan ya Mba Mel" ucap Susan.
"Iya aku bahagia banget rasanya, mana besok dia bakalan jemput aku dari klinik katanya ada yang mau diomongin gitu" ucap Melodi.
"Jadi kalian akan bertemu besok Mel?" tanya Meira.
"Iya Mei, aku ga bisa nolak tau ih padahal kan semalam kami baru saja bertemu, eh besok udah ngajak ketemu lagi" jawab Melodi dengan ceria.
"Bagus itu Mba Mel, tanda nya itu cowok benar-benar serius sama Mba Mel, ngomong-ngomong kok sekarang Mba Mel ga jalan sama cowoknya?" tanya Susan.
"Itu tuh sebel banget aku juga San, tadinya mau jalan sekarang tapi mantan dia tuh masih cinta banget kayanya sama dia, jadi mau beresin urusan sama mantannya dulu hari ini" jawab Melodi dengan sedikit kesal.
Meira yang sedari tadi diam seribu bahasa, seakan tak percaya kenapa harus Melodi, kenapa gak perempuan lain, bagaimana bisa sahabatnya bisa menjadi selingkuhan suaminya? Meira benar-benar dilema dari semua yang Melodi ucapkan sudah cukup untuk Meira mengetahui semuanya.
Perasaan Meira seketika runtuh porak poranda, dia ingin sekali memergoki Sam dengan selingkuhannya tapi dia takut sekarang mengetahui bahwa Melodi adalah selingkuhan Sam, mata Meira mulai berkaca-kaca.
"San, Mel aku harus kepasar dulu sebentar ada bahan-bahan yang lupa aku beli" ucap Meira.
"Ok Mei, aku beresin sisanya" jawab Melodi.
Meira pun segera bergegas pergi keluar kedai, bahkan Meira lupa memakai payung. Saat ini tubuh Meira sudah bermandikan air hujan, Meira menangis sekuat-kuatnya ditengah hujan yang semakin deras, tubuh Meira rapuh dan terjatuh keaspal.
"Ya Tuhan, kenapa harus Melodi? aku sudah menganggap Melodi sebagai adikku sendiri, aku benar-benar tidak sanggup lagi, apa yang harus aku lakukan besok ketika mendapati suami yang aku cintai main gila dengan sahabat baik aku, Tuhan kenapa engkau tega begini sama aku" Meira berteriak-riak.
Tubuhnya kini yang sudah hampir membeku karena balutan air hujan, Meira masih terdiam diatas aspal dan tidak mampu untuk bangkit lagi.
"Siapapun kamu, meskipun itu kamu Mel! aku akan tetap hancurkan kamu karena kamu sudah menghancurkan rumah tangga aku, aku gak peduli lagi dengan persahabatan kita, aku akan hancurkan kamu Mel" teriak Meira sambil mengepalkan tangannya.