Mencari Selingkuhan Suamiku

Mencari Selingkuhan Suamiku
Lahirnya seorang putera


Hari-hari berlalu begitu cepat Melodi masih senantiasa menggantungkan hubungannya dengan Dokter Alex bahkan ketika acara syukuran dan pemberian nama pada bayinya Melodi sama sekali tidak memberi tahu Dokter Alex.


Bayi kecil yang cantik nam imut itu diberi nama Alice Agatha Sesilia nama itu Melodi sendiri yang memikirkan nya tanpa melibatkan Dokter Alex sebagai ayah dari anaknya suka cita menyertai acara syukuran itu kini orang-orang sudah bisa memanggil bayi itu dengan nama Alice.


Melodi juga sudah kembali beraktivitas bekerja kembali diklinik dan menyewa seorang baby sister untuk merawat anaknya semakin dijalani semakin Melodi kuat berdiri sendiri mengurus anaknya tanpa bantuan dari laki-laki yang sudah mengkhianati nya itu.


Melodi kembali ceria dan fokus untuk mencari nafkah untuk buah hatinya, memang wanita akan selalu sanggup dan kuat hidup sendiri membesarkan anaknya malah wanita akan jauh lebih bahagia bila hidup berdua dengan anaknya ketimbang harus hidup bersama seorang suaminya yang bisanya hanya menyakiti hati saja membuat mental tidak sehat.


Sementara itu Meira sudah merasakan mules-mules sepertinya akan segera melahirkan Meira segera menelepon Dokter Gewa yang saat ini berada diklinik mendapat kabar dari Meira Dokter Gewa segera pulang kerumah untuk membawa Meira kerumah sakit bersalin.


"Aduhh Ge,,, uhhhh uhhhh" Meira berusaha menahan mules yang luar biasa itu mencoba tenang dan menarik nafas lalu membuangnya agar dirinya lebih rilex jelang persalinan.


"Ya sayang aku ada disini kamu yang kuat ya Mei" Dokter Gewa senantiasa menggenggam erat tangan Meira sepanjang perjalanan kerumah sakit.


"Sakit Ge aduhhhh lama banget si sayang nyampenya kamu bisa nyetir engga si" Meira mulai gelisah tak karuan.


"Iya sabar sayang dikit lagi" Dokter Gewa pun tak menyangka Meira bisa ngedumel begitu efek mau lahiran.


"Aduhh uhhh" sekuat tenaga Meira mencengkram erat tangan Dokter Gewa.


"Sabar Mei sayang sabar" Dokter Gewa pun ikut panik karena Meira sudah kesakitan.


"Sabar,,,, sabar yasudah nih tukeran aku yang nyetir kamu yang hamil" Meira marah-marah tidak jelas.


"Mei kamu lucu banget" Dokter Gewa yang tadinya panik malah tak kuat menahan tawanya kala melihat Meira jadi gampang marah-marah dan mendadak jadi bawel akibat menahan mules.


"Buruan Ge buruan kamu jangan ketawa aduhhhh" Meira semakin kesakitan.


"Iya iya sayang ini aku ngebut kok" Dokter Gewa kembali panik


Tak lama Meira saling tidak kuatnya menahan mules menjambak rambut Dokter Gewa sampai-sampai Dokter Gewa kesakitan dibuatnya.


Aaaaaaa.... aaaduhh Mei ampun teriak Dokter Gewa.


"Aduhhhh uhhhh,,, uhhhhh" Meira semakin meronta-ronta.


Akhirnya mereka pun sampai dirumah sakit bersalin Meira duduk dikursi roda didorong oleh Dokter Gewa menuju ruangan bersalin, Meira memang akan bersalin normal Dokter Gewa pun ikut kedalam untuk mendampingi Meira.


Dengan sabar Dokter Gewa menemani Meira ketika melahirkan tangan yang memerah akibat cengkraman Meira ketika mengejan, rambut yang tak lepas dari jambakan Meira benar-benar Dokter Gewa menjadi bulan-bulanan Meira untuk menyalurkan rasa sakitnya melahirkan.


Definisi lelaki jangan mau enaknya aja dirasakan oleh Dokter Gewa, tapi dengan senang hati Dokter Gewa berada disamping Meira selama proses bersalin ini.


"Ayo Bu tarik nafas lalu mengejan" panduan dari Dokter bersalin.


"Euuuuuuu,,,,,, euuuuu" perjuangan Meira mengejan terus menerus.


Menarik nafas dalam-dalam lalu mengejan lagi sampai Meira benar-benar merasa lemas dan tidak ada tenaga lagi.


"Ayo Bu baguss iya sedikit lagi Bu ayo mengejan lagi" Dokter bersalin menyemangati Meira.


Tak lama setelah Meira berusaha terus meskipun sudah lemas suara tangisan bayi pun terdengar.


Oaaa,,,,, oaaaaa lahirlah bayi laki-laki itu dengan selamat dan normal.


Seketika Dokter Gewa dan Meira pun tersenyum lega melihat sang bayi yang berhasil dilahirkan tanpa kendala apapun.


Setelah dimandikan dan dibalut kain Dokter Gewa pun mengadzani bayinya membuat seketika air mata Meira mengalir dipipinnya bukan karena bersedih tetapi karena kebahagiaan yang benar-benar luar biasa setelah melewati kepahitan dalam rumah tangganya bersama Sam kini Meira mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa tak pernah disangkanya.


Seorang bayi tampan dan menggemaskan hadir didalam rumah tangga yang harmonis ini, Dokter Gewa menelpon Melodi dan teman-teman nya Meira memberikan kabar atas kelahiran putera mereka.


Sore harinya Melodi, Adeline, Susan, Neneng dan Dokter Alex pun datang mengunjungi Meira untuk melihat bayinya meski Melodi sangat canggung bertemu kembali dengan Dokter Alex yang statusnya masih suaminya namun dimomen ini Melodi tetap berusaha untuk tidak memperlihatkan nya.


"Ehh maraneh teh minggir-minggir pippipippip calon mantu mau lewat" Neneng sampai halu untuk mempunyai anak perempuan agar bisa dijodohkan dengan bayinya Dokter Gewa.


"Aduh jodoh masa depan Adel" Adeline yang langsung terpesona dengan ketampanan bayi Meira sampai berkhayal ketika dewasa menikah dengan anaknya Meira.


"Kalian tuh kalau halu ketinggian udah jelas ini calon mantu aku ya kan Mei" ledek Melodi.


Kedua bayi mungil itu pun berdekatan dan tersenyum seolah keduanya tau bahwa takdir telah menyatukan mereka hari ini.


"Selamat ya Ci Mei Neneng teh jadi Kavita pisan pengen buru-buru bikin Dede bayi" celetuk Neneng.


"Ih ngaco Teh Neneng mah ya nikah dulu baru punya Dede bayi" ucap Susan.


"Ih maneh mah ga tau taunya yah sekarang teh lagi jaman nabung dulu baru entar nya nikah iya engga Ci Mei?" ledek Neneng.


"Iya Neng iya suka-suka kamu ajalah" Meira tertawa dengan tingkah lucu Neneng.


"Lex sini kamu kok diem aja mematung dipojokan" ajak Meira.


"Iya ga enak kalau ikut nimbrung dengan obrolan wanita" Dokter Alex sedikit malu-malu.


"Iyalah engga enak nimbrung obrolan wanita yang enak ya celap celup diwanita lain" sinis Melodi.


Melodi pun mendadak kesal melihat wajah Dokter Alex sehingga membuat suasana menjadi canggung.


"Mel kamu apaan si ga enak sama Gewa dan Meira kita bicara diluar aja" ajak Dokter Alex.


Melodi pun menitipkan bayinya pada Susan untuk berbicara berdua diluar dengan suaminya itu.


"Mel aku kangen sekali saat-saat kebersamaan kita, apa kamu masih belum bisa juga mengambil keputusan aku sangat mengharapkan kita bersatu seperti Meira dan Gewa mengurus anak mereka dengan kompak" rayu Dokter Alex.


Melodi pun mendadak melow memang Melodi sedih ketika melihat Meira dan Dokter Gewa bisa kompak berada disisi anak mereka sedangkan puterinya sendiri tidak pernah merasakan kehangatan berada disisi ayah ibunya.


"Mel apa kamu tidak mau seperti Gewa dan Meira membesarkan anak mereka bersama-sama" bujuk Dokter Alex.


Melodi pun sejenak berpikir untuk memutuskan apakah akan meneruskan rumahtangga nya dengan Dokter Alex atau memilih tetap bercerai.