Mencari Selingkuhan Suamiku

Mencari Selingkuhan Suamiku
Pertemuan Alice dan Alexa


"Apa lagi ini," pekik Dokter Alex.


"Dokter Alex saya tidak akan tinggal diam! Saya akan laporkan ke kantor polsi," ungkap bapak itu.


"Pak apa tidak bisa kita damai? Saya akan ganti rugi sesuai yang Bapak inginkan," kata Dokter Alex.


"Kalau begitu berikan jaminan agar masa depan anak saya cerah," kata bapak itu.


"Baik saya akan nikahi anak bapak," kata Dokter Alex.


"Enak saja! Kamu pikir saya mau menikahkan anak saya yang masih muda dengan tua bangka seperti kamu?" ujar bapak itu.


"Lalu apa yang Bapak inginkan sekarang? Saya harus segera menghadap pimpinan," kata Dokter Alex.


"Berikan uang ganti rugi untuk biaya sekolah anak saya sampai dia lulus S2!" kata bapak itu.


"Apa?" Dokter Alex kesal.


"Yasudah jika tidak mau, saya akan bawa kasus ini ke ranah hukum! Anak saya masih dibawah umur, ingat itu!" pekik bapak itu.


"Baik,,,, baik Pak sebutkan berapa jumlahnya?" kata Dokter Alex.


"Ya dua ratus lima puluh juta saja itu cukup untuk menjamin masa depan pendidikan anak saya," kata bapak itu.


Mendengar nominal sebesar itu Dokter Alex tercengang pasalnya tabungan dia hanya ada dua puluh lima juta rupiah saja, dan jika ingin menarik keuntungan dari resort sebagai salah satu pemegang saham tidak mungkin karena keuntungan yang didapat dari resort itu masuk kerekening Alice sebagai warisan dari orang tuanya kelak jika telah tiada.


"Dengar Dokter Alex! Saya tunggu dua kali dua puluh empat jam untuk Dokter Alex transfer uangnya, jika tidak maka jangan salahkan saya," kata bapak itu.


Seketika keringat panas dingin mengucur didahi Dokter Alex dirinya sangat tertekan dari mana dia akan dapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Bapak dan anak belia itu pun pergi meninggalkan Dokter Alex yang masih terdiam mematung tak lama seorang suster mengetuk pintu.


Tokkk,,, tokkk,, tokkk.


"Permisi Dok, pimpinan sudah menunggu Anda sejak tadi," kata suster itu.


"Iya sa-saya segera kesana," kata Dokter Alex sambil menyeka keringatnya.


Tokkkk,,,, tokkkk,,,, tokkkk.


"Permisi Pak Edi," kata Dokter Alex.


"Silahkan duduk Dok!" ujar pimpinan.


"Tidak usah basa-basi ya Pak, saya yakin Dokter Alex sudah mengerti kenapa Dokter harus berhadapan seperti ini dengan saya," ungkap pimpinan.


"Ah kamu jangan serius banget Ed kita kan sudah berteman sejak dulu, kan? Dan saya Dokter paling lama disini," kata Dokter Alex.


"Tolong jangan bicara santai dengan saya Dokter Alex! Langsung saja ini surat pengunduran diri Dokter Alex dari rumah sakit ini, tolong ditandatangani!" kata pimpinan menyerahkan surat.


"Apa? Kenapa begini si Ed kita itu teman sejak lama, dan aku tidak akan berhenti untuk jadi Dokter di rumah sakit ini!" teriak Dokter Alex.


"Cukup! Keluar dari ruangan saya atau saya panggilkan security sekarang juga," kata pimpinan.


Dokter Alex langsung nak pitam diperlakukan sehina ini harga dirinya benar-benar merasa tercoreng.


"Begini cara kamu Ed, setelah aku menyumbang banyak keuntungan untuk rumah sakit ini selama puluhan tahun. Begini balasan kamu?" ungkap Dokter Alex.


Pimpinan tak merespon lagi perkataan Dokter Alex dan memalingkan wajahnya dari Dokter Alex. Dengan kesal Dokter Alex keluar dari ruangan pimpinan sambil membanting pintu.


Bughhhhtttttt...


"Loh Bang kok sudah balik dari rumah sakit?" kata adiknya.


"Abang dipecat. Untuk sementara Abang akan tinggal disini dulu," kata Dokter Alex.


"Aduh gimana ya Bang, kalau Abang tinggal seterusnya dirumah ini nanti isteri dan anak-anak aku engga nyaman Bang," ungkap adiknya.


Mendengar dirinya diusir secara halus oleh adiknya sendiri membuat Dokter Alex semakin emosi.


"Kamu tuh, jadi adik pelit banget si. Inikan rumah warisan orang tua kita aku berhak tinggal disini," bentak Dokter Alex.


"Loh Abang gimana si? Inikan jatah warisan untuk aku Bang dulu Abang sudah mendapat warisan rumah dari nenek dan kakek yang uangnya Abang pakai untuk invest ke resort," kata adiknya.


Dokter Alex berpikiran iya juga si lagi pula sekarang memang rumah ini sudah atas nama adiknya setelah orang tua Dokter Alex meninggal rumah ini menjadi warisan untuk adiknya dan Dokter Alex mendapatkan warisan dari hasil penjualan rumah nenek dan kakeknya jadi dia tidak berhak tinggal disini.


Akhirnya karena tak ingin terus menerus diusir secara halus oleh adiknya sendiri Dokter Alex bergegas pergi meninggalkan rumah orang tuanya menuju rumah Melodi.


Sesampainya dirumah Melodi saat weekend begini Melodi pasti tengah bersantai menonton televisi sambil menikmati jus buah siang-siang begini.


Tokkkk,,,, tokkkk,,, tokkkk.


"Mel." Dokter Alex memanggil.


Melodi pun membukakan pintu rumahnya.


"Kamu ngapain ada disini lagi?" sinis Melodi.


"Mah aku mohon batalkan perceraian kita! Aku tidak bisa hidup tanpa kamu," kata Dokter Alex.


"Kamu kejedot tembok dimana Alex? Pergi dari sini dan kita hanya akan bertemu di pengadilan saja," ujar Melodi.


Melodi langsung menutup pintu rumahnya dengan kasar. Mau tidak mau Dokter Alex harus pergi mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggalnya sekarang didalam mobil Dokter Alex sudah benar-benar kelimpungan bagaimana nanti dia mencari uang dua ratus lima puluh juta rupiah yang diminta bapak itu.


"Ah sial! Breng* sek hidup aku jadi belangsak begini Melodi menceraikan aku, tabungan ludes, rumah gak punya dan aku harus mencari uang dua ratus lima puluh juta rupiah dalam waktu dua hari. Kenapa? Kenapa?" Dokter Alex semakin hilang arah saat ini.


Sementara itu Alice yang tengah berada diresort merasa kalau pita untuk hiasan diatas lampu kurang sehingga dirinya harus pergi ke pasar untuk membeli langsung menggunakan angkot maklum Alice gadis yang sangat dimanja jadi dia tidak bisa menggunakan sepeda motor dan bisa menggunakan mobil pun belum terlalu lancar sehingga Melodi tak pernah mengizinkannya mengemudi.


Sesampainya di pasar Alice membeli berbagai macam warna pita untuk dekorasi diatas lampu resort. Setalah dirasa sudah cukup Alice pergi menunggu angkot dipinggir jalan.


Tak menyangka Alexa yang baru tiba di terminal dan berjalan kearah pasar untuk mencari angkot melihat Alice sedang memegangi barang belanjaannya dengan kedua tangannya dan dompet yang Alice taruh disaku belakangnya.


Sejenak Alexa tak bisa mengalihkan pandangannya dari Alice dan terus menatap wajah Alice tak lama sosok preman bertubuh tegap tengah melirik-lirik dompet yang ditaro Alice disaku celananya. Sepertinya itu copet yang biasa mangkal.


"Dasar bodoh! Kenapa gadis itu tidak sadar sedang diincar oleh copet di?" kata Alexa yang langsung mengambil satu balok kayu dipinggir jalan.


Dan benar saja si copet langsung memepet Alice dan mengambil dompet Alice dengan mudah dan mulus tanpa disadari Alice lalu segera copet itu berjalan cepat meninggalkan Alice dan.


Bughttttttt...


copet itu jatuh tersungkur dihadapan Alexa yang sudah memukulnya dengan sangat keras hingga mulutnya berdarah. Dipelintirnya kebelakang tangan si copet itu membuat si copet meringis kesakitan. Hal itu mengundang banyak perhatian dari warga sekitar termasuk Alice yang langsung mendekati Alexa.


Visual Alice



Visual Alexa