Mencari Selingkuhan Suamiku

Mencari Selingkuhan Suamiku
Sam kewalahan


Alice dan Abian terjatuh dari sepeda rantai sepeda pun putus dan stangnya bengkok bahkan Alice terluka dibagian lututnya membuat Alice yang cengeng itu semakin menangis histeris.


Hikzzzzzzzzzzz,,,,,, hikzzzz hikzzzzzzzzzzz.


"Kaki ku Bian berdarah sakit Bian kaki ku berdarah aku tidak mau dioperasi aku takut Bian" Alice merengek sambil menangis.


"Astaga anak cengeng berhentilah menangis mana ada luka begini saja dioperasi" Abian mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya dan mengikatnya dilutut Alice yang terluka.


Alice pun mulai berhenti menangis dan menatap Abian lalu Abian membelakangi Alice dan menyuruh Alice naik untuk dia gendong.


"Cah,,, naiklah aku akan menggendong mu sampai dirumah" seru Abian.


Alice pun hanya bengong dia tidak percaya akan digendong oleh Abian.


"Cepatlah" pinta Abian.


Alice pun menyeka air matanya dan naik ke punggung Abian tas sekolah Abian ditaro didepan dadanya dengan tergopoh-gopoh Abian menggendong Alice sepanjang jalan Alice tersenyum.


Sesampainya didepan rumah Melodi dengan sedikit lelah Abian menurunkan Alice dari punggungnya.


"Masuklah aku akan pulang" ucap Abian.


"Bian bisakah kamu menjadi pangeran ku, kamu sudah menyentuh ku kata Mamah kalau ada laki-laki yang menyentuhku maka dia harus jadi pangeran ku ketika dewasa nanti" pinta Alice dengan polosnya.


"Tidak! aku tidak suka anak cengeng seperti mu" tolak Abian.


"Am nanti aku tidak cengeng lagi kok Bian, ayolah Bian berjanjilah kalau kamu tidak berjanji aku akan bersedih sepanjang hari" bujuk Alice sambil mengacungkan jari kelingkingnya pada Abian.


"Baiklah aku berjanji" jawab Abian yang menyambut hari kelingking Alice dengan jari kelingkingnya lalu langsung melengos pergi.


Alice yang mendengar Abian setuju untuk kelak menjadi pangerannya merasa sangat senang Abian yang sudah berjalan menuju rumahnya pun tersenyum tipis disepanjang jalan.


"Mah aku pulang" Abian masuk kerumah disana Meira tengah duduk diruang tamu dengan laptopnya mungkin Meira tengah mengecek keuangan kedai bakminya.


"Bian nak tunggu! sini duduk sama Mama! pinta Meira.


Abian pun menurut dan duduk dikursi samping Meira.


"Bi besok adalah peresmian resort dan juga restoran mewah ditepi pantai yang baru selesai dibangun, kamu nanti ikut ya sama Mama dan Papa!" ucap Meira.


"Aku masih kecil kenapa aku harus ikut?" tanyanya.


"Tapi kelak kamu yang akan memimpin dan menjadi CEO di resort megah itu nak jadi kamu harus melihat peresmiannya" Meira menjelaskan.


Abian pun sejenak terdiam dan berpikir tentang ucapan Meira kini dirinya harus semakin banyak belajar agar bisa menjadi seorang CEO seperti keinginan Mama nya itu.


"Sudah jangan melamun Mama percaya anak Mama akan menjadi pemimpin yang hebat karena anak Mama ini anak paling pintar dan juga paling bikin gemas Mama" Meira menggelitik Abian.


Ahahhahaha.... Ma ampun Ma.


Abian sangat bahagia memiliki orang tua seperti Meira dan Dokter Gewa, Meira selalu bisa membuat anaknya yang pendiam itu tertawa dan ceria dan soal pendidikan pun tak main-main Meira dan Dokter Gewa menghadirkan guru les terbaik dikota ini untuk membimbing anaknya belajar hingga Abian menjadi anak yang sangat cerdas.


Semua kebahagiaan lengkap itu berbanding terbalik dengan kehidupan dirumah Alexa bersama Sam, seorang anak perempuan hidup dengan yang bukan Ayah biologis nya sehingga seringkali Sam sangat kaku dan tak mengerti dengan keinginan Alexa.


Sam baru saja pulang dari tempat kerjanya dilihatnya Alexa tengah belajar sendirian, ya Alexa memang tak pernah keluar rumah untuk bermain dengan anak perempuan sebayanya waktu dirumah dia habiskan untuk belajar sehingga tak jarang dia selalu menjadi juara dikelas ejekan dari teman-temannya dikelas tak sedikitpun membuat mental anak ini down dia malah semakin berani dan semakin rajin belajar.


"Lexa makanlah dulu Papah belikan kamu ayam goreng kesukaan kamu" ajak Sam.


"Lexa kamu tau kan Papah sibuk kerja mana sempat Papah membuatkan makanan rumahan untuk kamu" Sam mencoba menjelaskan.


"Kalau begitu katakan dimana Mamah? aku akan mengajaknya pulang kerumah dan memasak masakan rumahan" Alexa menangis dan tertunduk.


"Lexa maafkan Papah nak" Sam memeluk Alexa.


"Teman-temanku disekolah tidak berhenti mengejekku mereka bilang aku lahir dari batu karena tak memiliki Mamah" Alexa mengadu pada Sam.


"Kamu harus jadi anak yang kuat nak, mereka yang mengejek kamu suatu hari nanti pasti mendapatkan balasan atas perbuatan tidak baik mereka" Sam mencoba menenangkan.


Tiba-tiba seorang ibu-ibu dan anak perempuan yang bajunya basah dan bau air comberan datang kerumah Sam.


"Pak Sam,,, keluar Pak Sam" teriak Ibu-ibu itu.


Sam yang mendengar kegaduhan diluar rumahnya segera keluar rumah.


"Ada apa ya Bu?" Sam bingung dan melihat anak dari Ibu itu sudah basah kuyup dan bau comberan.


"Lihat ini anak Pak Sam itu makin hari makin bandel masa anak saya disiram sama air comberan, didik dong anaknya itu nakal banget si" Ibu-ibu itu marah-marah.


"Lexa,,,, Alexa sini" teriak Sam.


Alexa pun keluar rumah untuk menghadapi Ibu-ibu dan anaknya itu.


"Heh kamu mentang-mentang ga punya Ibu bandel banget jadi anak" bentak Ibu itu.


"Lexa nak jelaskan sama Papa kenapa Lexa menyiram anak Ibu itu pakai air comberan?" Sam berusaha tetap tenang.


"Tadi Lexa beli minuman di warung situ Pah tapi anak itu sengaja menabrak Lexa sampai minuman Lexa tumpah ke baju karena Lexa kesal Lexa ambil ember didekat situ dan mengisinya dengan air dari comberan" Alexa menjelaskan dengan rinci.


"Astaga" Sam memegangi kepalanya.


"Ehh kamu jangan fitnah anak saya ya, sayang tadi kamu tidak menabrak Alexa kan?" tanya ibu itu pada anaknya.


Anak itu berbohong dan menggelengkan kepalanya.


"Tuh lihat Pak Sam anak saya engga menabrak anak bapa" teriak Ibu itu.


"Iya iya Bu tenang ya saya minta maaf namanya juga anak-anak salah paham itu biasa maafkan Lexa ya Bu" Sam berusaha menenangkan ibu itu.


Namun tak disangka Lexa mengambil ember dari depan rumahnya pergi kedepan jalan dan kembali mengambil air comberan satu ember kecil.


"Kalau kalian tidak pergi dari rumahku maka aku akan siram kalian!" ucap Alexa dengan wajah datarnya.


Membuat Ibu dan anaknya ketakutan dan pergi meninggalkan rumah Sam.


"Lexa nak kamu tidak boleh seperti itu" Sam berusaha mendidik Alexa.


Alexa yang kesal selalu disalahkan akhirnya membanting ember dan masuk kedalam rumah dengan wajah kesal.


"Lexa tunggu Papa belum selesai bicara nak" Sam mengejar Alexa tapi Alexa langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


"Sepertinya besok aku harus menemui Kimmy aku tidak sanggup lagi mendidiknya bagaimana bisa Alexa tumbuh menjadi anak se nakal ini padahal aku sudah berusaha mengajarkan hal-hal baik siapa tau Kimmy sudah sembuh dan bisa menasehati puterinya lagipula sudah tujuh tahun aku tidak pernah menjenguknya" ucap Sam yang sudah kepusingan dengan Alexa.