Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 91 Berbohong


Lio mengetuk pintu kamar tuan mudanya, berharap pemilik kamar itu mengingat kalau sudah seharusnya mereka berangkat menuju bandara karena satu jam lagi pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas


Ia sudah menghela nafas sebanyak ketukannya di pintu tapi sepertinya tuan mudanya masih tidak berniat untuk mengakhiri kesenangannya


Sekali lagi Lio melirik jam di pergelangan tangannya. Seandainya mereka menggunakan jet pribadi, ia tidak akan mempermasalahkan seberapa lama waktu yang di butuhkan tuan mudanya itu untuk bersenang-senang


Bukan juga tentang uang yang akan mereka buang percuma untuk membeli tiket pesawat baru karena bagaimanapun ia tau seberapa banyak harta yang dimiliki tuannya itu, tapi Lio lebih memikirkan tentang jadwal yang sudah ia persiapkan yang harus berantakan hanya karena hal ini


Sekali lagi Lio menarik nafasnya berat, ia tidak akan berhenti mengetuk pintu sampai tuannya itu muncul di hadapannya sekalipun ia yakin konsekuensi yang harus ditanggungnya akan sangat besar karena perbuatannya itu


"Aku tidak tuli, Lio!" geram Mike dengan muka di tekuk


"Maaf tuan! kita akan ketinggalan pesawat kalau tidak berangkat saat ini juga" ucap Lio seraya mengambil koper dari tangan Embun yang keluar dengar rambut yang sedikit berantakan


"Kalau ketinggalan pesawat bagaimana? haduh aku kan sudah menyuruhmu berangkat tadi!" omel Embun menarik tangan Mike untuk mempercepat langkahnya


"Aku tinggal membeli tiket pesawat yang baru. Bahkan aku juga bisa membeli pesawat itu kalau aku mau!"


Lio berjalan mendahului pasangan suami istri yang masih sempat untuk meributkan hal yang tidak perlu itu, padahal mereka seharusnya sudah berangkat karena jalanan kota Jakarta yang tidak pernah bisa di prediksi kapan akan mengalami kemacetan


"Sebaiknya lakukan itu kalau nanti kamu sudah kembali kesini. Kasian Lio sudah dari tadi menunggumu"


Embun mendorong tubuh Mike hingga memasuki mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Lio


"Huh! seharusnya kasian padaku, bukan malah kasian sama orang yang sudah mengganggu kita tadi" gerutu Mike sambil menatap kesal pada Lio yang seakan tidak peduli dengan kekesalan tuannya itu


"Aku akan merindukanmu, sayang! hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah tiba disana"


Embun melambaikan tangannya hingga mobil yang membawa Mike tidak terlihat lagi olehnya.


Dengan bersenandung, Embun kembali kedalam kamar. Sebelum ia membersihkan diri, terlebih dulu ia memilih pakaian yang akan ia gunakan saat nanti berbelanja dengan Nabila ke pusat perbelanjaan


Masih ada waktu sampai Nabila datang, ia harus segera membersihkan diri karena saking buru-burunya tadi ia bahkan tidak sempat membasuh sisa suaminya dan langsung mengenakan pakaiannya


*


*


Nabila sedikit malas untuk menemui Embun hari ini, seandainya bisa ia hanya ingin berbaring di ranjangnya seharian ini tapi janji yang sudah terlanjur ia ucapkan membuatnya tidak bisa mengelak dari tanggung jawabnya


Hal itu juga yang membuatnya tidak bisa fokus pada pekerjaannya akhir-akhir ini. Tapi tetap saja ia juga masih tidak punya nyali untuk menyetujui ajakan kekasihnya itu


Nabila memandangi wajahnya di balik kaca spion ojek online yang ditumpanginya. Lingkaran mata yang sudah coba ia samarkan tetap saja terlihat meski tidak seperti saat ia bangun dari tidur tadi pagi


Seminggu ini ia sudah terlalu banyak menyiksa dirinya, sudah saatnya ia menenangkan hatinya dengan mengobrol banyak hal pada Embun seperti saat mereka masih tinggal bersama


Ia memantapkan hatinya untuk tidak memikirkan permasalahannya dengan Bian untuk sesaat. Setidaknya sampai pimpinannya pulang dan ia harus kembali bertemu dengan pria itu lagi di kantor


"Kenapa kakak lama sekali? hampir saja tadi aku mengajak Siska untuk menjemput kakak"


"Siska siapa? lagian kenapa kau sudah se rapi ini bun?" Nabila menatap tampilan paripurna Embun dengan curiga, mereka tidak berencana untuk keluar tapi melihat Embun sudah berdandan seperti ini sudah pasti ada yang di rencanakan adiknya itu


"Nanti aku ceritakan di jalan. Kita sudah terlambat!"


Nabila mengikuti langkah Embun yang menariknya memasuki mobil dan disana sudah ada seorang wanita yang duduk tepat di belakang kemudi


"Perkenalkan kak, dia adalah asisten yang akan menemaniku kemana-mana. Kakak bisa memanggilnya Siska"


Nabila mengangguk meski tidak mengerti untuk apa seorang asisten buat Embun yang hanya berada di dalam rumah


"Lantas, kita mau kemana? bukannya pimpinan tidak memperbolehkan kita keluar begitu saja tanpa izin darinya?"


Embun tertawa canggung. Tadi Siska juga sudah mengingatkannya tentang hal itu tapi ia tetap bersikeras bahwa Mike tidak akan marah kalau dia keluar sebentar untuk berbelanja


"Hmm… Mike sudah mengizinkan, lagipula kita hanya akan berbelanja saja setelah itu pulang"


"Kau tidak sedang berbohong kan, Bun?" tanya Nabila menyelidik


"Tidak, tentu saja tidak! kakak tanya saja sama dia kalau tidak percaya"


Embun menggigit bawah bibirnya, ia takut kalau sampai kakaknya benar menghubungi suaminya dan kebohongannya terbongkar bisa-bisa semua rencananya hanya akan tinggal rencana belaka


"Baiklah, kakak percaya. Tapi awas saja kalau sampai ketahuan kalau kau berbohong" ancam Nabila


Embun menghela nafasnya lega, kali ini dirinya selamat tetapi ia tidak tau apa yang akan terjadi padanya besok saat kebohongannya terbongkar


Setidaknya hal itu akan ia pikirkan besok karena sekarang ia hanya akan bersenang-senang