
Jatuh cinta mungkin ungkapan yang tepat untuk Mike saat ini. Secara tidak sadar pikiran-pikirannya hanya di penuhi dengan permasalahan perusahaan serta gadis itu
Ia juga tidak menampik, sisi hatinya yang kini berbahagia hanya karena pertemuannya dengan gadis bermata bulat itu
Namun, mengatakan kalau ia telah jatuh cinta adalah hal yang tidak mungkin ia lakukan karena ia sendiri perlu waktu untuk membuktikan hal itu
"Tuan…" Lio menepuk pundak Mike, menyadarkan tuannya itu yang sedari tadi terlihat sedang mengkhayalkan sesuatu
"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Mike terkejut
"Sekitar sepuluh menit yang lalu tuan. Maaf, saya langsung masuk karena tuan terlihat sedang memikirkan sesuatu dan tidak mendengar suara ketukan pintu"
"Tidak apa-apa, saya hanya sedang kepikiran tentang perusahaan saja" kilah Mike
"Ini berkas-berkas yang tuan minta serta data-data pihak yang terlibat dalam permasalahan ini" Lio menyerahkan setumpuk berkas yang ia satukan dalam sebuah map
"Bagaimana perkembangan disana?"
"Seperti yang tuan katakan, permainan kali ini melibatkan orang lama dalam perusahaan. Ia menyebar anak buahnya di tiap kantor cabang milik kita dan menurut data yang saya dapatkan hampir setengah dari pegawai kita merupakan bawahannya"
"Hmm…lebih buruk dari yang saya kira."
"Selanjutnya apa rencana tuan?" tanya Lio penasaran
"Saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum, meskipun nantinya tidak ada pengembalian dana sekiranya ada efek jera untuk pelaku"
"Apa tuan besar nantinya tidak keberatan dengan keputusan tuan, mengingat pelakunya adalah teman dekat tuan besar?"
"Kau tenang saja, papa sudah menyerahkan semua keputusan padaku"
"Kenapa tidak di selesaikan secara kekeluargaan saja tuan?"
"Hhh… Dalam urusan bisnis tidak ada istilah seperti itu, ketika bersalah seseorang harus berani bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya"
"Anda benar tuan, kalau begitu sa-"
tok!tok!
Pembicaraan mereka terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan Mike, dan yang mengejutkan ternyata tamu mereka adalah sahabat papanya sekaligus orang yang mereka bicarakan
"Maafkan Paman, baru kali ini Paman bisa menyambut kedatangan mu di kantor ini secara khusus" sapa Edwar ketika ia sudah berhadapan dengan Mike yang tengah berdiri menyambutnya
"Tidak perlu sungkan begitu Paman, seharusnya saya yang menemui Paman terlebih dahulu" Mike mengajak Edwar untuk duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya, setelah itu ia mengibaskan tangannya ke arah Lio supaya meninggalkan mereka berdua disana
Mike yakin kalau sahabat papanya itu sudah mengetahui apa yang ia lakukan saat ini. Dan tentu saja ia juga mengetahui, maksud terselubung dari kedatangan pria paruh baya itu
Setelah obrolan ringan keduanya, Mike bisa melihat kalau Edwar tidak hanya matang dalam segi usia namun juga dalam segi pemikiran serta perkataan. Wajar saja banyak orang yang bisa tertipu dengan semua yang ia ucapkan
"Apa yang membuatmu akhirnya mau menggantikan posisi Max disini?" tanya Edwar berbasa-basi
"Tapi, sepertinya kau terpaksa melakukannya. Padahal sudah berapa kali paman katakan pada papamu itu, kalau ia bisa beristirahat saja di rumah sedangkan perusahaan bisa ia percayakan pada Paman"
"Mungkin papa punya pemikiran tersendiri akan hal itu, Paman."
"Sepertinya begitu" Edwar mengedarkan pandangannya pada isi ruangan itu hingga matanya terhenti pada berkas yang berada di atas meja
"Papa sekarang terlihat semakin sehat setelah menikmati masa tuanya, apa Paman tidak berniat untuk mengikuti jejak papa?" tanya Mike mengalihkan tatapan Edwar
"Paman tidak memiliki siapa-siapa, jadi Paman hanya akan menghabiskan hidup dengan bekerja"
Rasa haru menyelimuti hati Mike, terlepas dari perbuatan Edwar selama ini sebenarnya pria tua itu merupakan sosok yang baik. Mike masih mengingat kedekatan mereka berdua saat ibunya masih hidup
Bagaimana pria itu menangisi kepergian ibunya serta perlakuannya selama ini terhadap dirinya yang terkadang bertolak belakang dengan yang papanya lakukan
"Paman hanya mengingatkan saja Mike, menjadi pimpinan di perusahaan besar seperti ini bukan hal yang mudah. Kawan bisa saja menjadi lawan, sebisa mungkin untuk berhati-hati dalam membuat keputusan"
Mike hanya mengangguk atas perkataan Edwar, memberikan ruang untuk pria tua itu mengatakan maksud kedatangannya
"Kalau menemukan masalah, sebaiknya jangan gegabah untuk melawan. Tidak semua masalah harus di selesaikan dengan kekerasan"
"Jaga perusahaan ini, jangan sampai hancur saat berada di bawah kepemimpinan mu. Paman yakin kau bisa di andalkan" ucap Edwar sembari menepuk pundak Mike
Mike yakin saat ini Edwar sedang mengultimatum dirinya untuk tindakan yang sedang ia lakukan. Namun, keputusan Mike sudah bulat sehingga ia menganggap peringatan itu hanya sebagai angin lalu saja
"Terima kasih untuk saran paman, aku akan selalu mengingat apa yang paman ucapkan"
"Kalau begitu paman permisi dulu, masih banyak yang harus paman kerjakan. Kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi paman"
Setelah berjabat tangan, Mike mengantar kepergian Edwar hingga di depan pintu. Setelah itu ia kembali bergelut dengan berkas-berkas yang berserakan di meja kerjanya
***
Sesampainya Edwar di ruang kerjanya, ia menghempaskan tubuhnya di kursi. Ia memang bermaksud memberikan peringatan pada Mike untuk tidak bertindak lebih jauh dari apa yang ia lakukan saat ini
Tapi sepertinya keinginannya itu tidak akan terpenuhi, melihat dari sorot mata anak sahabatnya itu yang seakan mengatakan kalau ia akan menyelesaikan apa yang sudah ia mulai
Sebenarnya sudah sejak lama Edwar menginginkan posisi yang di pegang oleh Max sahabatnya, namun kesempatan untuk menggeser sahabatnya itu tidak mudah bahkan setelah puluhan tahun ia mencoba
Satu-satunya cara adalah dengan menikam sahabatnya itu dari belakang seperti ini. Terbukti, apa yang ia lakukan sejak lama itu secara perlahan membuat pondasi perusahaan sedikit demi sedikit menjadi goyang
Bukan ia tidak suka dengan keberhasilan Max, hanya saja ia merasa cemburu karena ternyata mantan kekasihnya itu menikah dengan Max
Rasa cemburu itu berkembang menjadi kemarahan saat ia menemukan tubuh kaku wanita yang di cintainya itu di dalam kamar akibat sakit yang di deritanya
Merasa Max menyia-nyiakan wanita yang sudah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk dirinya, membuat Edwar yang sudah diliputi kemarahan memilih menikam dari belakang sahabat sekaligus musuhnya itu untuk membuatnya menderita
Namun siapa sangka,kini rencananya harus terhalang oleh kehadiran anak dari kekasihnya di masa lalunya itu