
"Si*l!" maki James pada dirinya sendiri karena tidak terima dengan fakta bahwa ia hanya kehilangan kedua kakinya namun Tuhan masih menyisakan nyawa untuknya
Padahal ia berharap kematian itu datang saat ia merasa bahwa kecelakaan hari itu ikut membawa serta Embun dan Mike bersamanya ke alam baka
Karena hingga saat ia sadar, James sama sekali belum mengetahui kenyataan kalau pasangan muda itu berhasil selamat dari maut
Tetapi James tentu tidak akan tinggal diam kalau saja mengetahui kehidupan bahagia yang kini mereka jalani selepas perbuatan konyolnya saat itu
"Erik!" teriak James memanggil asistennya
"Si*l! disaat di butuhkan kenapa orang-orang bodoh itu tidak juga ada yang datang!" James masih terus memaki ketidakberdayaannya. Ia membutuhkan bantuan anak buahnya untuk mencari informasi selama ia tidak sadarkan diri tapi sudah beberapa kali ia berteriak tetap saja anak buahnya tidak ada yang datang
"Apa anda perlu bantuan,tuan? ayah anda tadi berpesan untuk menjaga anda selama beliau pergi" seorang perawat jaga mendekati James ketika mendengar suara teriakan dari pria itu
"Panggilkan anak buah ku kesini!"
"Maksud tuan, pengawal yang berjaga di depan pintu sana?" tanya perawat itu bingung
"Tentu saja mereka! dasar bodoh! cepat panggil mereka kesini sekarang juga!"
"Anda baru saja sadar dari koma, jadi sebaiknya anda beristirahat saja dari pada terus berteriak seperti ini"
"Kau mau mati,hah! cepat panggil mereka kesini, aku tidak butuh perkataan omong kosong mu itu" geram James
Ia tidak peduli, sekalipun ia kembali tidak sadar setelah bersikeras seperti itu tapi yang ia inginkan hanya mencari jawaban atas pertanyaannya
"Baiklah, saya akan memanggil mereka kesini tapi anda harus berjanji untuk tidak berteriak seperti itu lagi atau saya akan menyuntikkan obat bius supaya anda bisa langsung tertidur" ancam perawat itu karena merasa kesal dengan pasiennya yang temperamental tersebut padahal ia juga penasaran pada pasien yang di anggapnya unik itu karena kesadaran bahkan tenaganya seolah seperti orang yang tidak sedang sakit
"Brengs*k! cepat panggil mereka kesini!"
Prank!
Perawat itu berteriak sembari menghindari serpihan gelas yang hampir mengenai kakinya. Ia berlari keluar sambil memegangi jantungnya yang berdetak sangat kencang
Seketika dua orang pengawal yang berjaga di luar pun berlari masuk dan sambil menunduk berdiri di depan ranjang dimana James tengah memandang mereka dengan mata memerah
"Dimana Erik?"
"Bos Erik lagi di markas, bos" pria dengan kepala hampir botak menjawab cepat
"Sejak kapan Erik menggantikan posisiku menjadi bos kalian?" James bukan orang bodoh yang lambat mencerna maksud perkataan anak buahnya tapi ia juga sedikit terkejut karena secepat itu mereka mengangkat Erik untuk menggantikannya sementara disana
Kedua anak buahnya itu saling pandang. Mereka sedang menyamakan perkataan yang nantinya akan mereka katakan pada bosnya itu melalui bahasa mata mereka. Bagaimana pun mereka tidak mau salah memberikan jawaban yang bisa membuat hidup mereka berada dalam bahaya
"Bos besar yang menyuruh Erik untuk memimpin sementara di markas sampai nanti bos kembali pulih" jawab pria itu lagi sembari menunggu respon James atas ucapannya
James berdecih. Ia cuma tertidur sebentar tapi posisinya sudah di gantikan orang lain padahal ia masih percaya diri untuk tetap memimpin kelompok mafia mereka sekalipun kini kakinya sudah tidak bisa di gunakan
Ia pun mengangguk mengerti alasan ucapan ayahnya yang mengajaknya untuk kembali ke kampung halaman mereka, ternyata pria tua itu hanya bersilat lidah soal pemimpin sementara pada anak buahnya padahal kenyataannya Erik akan terus memimpin kelompok mereka untuk seterusnya
"Cepat katakan apa yang terjadi selama aku tertidur?"
"Maaf bos, selama ini kami hanya terus berjaga disini jadi kami juga tidak tau tentang yang terjadi di luaran sana sepeninggal kecelakaan hari itu" sekali lagi mereka menjawab dengan singkat untuk menghindari rentetan pertanyaan yang bakal bikin mereka kesulitan untuk menjawab
"Cih! kalian masih saja sama bodohnya dengan yang lain. Keluar kalian dari sini!" keduanya menunduk setelahnya menghilang dari pandangan James
"Akh! aku akan membunuhmu, brengs*k! tunggu saja sampai aku datang ke markas dan memberikanmu pelajaran!" cerca James seraya memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut.
Kini ia harus bisa menemui Erik untuk mempertanyakan semua hal yang terjadi selama ia tidak sadarkan diri sekaligus mencari cara untuk menghindar dari ayahnya yang terus memaksa untuk membawanya pergi