
Erik tengah kebingungan untuk melaksanakan perintah dari James. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk mengirimkan buket bunga pada Embun, namun selalu saja tidak ada satu pun yang berhasil tiba di tangan gadis itu
Penjagaan di rumah itu pula makin di perketat sejak Mike mendapatkan pesan ancaman dari James, sehingga Erik benar-benar tidak memiliki celah untuk bisa melaksanakan tugasnya
Selama kegagalannya itu, ia selalu menghindari bertemu dengan bosnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa selama ini ia gagal mengantar hadiah untuk Embun, karena balasan dari kegagalannya itu sungguh tidak bisa ia bayangkan
Hari ini pun, ia kembali untuk mencoba peruntungannya. Setelah orang suruhannya berdiri di depan gerbang yang tertutup hampir dua jam lamanya, di kejauhan ia bisa melihat mobil yang ditumpangi Embun keluar dari gerbang rumah mewah itu
Entah apa yang di katakan orang suruhannya itu sehingga Embun mau menerima buket bunga yang dikirimkannya. Ia tidak peduli, yang terpenting tugasnya sudah selesai ia kerjakan sehingga ia bisa mengangkat wajahnya ketika nanti bertemu dengan James
***
Pesta pernikahan tiga hari lagi akan di gelar. Hiruk pikuk sudah nampak di rumah calon mempelai perempuan yang tidak lain adalah rumah Mike
Untuk sementara sampai nanti pesta pernikahan di langsungkan, Mike akan tinggal di rumah papanya karena hal itu yang di inginkan papanya sebelum putranya itu menikah
Di rumah Mike juga sudah di penuhi dengan sanak saudara Embun yang hadir untuk menyaksikan hari bahagia mereka. Meski tidak di hadiri oleh kedua orang tuanya setidaknya kedatangan keluarganya sedikit mengurangi kesedihan di hati Embun
"Selamat Embun sayang, sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Mike Jarvis" Nabila memeluk Embun yang tengah sibuk memeriksa keperluan pesta
"Akhirnya kakak datang juga! aku hampir pingsan karena kelelahan tapi kakak bahkan baru menemui ku hari ini" Embun memanyunkan bibirnya, ia merajuk.
Nabila makin mengeratkan pelukannya. Ia memiliki tugas lain yang di bebankan padanya, sehingga ia pun tidak kalah sibuknya dengan Embun dalam mempersiapkan acara pernikahan tersebut
"Apa kau lupa kalau aku memiliki tugas penting dari calon suamimu itu?" bisik Nabila mengingatkan
Embun terkekeh. Ia sebenarnya sangat gugup menghadapi pernikahannya sehingga ia selalu butuh seseorang untuk menemaninya, dan satu satunya orang yang dibutuhkannya saat ini hanya Nabila
Sampai ia terlupa bahwa Nabila sebenarnya jauh lebih sibuk darinya. Kalau ia masih mendapat bantuan dari wedding organizer dalam mempersiapkan pernikahan ini, berbeda dengan Nabila yang harus bolak balik kampung halaman mereka untuk mengabarkan tentang kabar bahagia Embun
Menjawab setiap pertanyaan seputar kabar mendadak yang di bawanya layaknya seorang asisten yang bekerja pada atasannya. Ia juga yang mengurus kedatangan serta segala keperluan keluarga Embun selama disana
Maka wajar saja bila Nabila tidak bisa selalu berada di samping Embun meskipun di saat ia butuhkan
"Aku lupa, kalau kesibukan kakak beberapa hari ini mengalahkan kesibukan pria menyebalkan itu"
Nabila menggelengkan kepalanya. Tidak lama lagi Mike akan menjadi suaminya tapi masih saja Embun menyebutnya dengan panggilan seperti itu
"Sebaiknya kakak menemaniku ke salon hari ini. Aku akan mati kebosanan bila harus kesana sendirian"
Nabila mengangguk setuju. Semua pekerjaan sudah ia lakukan, jadi tidak ada salahnya kalau mereka melakukan sesuatu bersama sebelum nantinya Embun sibuk dengan hidup barunya
Keduanya pun berangkat ke salon yang sudah di pesannya jauh hari untuk melakukan perawatan sebelum pernikahan.
Embun ingin membuat Mike terpukau saat bertemu dengannya nanti, sehingga ketika mama mertuanya menyarankan untuk perawatan diri kesana ia pun menyetujui
Ketika mobil yang membawanya hendak keluar dari gerbang, ia melihat seorang pria tua tengah memegang sebuket bunga yang ia yakini akan di berikan padanya
Perasaan iba merambat di hatinya, ia pun dengan senang hati menerima buket bunga itu dan meletakkannya di sampingnya.
"Bunga yang cantik. Siapa yang mengirimnya?" tanya Nabila sambil menyentuh bunga yang berwarna warni itu
"Entahlah kak, aku hanya kasian sama bapak tua yang mengantarnya. Pasti sejak tadi ia berdiri disana tapi pengawal pengawal itu tidak mengizinkannya masuk"
Embun kembali larut dalam obrolan panjangnya bersama Nabila dan melupakan buket bunga itu sejenak
Ia baru teringat ketika mereka telah tiba di rumah, dan buket bunga itu di bawa masuk oleh supir yang tadi mengantar mereka
"Aku tidur duluan kak, badanku rasanya tidak memiliki tulang saking lelahnya"
"Aku juga sangat lelah, kalau begitu istirahat lah. Aku akan ke kamarku"
Keduanya berjalan berbeda arah. Embun menuju ke kamarnya di lantai dua sementara Nabila menuju ke kamar yang dulu di tempati Embun di lantai satu
Embun mengambil baju tidur dan berniat mengganti pakaiannya sebelum ia terlelap. Tapi matanya menangkap buket bunga yang tadi ia letakkan di atas meja rias
Lama ia mencium bunga yang sudah di bawanya seharian itu. Saat ia letakkan kembali, sebuah kertas terjatuh ke lantai.
Embun mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan yang tertera di dalam kertas berwarna pink itu
Tubuh Embun menegang setelah membaca tulisan pada kertas itu. Bahkan kertas yang di pegangnya itu terlepas begitu saja.
Pikiran-pikiran buruk berhasil menguasai kesadarannya hingga menyisakan ketakutan yang perlahan menelannya dalam gelapnya malam