
Gerimis menjadi pemandangan yang pertama kali menyambut para penduduk bumi kala membuka mata mereka pagi ini.
Sebagian orang tetap terlelap dalam buaian mimpi namun sebagian lainnya sudah terjaga karena tugas dan tanggung jawab telah menunggu mereka
Begitu pula dengan Embun yang sedari subuh sudah bangun dari tidurnya. Ia merasa sangat bersemangat menyambut hari pertamanya bekerja, bahkan dalam hidupnya ia tidak pernah sangat bersemangat seperti ini
Hari ini Embun resmi menjadi seorang pegawai di sebuah toko buku yang cukup besar di bilangan Jakarta
Berkat bantuan dari seorang teman Nabila yang merupakan keponakan dari pemilik toko tersebut, membuat Embun bisa di terima bekerja sekalipun hanya memiliki ijazah SMP saja
Dengan memakai blouse lengan panjang serta rok span selutut,Embun telah siap untuk memulai harinya sebagai salah satu pekerja di kota besar itu
Embun berangkat lebih dulu dari Nabila karena untuk sampai di tempat kerjanya, ia harus menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam menggunakan angkutan umum
"Tokonya baru buka jam 9 pagi dek, nanti saja kamu kesini lagi kalau tokonya sudah buka" ucap wanita bertubuh gempal saat melihat Embun bersandar di depan pintu toko
"Perkenalkan saya Embun, saya pegawai baru disini kak" Embun menyodorkan tangannya tapi wanita itu seakan tidak berminat untuk menyambut uluran tangannya
"Oh..anak baru toh, kirain pelanggan" ucapnya lagi kemudian membalikkan badannya
Embun hanya bisa menghela nafasnya, sekiranya perjuangannya akan sedikit berat untuk ia lalui mengingat wanita di hadapannya itu akan menjadi senior yang akan sulit ia dekati
Pekerjaannya tidak begitu sulit karena ia hanya di haruskan untuk menata buku-buku sesuai dengan tempatnya, membersihkan buku dari debu yang menempel serta membantu pelanggan yang datang saat kesulitan mencari buku yang di butuhkan
"Siapa yang meletakkan buku-buku ini di lantai seperti ini?" omel wanita gempal itu yang baru ia ketahui bernama Leni
"Ma-maaf ka, saya lagi membersihkan buku-buku ini setelah selesai saya rapikan kembali ke tempatnya" ucap Embun menunduk
"Kamu kerja yang bener dong, ini kan buku mahal. Memangnya kalau buku ini sampai rusak kamu bisa bayar!" cerca Leni dengan nada yang sedikit meninggi
Embun hanya diam mendengarkan apa yang seniornya itu katakan. Ia tidak sepenuhnya salah mengingat hari ini merupakan hari pertamanya bekerja jadi kalau ada sedikit kesalahan setidaknya masih bisa di maklumi
Tapi untuk membela diri rasanya tidak perlu, karena kesan pertamanya akan buruk di mata para rekan kerjanya kalau belum sehari bekerja ia sudah berani ribut dengan seniornya
"Sudah mbak Len, malu di lihat pelanggan" tegur Sani dengan logat jawanya yang kental
"Gimana aku gak kesel San, buku ini kan harganya mahal eh malah seenak hati dia taruh di lantai padahal kan kita-kita saja kalau lagi bebersih buku itu pasti hati-hati banget"
"Ya di maklumi saja mbak Len, namanya juga anak baru musti banyak belajar"
"Anak baru mah jangan di maklumi terus San, kalau salah ya harus di marahi biar nantinya gak ngelunjak"
Embun hanya melihat seniornya itu dari sudut matanya saja, berharap omelnya itu segera berakhir karena lehernya sudah terasa kaku lantaran menunduk terus sedari tadi
"Si ganteng datang!" riuh suara senior perempuan terdengar di sela omelan panjang Leni
"Mana?" tanya senior lain ikut menimpali sehingga perbincangan tentang si ganteng itu terus terdengar bahkan membuat suara Leni nyaris tenggelam oleh suara mereka
Embun sebenarnya penasaran akan si ganteng yang jadi pembicaraan itu namun jiwa ingin taunya harus ia tahan mengingat ada dua senior yang masih berdiri di depannya
"Calon suami idaman"
"Mau dong yang kayak begini satu, ya Allah" bisikan-bisikan terdengar dari kerumunan pekerja perempuan yang seakan menyambut kedatangan tamu agung mereka
Ia melirik kedua seniornya itu yang sepertinya sudah tidak fokus lagi terhadapnya, merasa mendapat kesempatan secara perlahan Embun berjalan menjauh dan bersembunyi di balik rak yang sekiranya tidak terjangkau lagi oleh mata keduanya
"Alhamdulillah…selamat juga akhirnya" Embun mengusap dadanya, ternyata memiliki tubuh yang mungil bisa berguna juga di saat-saat seperti ini
Ketika merasa aman ia pun berbalik hendak kembali melanjutkan pekerjaannya, namun tubuhnya menabrak sesuatu yang keras membuatnya terjatuh dengan sempurna di atas lantai
Ia pun meringis sembari mendongak melihat benda apa yang tadi sempat ia tabrak. Sesaat Embun terdiam mengagumi wajah tampan pria yang ditabraknya, hingga tatapan tajam itu menyadarkannya
"Maaf tuan, saya tidak senga_" ujung kalimat itu menggantung saat pria tampan itu justru melewatinya begitu saja
Ingin sekali sumpah serapah itu keluar dari mulut kecil Embun tapi ia juga takut kalau yang ia lakukan membuatnya sampai di pecat
Tidak lucu kan baru pertama bekerja namun harus di pecat hanya karena masalah kecil begini
Setelah menepis debu yang menempel di pakaiannya, Embun berniat pergi untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun suara berat seorang pria menghentikan langkahnya
"Hei cebol, jangan coba-coba untuk lari"
Embun mengernyit, meskipun memiliki badan yang minimalis tapi sekiranya ia tidak merasa seperti yang di sebutkan oleh pria itu
"Jangan pura-pura tuli!" geram pria itu saat Embun tidak memperdulikan perkataannya
"Anda memanggil saya?" tanya Embun menunjuk dirinya sendiri
"Tidak ada orang lain lagi yang berbadan pendek selain kamu" sarkas pria itu
"Perkenalkan nama saya Embun,tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Embun ramah sembari mencengkram ujung bajunya menahan marah
"Bawakan buku karangan Jane Austen" Embun tersentak, ia tidak pernah mendengar penulis dengan nama itu apalagi ia yang masih baru bekerja disana belum hapal dimana letak buku tersebut
"Jane siapa tuan?"
"Jane Austen" jawab pria itu dengan sedikit membentak
"Saya tidak tuli tuan, jadi anda tidak perlu membentak seperti itu. Silahkan tunggu sebentar, saya akan mencari bukunya dulu"
"Saya tidak suka menunggu, jadi cepat lakukan pekerjaanmu"
Setengah berlari Embun mendekati Leni yang berdiri tidak jauh darinya. Menanyakan letak buku yang di inginkan pria itu, serta kembali secepat yang bisa ia lakukan
"Ini buku yang anda inginkan"