
Tidur Embun terusik saat perutnya merasa lapar karena malam tadi ia tertidur lebih cepat dan tidak sempat mengisi perutnya dengan makanan
Apalagi selama kehamilannya terkadang ia memang sering terbangun hanya untuk sekedar memakan sesuatu yang tiba-tiba diinginkannya
Seperti malam ini, ia sangat menginginkan sepiring gado-gado yang sedikit pedas. Membayangkannya saja sudah membuat air liurnya seakan menetes.
"Sayang bangun! aku lapar!" Embun mengguncang lengan Mike hingga membuat pria tampan itu membuka matanya
"Kau mau makan apa, sayang? biar aku bangunkan bibi supaya menyiapkan makanan untukmu" layaknya suami siaga, Mike segera terbangun begitu mendengar rengekan istrinya meskipun matanya rasanya enggan sekali terbuka karena ia baru saja terlelap
"Belikan aku gado-gado! aku mau itu" rengek Embun
Mike melirik jam di dinding kamarnya, sembari mengernyit ia pun berpikir dimana ia bisa mendapatkan sebungkus gado-gado di tengah malam begini
"Bagaimana kalau malam ini makan yang lain saja? besok aku janji akan mencarikan makanan itu untukmu" Mike bernegosiasi, walaupun ia tau ia tidak akan pernah menang tiap melakukan itu dengan istrinya
"Aku maunya hanya itu, sayang" jawab Embun dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis
"Hhh…baiklah! tunggu disini, aku akan mencarikan makanan itu untukmu" Mike bergegas membasuh wajahnya kemudian berganti pakaian
Sepuluh menit kemudian ia telah siap dengan sebuah kunci di tangannya tapi baru saja melangkah keluar kamar, sebuah langkah kecil juga mengikutinya dari belakang
"Kau mau kemana, sayang?"
"Aku mau ikut denganmu. Aku sudah tidak sabar ingin memakan makanan itu" Embun mengusap perutnya yang sedikit menonjol
"Angin malam tidak baik buat ibu hamil, sayang. Sebaiknya kamu tunggu disini, biar aku saja yang mencari makanan itu untukmu"
Embun tertunduk. Kehamilan membuatnya sedikit sensitif, bahkan tidak ayal air matanya akan langsung mengalir begitu keinginannya tidak terpenuhi
"Baiklah, kamu boleh ikut asal gunakan pakaian yang lain. Aku tidak mau Lio melihatmu memakai pakaian tidur seperti ini" Mike melunak. Ia paling tidak tahan melihat air mata istrinya apalagi dalam masa kehamilannya
"Bukannya Lio tidak ada disini? bagaimana caranya dia bisa melihatku?" tanya Embun dengan bingungnya
"Aku sudah menyuruh Lio kesini membantu kita mencari makanan itu. Sebentar lagi dia datang, sebaiknya cepat ganti pakaianmu"
Seperti anak kecil, Embun hanya menurut saat Mike membawanya masuk ke kamar dan memilihkan baju yang akan di pakainya.
*
*
Sementara itu, Lio yang baru saja menyudahi kegiatan berolahraga nya tengah mengendarai mobilnya menuju rumah milik tuannya yang tanpa kenal waktu selalu saja menyusahkan dirinya
Entah permintaan apa lagi yang kali ini nyonya rumah itu inginkan. Tapi anehnya ia selalu saja jadi tumbal ketika istri tuannya itu menginginkan sesuatu
"Hah! padahal bukan aku yang berbuat tapi kenapa harus aku yang kesusahan begini" gerutu Lio di sepanjang perjalanan
Bukannya tidak mau menolak, hanya saja pekerjaannya saat ini memang ia butuhkan. Selain itu pengabdian turun temurun keluarganya seakan sudah mendarah daging sehingga mereka merasa sampai kapanpun pengabdian itu harus terus di lakukan tanpa bisa di tolak
"Saya sudah sampai, tuan" sebuah pesan singkat Lio kirimkan karena tidak menemukan tuannya yang biasa langsung menyambutnya ketika malam-malam sebelumnya mereka mencari makanan yang juga nyonya nya itu inginkan
Lima belas menit kemudian baru lah penampakan tuanya beserta sang istri yang wajahnya terlihat tertekuk kesal keluar dari pintu rumah mewah tersebut
Lio yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya. Ia bisa membaca situasi apa yang sudah terjadi dan buruknya ia selalu terjebak dalam situasi tidak mengenakkan itu
"Kita mau kemana tuan?"
"Istriku ingin gado-gado, coba berkeliling di sekitaran sini mungkin masih ada yang menjual makanan itu"
Kini wajah Lio yang terlihat suram. Berkeliling di seluruh kota Jakarta pun tidak akan ada yang berjualan makanan tersebut, karena setahu dirinya pedagang makanan itu hanya ada di siang sampai di sore hari saja sedangkan saat ini sudah hampir pukul dua malam
"Ini sudah hampir pagi tuan, mana mungkin masih ada yang menjual makanan itu" cicit Lio
"Kau dengarkan sayang, Lio saja tidak yakin ada yang menjual makanan itu sekarang. Bagaimana kalau beli makanan lain saja? disini kebetulan masih ada beberapa pedagang yang berjualan" rayu Mike namun lagi-lagi Embun tidak termakan oleh rayuannya
"Kita baru pergi ke satu tempat saja, coba ke tempat lain mungkin saja masih ada yang menjualnya" ucap Embun tanpa melepas pandangannya dari para pedagang
Lio dan Mike hanya bisa mengangguk pasrah, mereka hanya bisa mengikuti keinginan wanita yang menjadi pemegang otoritas tertinggi di dalam mobil itu
Setelah satu jam berkeliling, mereka tetap tidak juga menemukan apa-apa. Meski merajuk, Embun tidak lagi mempermasalahkan saat Mike mengajaknya pulang karena selain mengantuk ia juga sudah merasa pinggangnya terasa akan patah lantaran terlalu lama duduk di dalam mobil