
Mey masih cekatan memeriksa sekaligus memasang selang infusan pada tangan Embun guna memberikan tenaga pada ibu hamil yang mengalami kondisi hiperemesis gravidarum atau kondisi mual dan muntah berlebih selama kehamilan
Mata Mike masih mengawasi semua yang di lakukan dokter kandungan tersebut, namun ia masih tidak berani mempertanyakan apa-apa karena takut akan mendapat Omelan dari wanita itu yang terlihat masih berkutat dengan alat-alat kedokterannya
"Di kertas ini ada resep obat dan vitamin untuk mengurangi mual dan muntah yang di alami Embun. Pastikan juga Embun meminum semua vitamin yang aku berikan" Mey memberikan secarik kertas pada Mike
"Sampai kapan keadaan istriku akan seperti ini?"
"Aku juga tidak bisa memastikan karena kondisi tiap ibu hamil berbeda. Kau cukup memastikan kebutuhan gizi serta waktu istirahat yang cukup bagi Embun"
"Kalau soal itu kau tenang saja"
"Cih! aku bahkan tidak bisa mempercayai mu. Baru di suruh bersabar sebentar untuk tidak menyentuh istrimu saja kau tidak bisa" cibir Mey sembari merapikan peralatan yang di bawanya ke dalam tas
"Istriku sendiri yang memintanya, mana mungkin aku tega tidak memberikannya. Kau sendiri tau kalau selama ini tidak ada wanita yang bisa tahan untuk tidak di sentuh olehku" ucap Mike bangga
Mey bersikap seolah tidak mendengar apa yang sahabatnya itu katakan. Ia lebih memilih segera menyelesaikan pekerjaannya kemudian kembali ke rumah dimana suaminya kini tengah menunggunya
"Biar Lio yang mengantarmu pulang" tawar Mike saat melihat Mey beranjak dari tempatnya duduk
"Tidak perlu. Aku kebetulan membawa mobil kesini"
"Baiklah. Terima kasih sudah datang kesini"
"Tidak perlu sungkan, toh aku juga tetap menunggu transferan darimu" kekeh Mey melangkah menuju ke arah mobilnya terparkir
"Tenang saja, aku akan memberikan bonus yang banyak untukmu"
*
*
Nabila tengah sibuk menata rumah baru yang di beli suaminya untuk mereka tempati setelah menikah. Rumah yang tidak begitu besar tapi sekiranya kini ia tidak lagi kesepian karena ada Bian yang akan selalu menemani hari-harinya
Sejak kepulangannya dari berbulan madu, Nabila yang sibuk dengan rumah barunya sama sekali belum bertemu dengan Embun selain karena jarak rumah mereka yang cukup jauh ia pun masih dalam tahap menyesuaikan diri dengan status barunya
Ia pun yakin bila ada sesuatu yang terjadi dengan adiknya itu, pimpinannya pasti akan segera mengabarkan padanya. Namun, Nabila mungkin terlupa bahwa Mike tentu tidak akan mengganggu pengantin baru yang tengah menikmati masa indahnya hanya untuk hal yang masih bisa diselesaikannya sendiri
Sehingga saat mendengar kabar perihal pendarahan hebat yang di alami Embun dari suaminya sepulang bekerja, Nabila segera meminta Bian untuk segera mengantarnya kesana
"Maaf Bun, lantaran kakak kamu hampir saja kehilangan calon bayimu" lirih Nabila saat melihat kondisi Embun yang memprihatinkan dengan selang infusan yang masih setia terpasang di tangannya
"Jangan merasa bersalah seperti itu kak, bersyukur Tuhan masih mengizinkannya berada di dalam rahimku" ucap Embun berusaha menghibur Nabila
"Ya, kau benar seharusnya aku bersyukur tapi tetap saja aku masih merasa bersalah terhadapmu" ucap Nabila sembari menunduk. ia benar-benar merasa kalau kemalangan yang di alami Embun di sebabkan olehnya makanya ketika mendengar kabar itu ia sesegera mungkin pergi menemui adiknya itu
"Aku tidak mau mendengar itu lagi kak, sekarang kakak cukup ceritakan bagaimana perjalanan bulan madu kakak kemarin" goda Embun namun dengan raut wajah lelahnya
Nabila tersipu saat membayangkan segala hal baru yang belum lama ia rasakan, tapi ia pun merasa segan mengajak bercerita seseorang yang sedang sakit
"Kau harus menunggu hingga benar-benar sehat setelah itu aku akan menceritakan padamu pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan selama hidupku"
"Baiklah kak, tapi ingat kalau kau berhutang cerita padaku"