
"Baru pulang dek? dianterin siapa?" tanya Nabila yang terlihat sedang duduk bersama seorang pria yang Embun kenali bernama Bian di teras kostan mereka
"Iya ka, baru kelar kerjaannya. Tadi di anter teman kerja kebetulan rumahnya searah" jawab Embun sembari tersenyum ramah ke arah Bian
"Kirain di anterin sama pacarnya bun" sahut Bian menimpali
"Pacarannya di pending sampai nanti dapat yang cakep plus banyak duitnya kak" Embun terkekeh tetapi Nabila dan Bian yang mendengar hal itu hanya mencibir
Selama tinggal di kostan Nabila, hampir setiap hari Bian datang untuk sekedar berkunjung ataupun mengantar Nabila pulang setelah bekerja
Mereka berdua bekerja di perusahaan yang sama, namun status mereka disana berbeda dimana Bian yang merupakan pegawai tetap sedangkan Nabila hanyalah tenaga kebersihan disana
Mungkin kesenjangan sosial yang terpampang nyata membuat keduanya masih belum bisa menjalin hubungan yang serius selain hubungan pertemanan seperti saat ini padahal keduanya terlihat memiliki ketertarikan terhadap masing-masing
"Kakak tenang saja, saya pasti bekerja dengan baik disana sebagai balas budi atas bantuan Ka Bian kepada saya. Tapi, sekarang lebih baik kakak perjuangkan perasaan kakak sama ka Nabil dulu soalnya tikungan di depan sana cukup tajam takut ka Bian menyesal karena keduluan orang lain" ucap Embun yang segera berlari masuk kedalam kostan saat tatapan tajam Nabila mengarah padanya
Sepeninggal Embun, keduanya menjadi sedikit canggung bahkan tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya padahal tadi mereka bisa berbicara dengan lancar
"Hmm… Jangan didengerin ya ucapan Embun, dia memang begitu suka bicara blak-blakan" ucap Nabila memecah keheningan
"Gak apa-apa Bil, bener yang di ucapin Embun harusnya aku berani ngomong perasaanku ke kamu sejak lama"
Nabila menjadi salah tingkah, ia sudah lama tau isi hati Bian hanya saja ia juga terlalu malu kalau harus berkata dia juga suka pada pria itu sedangkan keadaan mereka pasti akan menerima banyak tentangan dari banyak pihak terlebih keluarga Bian yang termasuk keluarga terpandang
"Aku suka kamu Bil, hanya saja selama ini aku pendam karena takut kamu jadi tidak nyaman terus menjauh dariku"
"Aku tau cinta tidak harus selalu dapat balasan hanya saja aku berharap kamu menerima perasaanku yang tulus ini"
Nabila masih terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Semua begitu tiba-tiba sehingga ia masih belum menyiapkan mental serta jawaban yang akan ia berikan pada Bian
"Tidak perlu di jawab sekarang, masih banyak waktu dan aku bisa menunggu selama apapun itu. Beristirahat lah kamu pasti capek, aku pulang dulu"
Nabila mengantar kepergian Bian dengan perasaan yang bercampur aduk, entah kenapa urusan hati selalu menjadi beban tersendiri buat Nabila selama ini
Tapi biar lah semua mengalir seperti air karena seperti kata Embun tadi tikungan di depan sana terlalu tajam dan tentu saja ia tidak akan mau kalau sampai Bian menjadi milik perempuan lain
Embun yang sedari tadi memasang telinganya di balik pintu, terus tersenyum saat mendengar pengakuan cinta Bian yang di rasanya begitu tulus
Saat mendengar pria itu berpamitan, secepat kilat ia berlari ke arah lemari untuk menyibukkan diri supaya tidak ketahuan kalau sebenarnya ia sudah menguping pembicaraan mereka
"Kak Bian sudah pulang kak?" tanya Embun sambil meletakkan handuk di bahunya
"Iya" jawab Nabila singkat, kemudian terdiam seakan memikirkan sesuatu
"Terima saja kak, kak Bian orang yang baik"
"Kakak hanya khawatir keluarganya akan menentang hubungan kami"
Embun bisa memahami ke khawatiran Nabila, sebagai perempuan ia pun akan seperti itu bila nanti ada pria kaya yang menyukainya tapi menurutnya tidak ada salahnya untuk mencoba karena kita tidak pernah tau kekhawatiran itu akan terbukti atau tidak kalau tidak pernah di coba
"Masih pacaran ini kak, belum di ajak nikah jadi di jalani dulu saja mumpung di kasih yang baik seperti kak Bian"
Tanpa sadar Nabila mengangguk, membenarkan perkataan Embun. Namun, sedetik kemudian ia menoleh ke arah Embun seperti tersadarkan
"Kamu nguping ya dek? kok tau kalau Bian barusan nembak kakak?"tanya Nabila menyelidik
"Oh itu…sedikit kak, itu juga gak sengaja" jawab Embun sambil meringis
"Oh sedikit ya, tapi kasih nasehatnya lancar sekali kayak sudah denger semua yang tadi kakak omongin?" Nabila memegang tangan Embun yang hendak lari darinya
"Ampun Kak,beneran tadi gak sengaja lewat pas simpan tas di belakang pintu waktu ngedenger kak Bian bilang suka sama kakak"
"Oh…waktu simpan tas di belakang pintu ya, tapi kakak gak ada lihat tas tergantung disana"
Nabila mulai menggelitik pinggang Embun, membuat Embun tertawa kencang hingga pakaian serta handuk yang tadi di bawanya berhamburan di atas lantai