
Meski dengan tubuh yang lelah,Erik tetap mengantar bosnya itu menuju ke kampung halaman Embun
Setibanya disana, keluarga Embun menerima mereka dengan tangan terbuka karena mereka mengatakan kalau kedatangan mereka untuk membeli sebuah lahan pertanian di sekitar sana
Malah orang tua Embun juga menawari mereka untuk menginap di rumahnya selama mereka berada disana. Mendapat keberuntungan seperti itu tentu saja James tidak menolak,karena niatnya akan terlaksana dengan baik kalau ia bisa terus berada disana
Pendekatan yang di lakukan James pun mendapatkan hasil, berpura-pura tidak mengenal Embun justru membuat ia akhirnya mengetahui tentang diri gadis itu dari kedua orang tuanya
Rencananya untuk saat ini, ia akan mengambil hati orang tua Embun supaya berpihak padanya. Terkecuali Mike mengacaukan semua rencananya baru lah ia merubah rencana awalnya dengan sesuatu yang menakutkan
Dengan senyum di sudut bibirnya, James mengirim foto kedua orang tua Embun yang sedang bercengkrama dengannya di meja makan kepada Mike
"Untuk kali ini, aku tidak akan kalah darimu" batin James
Ia tinggal menunggu reaksi apa yang akan di berikan Mike terhadap foto yang di kirimnya. Dengan begitu ia akan bisa menentukan langkah selanjutnya yang akan ia ambil
*
*
Keadaan Embun berangsur membaik, meskipun ia terlihat jauh lebih pendiam dari sebelumnya tapi setidaknya ia sudah mau berinteraksi dengan banyak orang
Hingga saat ini ia juga masih tinggal di rumah yang sama dengan Mike. Tentu saja alasan keamanan yang membuat Embun belum berani pindah dari sana
Sejauh ini hubungan mereka pun ikut membaik, Embun sudah tidak menolak sentuhan Mike saat memeluknya ketika mimpi buruknya kembali mengusik tidurnya
Sejak itu pula, Mike mengajak Embun untuk tidur di kamarnya. Ia merasa lelah kalau harus berpindah kamar ketika harus menenangkan Embun, hal itu di setujui Embun setelah Mike berjanji tidak akan berbuat yang tidak-tidak kepadanya
"Bisa pindahkan tanganmu, aku mau bangun" Embun berusaha memindahkan lengan Mike yang melingkar di perutnya, tetapi justru lengan itu makin erat memeluknya
"Sebentar saja, aku masih ingin tidur sambil memelukmu" suara serak khas bangun tidur terdengar di telinga Embun, seandainya kondisinya masih seperti yang lalu mungkin saat ini ia sudah menerkam pria yang terlihat sangat menggoda disampingnya itu
"Sudah siang, kau bisa terlambat bekerja" Embun masih berusaha melepaskan dekapan Mike, apalagi wajah pria itu begitu dekat dengannya hingga hembusan nafasnya pun bisa tercium olehnya
"Tidak ada yang akan memarahiku kalau datang terlambat"
"Bersiaplah, aku akan menyiapkan pakaian serta sarapan" Mike akhirnya mau melepaskan tangannya, namun dengan kekesalan yang terlihat di wajahnya
"Bi Eni pasti sudah menyiapkan sarapan untuk kita, kamu cukup siapkan pakaianku saja"
"Bi Eni yang biasanya memasak sekaligus membersihkan rumah ini. Aku sengaja menyuruhnya datang supaya kamu tidak terlalu lelah"
Embun mengangguk mengerti, ia lalu berjalan ke arah lemari pakaian Mike untuk mempersiapkan pakaian yang akan di kenakan pria itu.
Tapi, sesuatu melintas di kepalanya membuatnya berbalik dan menatap Mike yang tengah berjalan menuju ke kamar mandi
"Bagaimana kalau Bi Eni mengetahui kalau kita sudah tidur bersama? apa yang akan kita katakan padanya kalau ia tau kalau kita bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa?" tanya Embun dengan panik
"Tenanglah! dia tidak akan menanyakan apa-apa pada kita. Lagipula aku sudah mengatakan padanya kalau tidak lama lagi kita akan menikah" Mike menangkup wajah Embun untuk menenangkannya
"Kita menikah? aku tidak mau! aku belum siap kalau harus menikah secepat ini"
Embun tidak mau membuat Mike harus bersabar dengan dirinya ketika nanti mereka menikah. Ia masih bisa terima sebatas Mike memeluknya namun untuk melakukan yang lebih dari pada itu ia belum siap
"Bukankah sudah pernah aku katakan cepat atau lambat kita akan menikah? kau juga pasti masih ingat kalau aku tidak menerima penolakan"
Tentu Embun masih ingat hal itu tapi tidak ia sangka Mike memaksanya untuk menikah di saat keadaannya belum membaik
"Tapi…aku…itu…"
"Tidak apa-apa, aku akan menunggu sampai nanti kamu siap. Aku hanya ingin menjagamu karena bajing-an itu akan kembali menemui mu ketika kita tidak bersama"
Mike merengkuh Embun dalam pelukannya. Meskipun terkesan memaksa tapi ini cara satu-satunya untuk melindungi Embun dari bahaya.
Terlebih ia tidak sanggup kalau harus hidup terpisah dari gadis itu, sekalipun ia sadar berada disisi Embun berarti harus menyiksa dirinya sendiri karena hasrat yang harus selalu ia tahan
"Hmm…mandi lah, aku mau keluar menemui Bi Eni dulu" Embun mendorong pelan Mike yang masih memeluknya
"Tidak ingin menemaniku mandi? aku tidak menolak kalau kau mau membantu menggosok punggungku" ujar Mike sambil mengerlingkan matanya
"Tidak! ya ampun!" pekik Embun sembari menutup matanya saat menyadari Mike hanya memakai celana yang sangat pendek dan tidak memakai atasan memperlihatkan bentuk tubuhnya yang begitu menggoda
"Tidak perlu terkejut, kamu baru melihat yang bagian ini saja padahal aku ingin sekali menunjukkan yang ada di dalam sini" goda Mike sambil menyentuh ujung celananya seperti hendak menariknya turun
Embun menabrakkan tubuhnya pada Mike, ia sudah takut kalau sampai Mike benar-benar menunjukkan sesuatu yang terlihat sudah menantang di bawah sana padanya.
Ia bahkan tidak bisa menebak reaksi apa yang nantinya akan tubuhnya berikan, karena itu ia secepatnya berlari keluar sebelum Mike melakukan apa yang diucapkannya