
Kesibukan Mike kian bertambah ketika kepergian Edwar, pekerjaan yang biasanya di selesaikan oleh pria tua itu semuanya dilimpahkan padanya
Di tambah pegawai yang baru bekerja masih harus belajar banyak mengikuti ritme kerja yang diterapkannya di kantor, sehingga pekerjaannya pun kian menumpuk
Apalagi hingga saat ini keberadaan Edwar belum juga ia ketahui, membuat kerja otaknya semakin berat karena harus memikirkan banyak hal
Saking sibuknya, Mike sama sekali tidak mengunjungi ataupun menghubungi Embun. Semua waktu dan pikirannya benar-benar ia curahkan pada perusahaan
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Mike pada Lio yang sengaja ia tugaskan untuk mengamati Embun ketika ia sedang sibuk seperti sekarang ini
"Nona Embun sehat-sehat saja tuan, dia juga menerima makanan yang tuan kirimkan meskipun awalnya sempat menolak"
Lio menyadari begitu istimewanya gadis yang seminggu ini selalu ia bawakan makan siang itu, karena selama yang ia tau tidak pernah tuannya itu memperlakukan seorang gadis seperti ini
"Bukan Embun namanya kalau langsung menerima begitu saja. Aku rindu padanya tapi pekerjaan ini seakan tidak ada habisnya" gerutu Mike kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi
"Pekerjaan anda tidak akan keberatan, kalau tuan meninggalkannya sebentar untuk menemui nona Embun"
"Hhh…aku tidak bisa kalau bertemu dengannya hanya sekejap saja. Kau tidak akan mengerti apa yang aku rasakan Lio"
Justru karena Lio memahami posisi Mike makanya ia menawarkan solusi kepada tuannya itu. Bagaimana pun, ia juga seorang lelaki yang pernah merasakan jatuh cinta apalagi hingga saat ini ia masih menjalani hubungan dengan kekasihnya itu
"Pekerjaan kita semakin banyak, apa tuan yakin bisa bertahan untuk tidak menemui nona Embun sampai semua pekerjaan ini selesai?"
Mike nampak berfikir, selagi masih memiliki kesempatan setidaknya ia harus pergunakan dengan baik. Meski berapa lama pun waktu yang ia habiskan bersama dengan gadis itu, Mike seakan tidak merasa cukup
"Beritahu Josh malam ini aku akan makan malam disana"
"Baik tuan, akan saya sampaikan"
*
*
Hari itu, lagi-lagi Embun menerima makanan yang di bawakan asisten Mike padanya tapi yang membuatnya kesal pria itu sama sekali tidak menemuinya hingga Embun merasa Mike kembali mempermainkan dirinya
"Sadar lah Embun,apa kau berharap pria itu benar-benar menjadi kekasihmu?"
Embun menepuk-nepuk kedua pipinya, menyadarkan dirinya bahwa apa yang di katakan hati kecilnya itu benar adanya
Pekerjaannya sudah selesai, ia pun mengambil barang-barangnya kemudian melangkah keluar dari tempat kerjanya itu
"Selamat malam nona, tuan sudah menunggu anda di dalam mobil. Mari ikut saya" Lio sedikit membungkuk mempersilahkan Embun untuk mengikutinya menuju mobil yang terparkir sedikit menjauh dari tempat kerja Embun supaya tidak menarik perhatian rekan kerja Embun yang lain
Seperti seekor anak ayam, Embun hanya mengikut kemana asisten pria itu membawanya. Perkataannya yang mengatakan tuannya sedang menunggunya membuat degup jantung Embun mulai menaikkan laju kerjanya
Matanya terhenti lama pada Mike yang kini sedang mengulurkan tangan padanya. Lama tidak bertemu membuat ketampanan Mike terasa meningkatkan di matanya
"Silahkan masuk, nona"
Embun mengangguk, sejenak ia terlupa pada asisten pria itu yang sedari tadi membukakan pintu untuknya. Ia pun duduk di samping Mike yang sudah menggenggam tangannya
"Maaf baru bisa menemui mu malam ini, pekerjaan ku di kantor sangat banyak" Mike mencium punggung tangan yang di genggamnya
"Kita akan kemana?" Embun lebih memilih bertanya dari pada menanggapi alasan yang Mike katakan
"Nanti kau akan tau setelah kita tiba disana," jawab Mike sembari menarik tubuh Embun dalam dekapannya
Embun menegang, selain merasa malu karena di dalam mobil itu bukan hanya mereka berdua saja. Kehangatan pelukan Mike juga ikut membuat debaran jantungnya makin kencang
Sepanjang perjalanan yang ia rasa cukup panjang itu, mereka lewati dengan kebisuan. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang baru kali ini Embun datangi
Club Mike memang memiliki fungsi sesuai dengan waktu dan kebutuhan pengunjungnya. Karena itu, di club
miliknya itu Mike sengaja menyatukan sebuah cafe, karaoke serta diskotek
Biasanya sore hingga malam hari pengunjung akan datang ke cafe tersebut untuk makan, kemudian lebih malam lagi pengunjung akan mengunjungi karaoke. Setelah lewat tengah malam, mereka akan menyambangi diskotek
Itulah alasan Mike membuat sebuah club karena setidaknya dalam satu bangunan itu terdapat tiga layanan yang bisa memanjakan para pengunjungnya
Mike menuntun Embun memasuki club miliknya kemudian seorang pegawai mengantar mereka menuju ke sebuah meja yang sudah di persiapkan untuk keduanya
Embun masih mengedarkan matanya berkeliling, menghindari tatapan mata sayu Mike yang tidak lepas memandangnya
"Aku merindukanmu," wajah Embun merona, ternyata hanya dua kata itu saja sudah mampu membuatnya salah tingkah
"Ka Nabil bilang, banyak kekacauan yang terjadi di kantor"
"Nabil?"
"Nabila. Ah ya, aku lupa kalau kau tidak mungkin menghafal wajah pegawai yang bekerja sebagai tenaga kebersihan di kantormu"
Mike mengingat seorang wanita yang ia temui bersama kekasihnya sewaktu mengantar Embun pulang. Sekarang ia baru tau kalau ternyata wanita itu bernama Nabila dan juga merupakan salah satu pekerjanya
"Seperti yang Nabila katakan, aku harus menyelesaikan beberapa kekacauan disana"
"Kalau lelah tidak ada salahnya untuk beristirahat" ucap Embun tulus saat melihat lingkaran hitam di bawah mata Mike
"Apa kau mulai mengkhawatirkan aku?" goda Mike sembari mengerlingkan matanya
"Sesama manusia setidaknya harus saling mengingatkan." ketus Embun menghempaskan genggaman tangan Mike
"Sepertinya rasa lapar membuatmu menjadi sedikit buas" kekeh Mike sembari ikut menikmati makanannya, sedangkan Embun hanya mendengus mendengarnya