Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 32 Kelemahan Mike


Selama di perjalanan baik Embun maupun Mike berada dalam mode diamnya, bahkan hingga keduanya telah sampai di depan hotel grand cempedak hanya deru mesin saja yang terdengar memenuhi telinga keduanya


Mike tidak mau salah dalam berbicara karena ia yakin saat ini Embun marah akibat ulahnya tadi


Sedangkan Embun memang sengaja membuang mukanya ke arah jendela selain kesal karena perkataan Mike yang secara tidak sengaja menyamakannya dengan perempuan malam yang setelah di gunakan lalu di suruh pulang, ia juga malu karena tidak menolak sentuhan lembut yang pria itu berikan


Embun melangkah turun meninggalkan Mike yang hanya terus menatap punggungnya menghilang di balik gang sempit kostannya


*


*


*


Pukul delapan Embun baru tiba di tempatnya bekerja, sudah sangat terlambat tapi ia merasa itu lebih baik ketimbang harus berada sendirian di kostan dengan pikiran-pikiran liar yang masih saja bergentayangan di dalam kepalanya


Apalagi tadi ia harus secepatnya menghindar dari pertanyaan menyelidik yang di ucapkan Nabila, ia takut kalau kebohongannya akan ketahuan oleh kakaknya itu


Embun mematut wajahnya di depan cermin, ternyata rasanya tidak begitu buruk untuk sebuah ciuman pertama yang selama ini hanya bisa ia dengarkan dari cerita teman-temannya yang sudah memiliki pasangan


Mungkin karena kemahiran Mike atau karena ini merupakan pengalaman pertamanya sehingga mau tidak mau ia harus mengakui kehebatan pria itu


Tapi, ia juga menyesal karena ciuman pertamanya harus di ambil oleh orang yang tidak masuk dalam daftar pria impiannya


Bukan karena standar Embun yang terlalu tinggi hanya saja pria yang menyebalkan tentu saja akan ia masukan dalam daftar pria yang harus ia hindari


Setidaknya untuk saat ini, ia harus menghindari pertemuan langsung dengan pria itu kalau mau kehidupannya tetap berjalan sebagaimana mestinya


"Sudah datang terlambat di tambah mukanya nelangsa begitu, ada masalah Bun?" tanya Imran sembari meletakkan dagunya di atas meja di depan Embun


"Tidak ada kak, cuma kurang tidur saja" jawab Embun meringis mengingat kebohongan lain yang ia ucapkan hari ini


"Oh…ya sudah keluar gih, ada cowok yang nyariin kamu dari tadi"


"Cowok? siapa kak?" berondong Embun, memastikan yang datang itu bukan pria menyebalkan itu


"Cowok yang kayaknya berapa kali nganterin kamu pulang deh" jawab Imran malas. Siapa juga yang tidak malas kalau harus menjawab perihal saingannya


"Dokter Bima?"


"Oh dokter ternyata," gumam Imran hampir tanpa suara


"Beneran yang datang dokter Bima kak?" tanya Embun lagi saat Imran malah mengabaikan pertanyaannya


"Gak tau, males kenalan" ketus Imran sembari berlalu meninggalkan Embun


Setelah mengecek tampilannya, Embun keluar dari ruangan karyawan untuk menemui Bima yang sepertinya sengaja datang mengunjunginya


"Belum lama kok Bun, paling baru sejam yang lalu saya disini" kekeh Bima menggoda


"Aduh saya jadi gak enak, pasti mas ninggalin pasien lantaran saya"


"Jangan panik gitu, aku lagi gak praktek hari ini makanya bisa datang kesini"


"Syukurlah, hampir saja mas saya usir pulang dari sini" canda Embun


"Memang kalau aku pulang, kamu gak bakalan sedih" Bima mencubit pipi Embun gemas


"Sedih gak mas, kangen iya" ujar Embun dengan polosnya


Bima tertawa, kepolosan dan kejujuran Embun membuatnya makin menyukai gadis itu. Hanya saja untuk menjadikannya sebagai kekasih, Bima masih harus memikirkannya matang-matang karena ada hal yang menghalanginya untuk berpacaran dengan gadis manapun


"Nanti malam aku jemput, kita makan malam bersama. Bagaimana?"


Tanpa pikir panjang Embun mengangguk, sekiranya ia harus menghalau wajah Mike dari pikirannya dan menggantinya dengan wajah Bima yang juga tidak kalah tampannya


"Kalau begitu sampai ketemu nanti malam" ucap Bima sembari berlalu dari sana


*


*


*


Seorang pria tengah duduk di sofa tunggal sambil mendengar laporan anak buahnya tentang hasil penyelidikan yang berhasil ia dapatkan setelah beberapa hari membuntuti rival mereka


Pria itu memegangi sebuah foto yang di berikan anak buahnya. Foto yang memperlihatkan seorang gadis memakai sebuah jaket yang menutupi kepalanya, berjalan beriringan dengan Mike yang merupakan musuh besarnya


Begitu banyak foto yang berserakan di mejanya,tapi foto yang memperlihatkan wajah gadis itu dengan jelas tentu saja lebih menarik perhatiannya


Dengan seringai di wajahnya, ia menyuruh anak buahnya itu untuk mencari tau tentang gadis yang berada di dalam foto tersebut.


Bukan tanpa sebab ia menyuruh untuk mencari informasi terkait gadis itu, karena pria itu yakin gadis itu memiliki tempat yang spesial dalam hidup Mike. Dan ia akan menggunakan gadis itu untuk membalaskan dendamnya terhadap Mike


Selepas kepergian anak buahnya, pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang saat ini telah berada di pihaknya


"Kelemahan musuh sudah ada di tangan kita Paman"


"Kau memang selalu bisa di andalkan"


"Sebentar lagi, keinginan kita akan segera terwujud"


"Dan sebentar lagi, kau akan di akui sebagai pimpinan mafia nomer satu di Indonesia"