
Meski sudah lewat beberapa hari, Embun masih saja merajuk karena keinginannya malam itu tidak terpenuhi.
Padahal keesokan harinya Mike menepati janjinya dan membawakan makanan yang di inginkannya tapi justru Embun hanya mengabaikan dirinya serta makanan yang di bawanya
Selama masa merajuk itu juga, Mike terbebas dari memenuhi keinginan aneh istrinya namun hal itu justru membuatnya uring-uringan karena ia paling tidak suka kalau Embun mengacuhkannya
Karena hal itu juga, keadaan di kantor menjadi lebih suram dari biasanya. Setiap kesalahan sekecil apapun akan menjadi hal menakutkan apabila mereka lakukan
Bahkan untuk bernafas pun rasanya sulit bagi mereka yang bertatapan langsung dengan pimpinannya itu, sedangkan mereka sama sekali tidak mengetahui alasan pimpinannya itu meluapkan kemarahannya pada mereka
"Apa nona masih marah pada anda, tuan?" tanya Lio saat memasuki ruangan tuannya dan melihat pria itu hanya menatap kosong kertas yang di pegangnya
"Hhh…begitulah! padahal aku sudah membawakan makanan yang ia inginkan tapi tetap saja dia marah padaku" terdengar helaan nafas berkali-kali dari Mike
Lio teringat akan pembicaraannya dengan kakaknya malam itu, kalau perempuan hamil memang lebih sensitif dari biasanya. Hanya karena kesalahan kecil saja mereka bisa mendiamkan suaminya berhari-hari lamanya
Awalnya ia tidak percaya dengan yang kakaknya katakan, tapi melihat hal itu terjadi pada tuannya akhirnya ia membenarkan perkataan kakaknya itu
Beruntung malam itu, kakaknya juga memberikan solusi bila hal itu terjadi yaitu dengan membuat hati sang ibu hamil menjadi senang dengan memberikan hadiah yang sangat ia inginkan
Lio pun berfikir keras mengingat apa yang sekiranya nona nya itu inginkan karena setahu dirinya Embun bukan orang yang menyukai di ajak membeli barang mewah seperti perempuan lainnya
"Coba ajak nona berjalan-jalan ke taman, tuan. Mungkin dengan begitu perasaan nona akan menjadi lebih baik" saran Lio karena mengira nona nya itu pasti bosan berada di rumah saja karena kehamilannya yang parah
Ingin rasanya Lio mendengus kesal mendengar perkataan tuannya. Ia menyarankan taman yang jauh lebih besar dari miliknya di rumah, yang mana disana nona nya bisa melihat banyak orang datang dan berkumpul
Tapi sepertinya yang terlintas di otak pintar tuannya hanya taman miliknya saja, padahal pasti nona nya juga sudah bosan terus melihat tempat itu saja selama ini
"Mungkin nona mau di ajak ke taman yang lebih besar lagi tuan, seperti situ lembang atau lapangan banteng yang terdekat dari sini. Setidaknya disana nona bisa sekalian menghirup udara segar setelah selama ini hanya berada di dalam rumah saja"
Mike terdiam mengingat dua tempat yang Lio sebutkan karena seingatnya ia tidak pernah berkunjung pada dua tempat tersebut
"Tidak! jangan kesana! aku tidak mau Embun kelelahan setelah berkunjung kesana, padahal Mey sudah mengatakan untuk membuat Embun lebih banyak beristirahat demi kesehatan calon anak kami" sanggah Mike setelah mengecek taman yang tadi asistennya itu katakan
"Anda bisa meminta bantuan nona Nabila, tuan. Biar nanti nona Nabila yang memastikan kalau selama disana nona Embun hanya duduk tenang saja"
"Aku lebih paham istriku dari siapapun, Lio. Melihat banyak anak kecil disana, mana mungkin dia bisa duduk diam saja" tolak Mike sembari menggeleng kan kepalanya
"Tapi anda lupa, kalau nona Embun lebih menurut pada nona Nabila daripada perkataan suaminya"
Mike menatap tajam pada asistennya karena tidak suka dengan perkataannya, meskipun dalam hati ia membenarkan ucapan pria di depannya itu
"Saya hanya memberi saran tuan, terserah anda mau terima atau tidak. Ini ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani, kalau begitu saya pamit karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan" Lio memilih melarikan diri sebelum ia juga kena amukan tuannya, meskipun ia berharap tuannya itu mau mencoba saran yang ia katakan tadi