
Setiap kali Embun terbangun karena mimpi buruk yang dialaminya, ia akan duduk di sisi jendela untuk memandang hamparan bunga yang menghias kebun belakang rumah itu
Meskipun keadaan di rumah itu cukup hening sebab hanya di huni oleh ia dan Mike saja, namun hingga saat ini Embun masih enggan untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu
Satu-satunya hiburan baginya hanyalah bunga yang bermekaran yang hanya bisa ia saksikan dari balik jendela kamarnya. Ia masih takut bertatapan mata dengan orang lain karena seakan mengingatkannya dengan James dan perilaku buruk yang di terimanya
Tok!tok!
"Permisi! Saya Niken, apa saya boleh masuk?"
Embun mengangguk namun ia masih tidak menoleh ke arah dokter Niken yang kini telah duduk di kursi yang berada di depan meja rias
"Maaf kalau saya mengganggu, sepertinya anda sedang melihat sesuatu di luar sana. Apa saya boleh ikut melihatnya juga?"
Dokter Niken ingin melihat reaksi Embun atas kehadirannya, apakah akan di tolak atau justru akan diabaikan begitu saja
"Jangan!" Suara Embun bergetar, ia hanya tidak ingin dokter Niken mendekat kepadanya karena saat ini ia sudah berusaha menahan diri untuk bisa menerima kedatangannya
Langkah dokter Niken terhenti saat mendengar larangan Embun. Ia kembali ketempat duduknya, padahal tadi ia sudah melihat sekilas objek yang di pandangi oleh gadis itu
"Saya juga sangat menyukai bunga. Sepertinya kita memiliki kesukaan yang sama, bagaimana kalau kapan-kapan kita kesana untuk melihat dan menyentuh langsung bunga-bunga itu?"
Kembali Embun mengangguk untuk menanggapi ucapan dokternya itu.
Niken melihat kedua tangan Embun kini saling bertaut gelisah,tubuh yang menegang serta nafas yang ditarik serta dihembuskan berkali-kali oleh gadis itu menandakan adanya kecemasan berlebihan yang dialaminya
Sebagai dokter yang telah menangani banyak pasien dengan kasus yang sama tentu saja Niken memandang Embun dengan iba, pasalnya tidak mudah untuk melewati masa sulit seperti ini seorang diri apalagi tanpa dukungan keluarga
"Aku hanya datang untuk memperkenalkan diri. Maaf kalau membuatmu menjadi tidak nyaman, tapi saya berharap kedepannya kita bisa menjadi teman baik"
Embun terdiam. Tubuhnya semakin tidak bisa dikendalikan seakan tubuhnya itu bukan miliknya saat ini. Ia sedih, ia marah pada dirinya sendiri tapi ia juga tidak kuasa untuk menahannya
"Kalau begitu saya pamit. Besok saya datang lagi kesini, saya harap Embun tidak menolak kedatangan saya karena saya hanya ingin membantu Embun melewati masa sulit ini"
Dokter Niken berlalu dari kamar itu dan menemui Mike yang menunggunya di ruang keluarga
"Pasien mengalami serangan panik dimana kondisi ini akan muncul ketika seseorang mengalami ketakutan atau kecemasan akan sesuatu hal yang ia rasa bisa membahayakan dirinya. Sepertinya kondisinya lebih buruk dari yang saya perkirakan"
Dokter Niken membuka pembicaraan ketika telah duduk berhadapan dengan Mike
"Apa yang harus saya lakukan dok?" Tanya Mike dengan helaan nafas beratnya
Meminta Nabila untuk menemui Embun sangat mudah baginya, tapi lain halnya jika harus membawa keluarga Embun kerumahnya mengingat hubungan Embun dengan orang tuanya yang sempat meregang karena sesuatu hal
"Baiklah, akan saya lakukan apa yang dokter katakan"
"Besok saya kembali lagi kesini. Sepertinya pasien masih belum bisa menerima kehadiran saya tapi setidaknya saya harus terus mencoba untuk mendekatkan diri padanya"
"Terima kasih dok, mari saya antar ke depan"
Keduanya beriringan ke tempat mobil Niken terparkir. Mike kemudian kembali masuk ke rumah setelah kepergian dokter itu.
Mike menghubungi Lio untuk membawa Nabila kerumahnya. Setelah merenung tentang perkataan dokter tadi ia memutuskan untuk meminta Nabila menemani Embun disana setidaknya saat ia sedang bekerja
Bagaimanapun ia masih menjadi pimpinan sebuah perusahaan besar sehingga tidak bisa seenaknya masuk dan keluar tanpa aturan, meskipun selama ia tidak datang ke kantor semua pekerjaan sudah ia selesaikan di rumah
Satu jam kemudian,Lio datang bersama dengan Nabila yang berjalan di belakangnya
"Maaf memintamu tiba-tiba datang kesini" Mike membuka percakapannya
"Tidak apa-apa. Tapi kalau boleh tau, kenapa pimpinan meminta saya untuk datang kesini?" tanya Nabila dengan ragu
"Saya berharap kamu mau membantu saya merawat Embun"
"Merawat Embun? kenapa?" ada kekhawatiran dari pertanyaan yang di ucapkan Nabila
"Embun sakit!" Belum habis keterkejutan Nabila akibat perkataannya, Mike juga mulai menceritakan garis besar tentang sakit yang di derita Embun
Meskipun hanya sebagian cerita yang disampaikannya, hal itu sudah cukup mampu membuat Nabila menitikkan air matanya
"Izinkan saya bertemu dengan Embun!"
"Tenangkan dirimu. Saya khawatir Embun akan kehilangan kendali saat melihatmu datang dengan berurai air mata seperti ini"
Nabila mengangguk. Ia lalu mengusap air matanya dan setelah merasa lebih baik, mereka pun masuk ke dalam kamar menemui Embun
"Dek!" Suara Nabila tercekat di tenggorokannya. Melihat Embun yang berbeda jauh dari terakhir kali ditemuinya.
Kini tidak ada lagi senyum yang biasa di perlihatkan padanya, malah ia seperti melihat sebuah patung bernyawa dalam wujud adiknya
Nabila berjongkok di sisi kursi yang di duduki Embun. Matanya menatap lekat pada wajah pucat yang mulai meneteskan air matanya itu. Tidak ada kata yang terucap dari mulut keduanya seakan genggaman tangan mereka saja sudah cukup sebagai penguat satu dan lainnya