
"Anda mau kemana tuan?" tanya Lio yang baru turun dari mobil dan melihat Mike seperti sedang terburu-buru
"James yang menculik Embun, dan sekarang nyawa Embun berada dalam bahaya. Aku harus segera menemui b*jingan itu dan membuat perhitungan dengannya"
"Anda tidak boleh gegabah tuan, lebih baik kita pikirkan bagaimana cara membebaskan nona Embun tanpa mengorbankan siapapun"
Lio menahan langkah Mike, ia tidak mau kalau tuannya itu hanya akan mengantarkan nyawanya saja kesana meskipun ia tau seberapa khawatirnya Mike saat ini
"Jadi kau menyuruhku untuk tetap tenang disaat nyawa Embun sedang terancam,hah!" Mike mendorong Lio hingga pria itu mundur beberapa langkah kebelakang
"Untuk apa anda kesana kalau hanya untuk mengantarkan nyawa? memang anda bisa memastikan setelah kematian anda, keadaan nona Embun akan baik-baik saja!" teriak Lio tidak kalah kerasnya. Meski keduanya sedang jadi bahan tontonan, mereka seakan tidak peduli akan hal itu
Mike terdiam, ia merasa sangat dilema dengan keputusan yang akan ia ambil. Kehilangan dirinya tentu akan meninggalkan luka di hati Embun, apalagi setelah kepergiannya tidak akan ada lagi yang bisa melindungi gadis itu
Tapi, bila ia terlambat bertindak ia tidak akan sanggup membayangkan nasib Embun selanjutnya dan tentu ia akan selalu menyalahkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis itu
"Percayakan pada anak buah kita tuan. Saya yakin mereka akan secepatnya menemukan keberadaan nona Embun" Lio menuntun Mike menuju ke mobil,untuk saat ini sebaiknya tuannya itu berada di rumah untuk menenangkan diri
"Kita tidak boleh terlambat Lio…aku tidak sanggup kalau harus kehilangan Embun" ucap Mike terdengar putus asa
"Saya akan melakukan yang terbaik tuan, anda bisa percaya pada saya" cuma kata-kata penghiburan yang bisa Lio ucapkan, ia hanya bisa berdoa semoga kekasih tuannya itu senantiasa di jaga oleh Tuhan
*
*
Perut Embun sudah terasa perih karena belum terisi makanan. Para penculiknya sebenarnya sudah menyiapkan makanan untuknya sedari tadi tapi rasanya ia enggan untuk menyentuh makanan itu
Badannya juga sudah terasa lengket akibat keringat serta pakaian yang dikenakannya belum berganti dari kemarin. Meskipun begitu ia masih bersyukur karena tidak terjadi sesuatu pada dirinya hingga saat ini.
Embun sudah duduk bersandar di ranjang yang ditempatinya. Matanya menatap sekeliling mencari celah yang bisa ia gunakan untuk lari
Saat ini yang menjaga dirinya hanyalah tiga orang pria yang terlihat sedang bersenda gurau dengan tangan yang masing-masing memegang kartu
Tempat yang digunakan untuk mengurungnya pun terlihat seperti ruko kosong yang sudah lama tidak berpenghuni. Tidak ada jendela dan hanya ada satu pintu yang di gunakan untuk keluar masuk dari sana
Embun menghela nafasnya, waktu terasa berjalan begitu lambat karena ia tidak pernah tau di luar sana masih siang atau sudah berganti malam
Terdengar suara berderak pintu yang di buka, dan suara langkah kaki beriringan memasuki ruangan tersebut. Embun bisa melihat James yang kini tengah berbicara kepada salah seorang anak buahnya sambil sesekali melirik kepadanya
Embun mengakui kesempurnaan wajah yang kini mendekat padanya, apalagi senyum yang pria itu perlihatkan sanggup membuat banyak wanita dengan senang hati menyerahkan dirinya
Tapi ia juga tau kalau ia tidak boleh tertipu dengan ketampanan yang setiap kali di pandang justru menimbulkan rasa ngeri yang mendalam di hatinya
"Melihat tatapan mu, sepertinya kau sudah merindukanku"
Embun hanya diam, namun masih menatap pria yang kini tengah duduk di hadapannya
"Tidak perlu takut, makanan ini tidak akan membunuhmu" James meletakkan makanan di atas pangkuan Embun, dan ucapan James sedikit membuat Embun terkejut karena pria itu ternyata mengetahui apa yang dipikirkannya
"Tidak perlu, aku tidak lapar"
"Aku tidak peduli, aku hanya menyuruhmu untuk terus hidup supaya nanti kau bisa melihat kematian Mike dengan mata kepalamu sendiri"
Deg
"Apa maksudmu?" tanya Embun dengan tatapan tajamnya
"Aku akan menghabisi kekasihmu itu di depan matamu, selanjutnya aku akan memilikimu tanpa ada seorangpun yang akan mengganggu"
"Kau sudah gila!"
Tawa James menggema, bila perbuatannya selama ini membuat orang-orang menyebutnya gila maka ia akan dengan senang hati mengakuinya
"Si gila ini yang nantinya akan menjadi suamimu" James menarik tengkuk Embun dan mulai menyatukan bibirnya dengan milik Embun
Embun menggelengkan kepalanya supaya ciuman mereka terlepas, tapi James justru menggigit bibirnya hingga berdarah dan seakan menikmati tiap darah yang menetes akibat ulahnya
Dan tanpa rasa bersalah, James mengecup puncak kepala Embun lalu meninggalkannya disana dengan air mata yang sudah mengalir deras dari kedua matanya