Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 25 Hari penyidikan


Seperti kabar yang telah ia dapatkan, hari itu pihak kepolisian benar-benar datang menemui Edwar. Dengan membawa selembar kertas berisi surat tugas yang polisi itu perlihatkan kepada Edwar, penyidikanpun di lakukan sedangkan Edwar di minta untuk meninggalkan ruangannya sejenak


Penyidikan yang di lakukan tidak hanya berlaku untuk Edwar saja, namun terhadap seluruh divisi di Perusahaan tersebut


Sekiranya penyidikan itu bisa membantu menemukan bukti-bukti yang makin memperkuat dugaan kecurangan yang terjadi selama ini.


Meskipun tanpa itu juga, bukti yang di tunjukkan pengacara Mike sudah bisa membawa para pelaku mendekam di balik jeruji besi


Penyidikan itu sendiri berlangsung hingga satu jam lamanya dan ketika berakhir terlihat ada banyak barang yang mereka bawa serta, untuk di lakukan pengecekan kembali di kantornya nanti


"Terima kasih untuk kerja sama anda, Pak" AKBP Heru mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Edwar


"Tidak perlu sungkan, kalau masih ada yang di butuhkan silahkan hubungi saya kembali"


"Baik kalau begitu, tapi sebelumnya saya ingin meminjam barang-barang ini untuk membantu kami dalam penyidikan"


"Silahkan, saya tidak keberatan kalau anda mau membawa lebih banyak barang lagi" ucap Edwar sembari tersenyum ramah


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, selanjutnya saya permisi" AKBP Heru membawa seluruh anak buahnya meninggalkan kantor tersebut, di iringi seringaian tipis dari pria paruh baya itu


***


Sementara itu di ruangannya, Mike masih terlihat berbicara melalui sambungan telepon dengan pengacaranya yang melaporkan tentang sejauh mana laporannya di tindak lanjuti oleh pihak kepolisian


Ia sengaja memberikan tanggung jawab perkara laporannya itu pada pengacara, karena ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Terlebih ia tidak mau, Edwar semakin menggunakan kekuasaannya di kantor ketika ia sedang tidak berada disana


"Maaf tuan, tadi dari tim pemasaran memberitahukan kalau batu bara yang sebelumnya milik perusahaan X sudah ada yang mengambil. Namun mereka meminta tempo pembayaran paling tidak hingga bulan depan"


Lio menyampaikan laporannya saat tuannya itu sudah selesai melakukan panggilan telepon


"Ya sudah tidak apa-apa, setidaknya beban kita bisa sedikit berkurang"


"Apa kita akan mengurangi produksi atau tetap memproduksi seperti semula tuan?"


"Untuk sementara, cukup produksi sesuai permintaan pasar saja. Saat ini kita membutuhkan dana yang tidak sedikit, sebisa mungkin menekan pengeluaran yang tidak penting"


"Baik tuan, nanti akan saya sampaikan pada bagian produksi"


"Setelah ini bersiaplah, Paman Ed pasti akan kembali memberikan kejutan yang lebih besar untuk kita… " lirih Mike sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi


"Kedatangan pihak kepolisian tadi, sepertinya sudah di ketahui oleh tuan Edwar. Melihat ia tidak terkejut dengan kehadiran mereka"


"Gerak gerik ku sudah pasti telah terbaca oleh mata tua Paman Ed, akan mengherankan kalau sampai ia tidak mengetahui apa yang aku lakukan di belakangnya"


"Selanjutnya, apa yang akan kita lakukan tuan?"


***


Di tempat lain, Embun yang sedang libur bekerja terlihat sibuk dengan tumpukan pakaian kotor yang sudah menggunung.


Biasanya, ia langsung mencuci pakaian kotornya di pagi hari ketika ia mandi sebelum berangkat kerja.


Namun seminggu terakhir ini ia di sibukkan dengan pertemuannya dengan dokter Bima, pertemuan yang kadang mereka berdua rencanakan tapi lebih banyak pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja.Hingga membuat Embun melupakan kegiatan rutinnya itu


"Sudah kayak orang stres kamu dek, senyum-senyum sendiri dari tadi" tegur Nabila seraya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Embun


"Begini lah kalau sedang jatuh cinta kak, tiap hari rasanya pengen senyum terus" ucap Embun dengan mata yang berbinar


"Senang sih boleh dek, tapi senyumnya lihat sekeliling juga. Takutnya orang berpikir kamu kerasukan saking senyum-senyum begitu" Nabila mematut dirinya di depan cermin, tampilannya sedikit berbeda hari ini.


"Biarkan saja orang berkata apa… yang penting aku bahagia…" Embun membalas ucapan Nabila, dengan sebait lagu yang ia nyanyikan


Nabila hanya tersenyum menanggapi ucapan Embun, mungkin cara menyampaikan rasa senang tiap orang berbeda termasuk dirinya sehingga ia tidak mau terlalu mengusik kesenangan adiknya itu


"Kakak mau pergi?" tanya Embun melihat tampilan berbeda Nabila saat ini


"Mumpung libur, Bian mau mengajakku ke suatu tempat"


"Memang ka Bian hari ini libur juga?" Setau Embun hari libur pegawai tetap seperti Bian berbeda dengan hari libur Office girl macam Nabila


"Tidak, Bian sengaja tidak masuk hari ini mengikuti jadwal liburku. Sudah lama kami tidak keluar berdua"


"Hhh… padahal aku berharap hari ini bisa berduaan sama kakak, banyak hal yang mau aku ceritakan pada kakak"


"Malam nanti juga bisa Bubun sayang kalau cuma mau cerita saja, sore juga Kakak sudah balik kesini lagi"


"Aku sendiri dong disini kak"


"Ajak saja pacar kamu itu kesini, siapa itu namanya Bi-"


"Bima. Dokter Bima"


"Oh iya, dokter Bima. Aduh yang lagi jatuh cinta, baru juga denger namanya disebut mukanya udah merah aja" goda Nabila


"Ih apaan sih kak! Ka Bima itu belum jadi pacarku, kami masih PDKT alias pendekatan"


"Iya deh yang masih PDKT, Kakak doakan langgeng sampai kakek nenek" kekeh Nabila seraya menuju ke depan pintu, dimana Bian sudah menunggunya


"Kakak ih…" Embun mengantar kepergian Nabila dan Bian dengan bibir mengerucut, hari liburnya harus ia habiskan dengan cucian kotor dan membereskan kostan


Sedangkan Bima masih sibuk dengan para pasiennya, sehingga tidak bisa menemaninya hari ini