
Menjelang pagi saat adik Nabila mengabarkan padanya tentang kabar duka yang menimpa orang tua Embun.
Tidak menunggu lama, ia segera bersiap untuk mendatangi kediaman Mike mempertanyakan apakah Embun sudah mengetahui kabar tersebut atau belum
Ketika tiba disana, Mike yang langsung menyambutnya. Namun pagi itu, raut wajah Mike begitu berantakan. Mata pandanya menunjukkan kalau pria itu semalaman ini telah terjaga
Mereka duduk di ruang tamu karena saat ini Embun masih tertidur
"Jadi, pimpinan belum memberitahukan kabar ini pada Embun?"
Mike menggeleng, ia bahkan belum mempunyai cara untuk menyampaikan kabar duka ini tanpa melukai kekasihnya
"Tapi kita tetap harus mengabarkan padanya. Bagaimanapun Embun harus tau kejadian yang menimpa keluarganya!" Nabila menekankan tiap perkataannya karena melihat Mike seakan ingin merahasiakan hal ini
"Saya hanya tidak mau, Embun akan kembali seperti tiga bulan yang lalu" lirih Mike sambil menyandarkan tubuhnya
Nabila bisa mengerti kegelisahan Mike, ia juga tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Embun. Tapi cuma ini kesempatan Embun untuk bertemu dengan orang tuanya, apalagi sudah lama ia tidak bertemu dengan mereka
"Hanya ini kesempatan terakhir Embun bertemu dengan orang tuanya. Saya cuma khawatir, bila ia tau semua ini dari orang lain maka akan lebih menyakitinya"
Nabila berfikir, lebih baik Embun tau kebenarannya dari mereka daripada harus mendengar dari mulut orang lain.
Ia hanya tidak bisa membayangkan apa jadinya bila mereka harus kehilangan kepercayaan Embun sedangkan saat ini Embun tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk bersandar
"Kapan pemakamannya akan dilakukan?" tanya Mike sembari menghela nafasnya
"Hari ini. Seandainya Embun bisa ikut pulang bersamaku, aku akan mengatakan pada orang tuaku disana untuk menunggu kedatangan kita sebelum menguburkan mereka"
"Kalau begitu, aku akan memberitahukan padanya. Percuma di sembunyikan toh nantinya dia pasti akan mengetahuinya kabar ini cepat atau lambat"
Keduanya terdiam cukup lama. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing hingga hanya suara helaan nafas keduanya saja yang terdengar
"Siapa yang mengabarkan pada pimpinan tentang kondisi orang tua Embun?" Nabila penasaran, bosnya itu bisa tau kabar itu lebih cepat darinya
"Ada seseorang yang menghubungiku dan manyampaikan kabar duka tersebut"
"Siapa? bukan kah ponsel Embun hilang?"
Mike tidak mungkin memberitahukan kenyataannya pada Nabila. Ia tidak mau kalau banyak orang yang akan mengetahui rahasia yang ia sembunyikan
Keselamatan mereka akan terancam kalau sampai hal itu di ketahui oleh publik, terlebih pada orang-orang yang dekat dengannya
"Saya hanya tidak menyangka, orang tua Embun akan meninggal dalam keadaan yang tragis seperti ini padahal mereka orang baik yang selama ini tidak memiliki musuh" lirih Nabila dengan tatapan mata yang menerawang
"Apa yang terjadi pada ibu dan papaku kak?" tanpa sepengetahuan mereka, Embun yang tidak sengaja lewat mendengar perkataan terakhir Nabila
Nabila dan Mike terkejut bahkan Nabila kehilangan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Embun. Ia melirik gelisah pada Mike berharap pria itu mau menolongnya dalam situasi yang sulit ini
"Em-Embun itu…"
"Jawab kak!" sentak Embun tidak sabar. Ia kini duduk bersimpuh di depan Nabila, mimpi buruknya di malam hari membuat tenaganya banyak terkuras sehingga ia tidak sanggup bila berdiri terlalu lama
"Tenangkan dirimu! Kami akan memberitahukan sesuatu yang penting padamu tapi sebelumnya kamu harus berjanji untuk tetap tenang" Mike memegang pundak Embun dan mendudukkannya di sofa
Embun mengangguk, ia telah menyiapkan dirinya untuk kabar terburuk yang akan di dengarnya.
Mike menghela nafasnya. Ia tidak tau kalau menyampaikan sesuatu yang buruk pada orang yang di kasihi akan seberat ini. Ia bahkan tidak sanggup untuk menatap wajah polos yang tidak luput memandangnya
"Orang tuamu…meninggal" Entah ungkapan apa yang cocok untuk menggambarkan perasaan Embun saat ini. Hanya air matanya yang mampu mengungkap semua rasa yang ada dalam dadanya
"Maaf sayang!" Mike menundukkan kepalanya di pangkuan Embun.
"Pulang! aku mau pulang!" firasat buruknya sejak kemarin terbukti. Mimpi buruknya juga seakan mengatakan kebenaran yang tidak ingin di akuinya
"Iya, aku akan mengantarmu pulang. Tapi sebelumnya, kita harus bersiap"
Embun berusaha mempertahankan kesadarannya. Ia harus bisa secepatnya bertemu dengan orang tuanya, untuk itu ia harus bisa tetap sadar hingga saat itu tiba
Nabila berusaha membantu Embun untuk bersiap, namun Embun sepertinya tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Ia hanya terduduk kaku dengan pikirannya yang entah kemana
Mike pun meminta Nabila untuk menjaga Embun sementara ia menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan kesana.
Setengah jam kemudian, mereka bertiga telah meninggalkan kediaman Mike menuju ke rumah Embun yang saat ini pasti sudah di padati oleh orang-orang yang merasakan kesedihan yang sama dengan mereka