
Meski tampilannya tetap saja tampan dan menawan seperti biasanya, namun wajah kusut Mike pagi ini ternyata tidak bisa tertutupi oleh tampilannya itu
Sejak ia menjejakkan kakinya di kantor, para karyawan sudah mulai berbisik melihat dirinya yang terlihat sangat kelelahan tapi hal itu hanya di anggap lalu olehnya sebab yang menjadi prioritasnya saat ini hanya tentang kesehatan istri serta calon buah hatinya
Hanya Lio saja yang tidak terkejut dengan wajah kusut atasannya itu, bagaimana tidak kalau beberapa bulan ini ia seakan bekerja dua puluh empat jam bersama tuannya itu
Semenjak nyonya mudanya mengandung, Lio pun ikut direpotkan dengan segala hal yang berhubungan dengan kedua calon orang tua itu. Mulai dari mengantar mereka bolak balik ke rumah sakit hingga memenuhi permintaan dari nyonya mudanya itu yang terkadang tidak mengenal waktu
Belum lagi mengurus pekerjaan menggantikan Mike saat pria itu menemani istrinya, terkadang membuat Lio ingin segera berhenti dari pekerjaannya saat itu juga
Tapi mengingat betapa baiknya tuannya itu padanya, ada perasaan tidak tega yang terselip di hatinya terlebih ia pun tau kalau Mike pasti lebih lelah dari dirinya
"Ada apa tuan?" tanya Lio saat melihat Mike memijat pelipisnya setelah membaca sebuah pesan yang entah di kirimkan oleh siapa
"Sudah tiga bulan tapi Embun masih saja memuntahkan makanan yang di makannya" jawab Mike sembari menghela nafasnya
"Apa dokter tidak mengatakan kapan nona bisa kembali memakan makanannya tanpa harus di keluarkan?"
"Dokter pun tidak tau. Dia hanya mengatakan untuk bersabar karena kehamilan setiap perempuan berbeda" kembali helaan nafas terdengar namun kali ini dari kedua pria tersebut
"Seperti yang tuan tau, saya belum menikah jadi saya minta maaf karena tidak bisa membantu tuan dalam hal ini" ucap Lio jujur
Mike memandang Lio sedikit lama, bukan karena permintaan maafnya hanya saja Mike teringat akan kakak perempuan Lio yang sudah memiliki dua orang anak
Ia sedikit tertarik untuk mendengar cerita tentang kehamilan kakaknya itu karena bisa jadi ada salah satu dari kehamilan itu yang mirip dengan yang di alami oleh istrinya
"Kenapa tuan menatap saya seperti itu?" tanya Lio sembari mengernyit
Lio menggaruk kepalanya, ia bingung harus menceritakan apa karena ia tidak pernah memperhatikan saat kakaknya itu hamil meskipun mereka berada di dalam satu rumah
"Hmm… maaf tuan, saat itu saya terlalu sibuk sampai tidak begitu peduli saat kakak sedang mengandung" ucap Lio menyesal
"Memangnya kakakmu tidak pernah menyuruhmu untuk membelikan makanan yang ingin ia makan di tengah malam?" selidik Mike
Ia masih mengingat dengan jelas keanehan permintaan istrinya saat ia dengan sengaja membangunkannya yang tengah tertidur pulas di tengah malam hanya untuk meminta dirinya mencarikan bubur kacang hijau
Melihat wajah istrinya yang memelas menimbulkan rasa iba di hatinya sehingga ia pun mengabulkan apa yang di inginkan istrinya, tapi saat makanan itu datang Embun hanya memakannya dua sendok saja itu pun langsung di muntahkan kembali olehnya
Padahal untuk menemukan pedagang yang menjual makanan itu, Mike membutuhkan waktu hampir dua jam lamanya mengitari kota Jakarta
Melihat makanan itu hanya di muntahkan oleh Embun sebenarnya membuatnya ingin marah tapi akal sehatnya kembali menguasai dirinya karena ia sadar semua itu bukan kemauan istrinya
"Sepertinya kakak hanya merepotkan suaminya saja karena selama ini ia juga tidak pernah meminta apa-apa padaku" ucap Lio berhati-hati. Ia tidak ingin salah berbicara sehingga membuat atasannya itu berpikiran yang tidak-tidak
"Hhh…ternyata memang setiap kehamilan berbeda"
"Nanti saya akan coba tanyakan apa saja yang kakak saya rasakan saat mengandung kedua anaknya, mungkin ada yang sama dengan yang nona alami sekarang hanya saja saya yang tidak tau" hibur Lio
"Baiklah. Aku hanya kasian melihat Embun tersiksa sendirian padahal anak di kandungannya itu ada hasil karya kami berdua" ucap Mike dengan pikiran yang menerawang
Lio hanya menggelengkan kepalanya mendengar hal itu, ia pun bingung harus menanggapi apa karena tidak mungkin mereka meminta pada Tuhan untuk membagi kesusahan itu