Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 67 Makan malam keluarga


Sepulang dari rumah Rey, Mike mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah restoran yang sudah di persiapkan untuk jamuan makan malam mereka sekeluarga


Ketegangan kembali menguasai Embun. Selama ini, ia hanya mendengar cerita sepintas tentang calon mertua yang akan ditemuinya itu dari Nabila yang sempat bekerja di bawah kepemimpinannya


Ia sudah membayangkan sosok tegas dan menyeramkan serta berwibawa yang dalam diamnya pun bisa membuat kuduk yang melihat akan meremang


Keringat dingin sudah membasahi pelipisnya, kedua tangannya pun saling bertaut gelisah. Sebuah reaksi yang berlebihan memang, tapi masih di tahap kewajaran mengingat kondisi kejiwaan Embun yang belum bisa di katakan sembuh total


Mike menggenggam tangan Embun saat mereka telah berada di pelataran restoran. Masih dengan senyumannya ia berusaha menenangkan ketegangan di wajah Embun, lalu membawa gadis itu menuju ke tempat orang tuanya berada


Melihat kedatangan Mike dan calon istrinya, Amber langsung berdiri dan menyambut keduanya dengan pelukan hangat. Sementara Tuan Max hanya diam sembari memandang Embun cukup lama, sedangkan putri Amber seakan tidak peduli dengan yang terjadi di hadapannya


"Maaf, membuat kalian menunggu lama" ucap Mike sembari menarik kursi untuk Embun


"Kami juga belum lama sampai disini. Kalian mau makan apa? kami kebetulan tadi sudah memesan makanan terlebih dahulu" timpal Amber yang lebih banyak berbicara dari pada yang lainnya


Embun hanya mengikuti makanan yang di pesankan oleh Mike. Tatapan mata calon mertuanya sungguh membuatnya sulit untuk menggerakkan tubuhnya apalagi jika makanan itu tiba entah masih bisa tertelan olehnya atau tidak


"Sudah sejauh mana persiapan pernikahan kalian?" tanya papa Mike sambil melihat bergantian pada anak dan calon menantunya


"Hampir delapan puluh persen pa. Kami tinggal mempersiapkan diri saja selebihnya sudah ada WO yang mengurusnya. Benarkan sayang?" Embun mengangguk mengiyakan, ia bahkan tidak berani mengangkat wajahnya di hadapan calon mertuanya itu


"Mama bisa membantu bila kalian membutuhkan bantuan!" seru Amber ketika percakapan seputar pernikahan yang menjadi topiknya


"Terima kasih ma. Kebetulan saya masih bingung untuk pemilihan beberapa barang lagi, kalau mama berkenan saya ingin meminta pendapat mama tentang hal itu" timpal Embun saat menyadari kalau Mike sepertinya tidak akan merespon perkataan mama tirinya itu


"Bagaimana kalau besok kamu datang ke rumah mama, nanti kita sama-sama belanja kebutuhan untuk pernikahan kamu" Amber sangat antusias. Sudah lama ia ingin mendekatkan dirinya pada putra satu-satunya yang di milikinya dan ternyata dalam momen ini ia bisa menunjukkan seberapa pedulinya ia pada putranya itu


Max yang melihat keakraban istri serta calon menantunya, menarik segaris senyum samar di bibirnya. Ia berharap malam ini menjadi awal mula bersatunya mereka sebagai keluarga yang sesungguhnya


Acara makan malam pun terlewati dengan suasana yang hangat. Perlahan Embun akhirnya bisa menyatu dengan keluarga Mike, meskipun ia masih belum berani mengeluarkan suaranya bila tidak di tanyakan terlebih dahulu


*


*


Mike baru saja keluar dari ruang kerjanya untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan yang sempat di bawakan oleh Lio tadi sewaktu mereka tiba di rumah


Saat memasuki kamarnya, ia mendapati Embun sudah terlelap dengan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya


Lama ia terdiam memandang tubuh indah yang selalu mampu membangkitkan sesuatu yang sudah sangat lama tidak dirasakannya


"Sial!" maki Mike saat tanpa sadar tangannya telah berhasil menyingkap bagian atas jubah mandi yang Embun kenakan hingga menampilkan benda kenyal yang selalu menantang untuk disentuh


Mike berkali-kali menelan salivanya. Terlebih adiknya di bawah sana sudah dalam posisi sempurnanya


Susah payah ia paling kan wajahnya tapi tetap saja pemandangan di depannya itu selalu menggodanya. Ia pun akhirnya memberanikan diri menyentuh dan meninggalkan kepemilikan di benda kenyal itu hingga membuat Embun meringis dibuatnya


"Sabar Mike... dua Minggu lagi!"


Mike mengelus dadanya berkali-kali. Untung saja akal sehatnya masih bisa bekerja di saat terdesak seperti ini


Sekali lagi ia memandang wajah Embun. Merapikan jubah yang tadi berhasil di bukanya, lalu berjalan menuju ke kamar mandi untuk menenangkan adiknya yang sama tidak sabarnya dengan dirinya