
Embun memakai pakaiannya dengan wajah yang di tekuk. Pagi telah berganti siang dan mereka bahkan belum memasukkan makanan apa-apa ke dalam perutnya.
Sedangkan tenaganya sudah terkuras habis karena Mike yang seperti tidak lelah terus melakukan percintaan dengannya
"Kau mau makan apa, sayang? aku akan meminta Bu Elis untuk mengantarkan makanan kita kesini" peluk Mike sembari memberikan kecupan ringan di pipi sang istri
Tanpa menjawab, Embun melepaskan pelukan suaminya dan berlalu dari kamar. Ia berencana setelah makan akan berkeliling di sekitar villa yang mereka tempati
Meskipun harus berada di bawah teriknya sinar matahari Embun merasa itu yang terbaik setidaknya ia tidak harus berada sepanjang hari di dalam kamar dengan tubuh yang hanya tertutupi selimut
Mike tertawa melihat tingkah istrinya, ia bisa memahami kekesalan Embun padanya tetapi ia juga tidak bisa menyalahkan dirinya. Mengingat bagaimana nikmatnya tubuh istrinya yang terus membuat miliknya berteriak meminta kepuasan
Saking laparnya, Embun bahkan sudah lebih dulu memakan makanannya tanpa memperdulikan Mike yang baru saja tiba disana
Ia mengabaikan ritual pasangan pengantin baru yang romantis hanya karena persoalan perut yang sudah meminta haknya.
Bu Elis hanya bisa tersenyum melihat Embun yang menghabiskan segunung makanan hanya dalam waktu sekejap.
Wanita tua itu juga terkadang terlihat menggelengkan kepalanya karena melihat begitu banyaknya tanda kemerahan yang memenuhi leher Embun dan gadis itu bahkan tidak menyadarinya
"Terima kasih Bu. Makanannya enak!" Embun mengusap perutnya yang kekenyangan
"Saya bersyukur kalau non menyukai masakan saya" ucap Bu Elis dengan tersenyum. Melihat Embun mengingatkannya pada istri tuannya yang dengan kepolosannya mampu membuat seorang tuan muda bisa bertekuk lutut di hadapannya
Walaupun Embun tentu lebih ceroboh dan kekanak-kanakan dari Serena tetapi kecantikan alami dan kebaikan hati keduanya yang terlihat sama di mata tuanya membuat Bu Elis dengan senang hati melayani pasangan muda tersebut
"Kalau begitu aku akan berkeliling dulu Bu. Sayang kalau sudah datang di tempat yang indah begini tapi hanya berdiam di kamar saja" Embun melirik suaminya yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka namun berpura-pura sibuk dengan makanannya
"Eh! non mau kemana? bukannya itu harus di tutupi dulu!" pekik Bu Elis menunjuk leher Embun
Embun tidak menghentikan langkahnya. Ia beranggapan bahwa Mike menggunakan Bu Elis untuk mencegahnya keluar dari villa itu, karenanya ia makin mempercepat langkahnya
"Tidak apa, biar saya yang mengejar gadis keras kepala itu" ucap Mike tersenyum setelah melihat Bu Elis yang terus meliriknya
Mike melangkah meninggalkan Bu Elis yang masih menatapnya dengan segaris senyum di wajahnya. Kemesraan pasangan muda di hadapannya membuatnya mengingat masa indahnya ketika menikah dengan suaminya
Masa dimana cinta merupakan sesuatu yang berharga bagi mereka dan menjadi penguat hingga mereka bisa bersama sampai saat ini. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Bu Elis mendoakan kebaikan untuk kedua pasangan tersebut
Embun duduk bersandar pada sebuah pohon yang berada tidak jauh dari pesisir pantai. Ia sudah lelah berkeliling dan kini ia tengah menikmati angin yang berhembus menerbangkan rambutnya yang tergerai
Ia menatap lautan yang ada di hadapannya, meski berbahagia entah rasanya ada sesuatu yang hilang di dalam hatinya. Sesuatu yang di rasanya penting, tapi ia juga tidak tau sesuatu itu apa
Lama ia terdiam dengan pikirannya hingga sebuah lengan melingkar di tubuhnya
"Pemandangan yang indah" gumam Mike ikut menatap yang sedari tadi menjadi fokus pandangan istrinya
Sedari tadi Mike mengikuti kemana istrinya itu melangkah, tapi ia sengaja menjaga jarak untuk memberikan ruang pribadi untuk istrinya
Ia selalu rela membayar mahal untuk setiap senyum bahagia yang di perlihatkan Embun padanya, karena ia sangat tau bagaimana susahnya senyum itu bisa kembali menghiasi wajah cantik istrinya
Namun, di kejauhan ia bisa melihat jelas wajah yang tersenyum itu tiba-tiba berubah. Ia tau kalau Embun sedang memikirkan sesuatu, dan ia sangat takut kalau pikirannya itu akan mengingatkannya pada kenangan yang sudah terlupakan itu
Dugaannya benar saat ia mendekat, Embun sama sekali tidak menyadari kedatangannya bahkan tatapan matanya tidak beralih dari laut luas yang membentang di depan mata mereka
Begitu pula ketika ucapannya terabaikan, ia semakin yakin kalau ada sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam kepala istrinya
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?" tanya Mike sembari mengecup puncak kepala Embun
"Aku merasa ada sesuatu yang hilang di dalam hatiku, entah itu apa?"
Helaan nafas Mike terdengar di antara deburan ombak. Ia tidak tau harus menanggapi apa perkataan Embun, karena sejujurnya ia takut akan salah dalam berucap
"Sepertinya aku merindukan orang tuaku. Pantai memang selalu membuatku teringat akan mereka"
Mike memandang Embun dalam diam. Ia berharap Embun hanya akan mengingat orang tuanya dalam kenangannya yang indah dan tetap mengubur duka mendalam itu selamanya
"Hhh… Sepertinya mereka masih marah padaku. Kelakuanku hari itu memang tidak pantas untuk di maafkan" Embun menyeka sudut matanya.
"Tidak! tidak ada orang tua yang marah pada anaknya. Mereka justru bangga memiliki putri secantik dirimu" Mike merengkuh Embun dalam dekapannya
"Suatu saat nanti, kita akan menemui mereka… aku berjanji!"