
Pagi harinya, Embun terbangun saat merasakan tangan kekar Mike memeluknya. Namun yang terasa berbeda kulitnya seakan bersentuhan langsung dengan tangan pria itu
Ia pun memastikan apa yang dirasakannya, saat melihat ke arah tangan Mike berada hampir saja ia berteriak karena tangan Mike benar-benar berada di perutnya yang terbuka karena jubah mandi yang dikenakannya tersingkap
Ia mengutuk kebodohannya yang saking lelahnya sampai lupa mengganti jubah mandi yang dipakainya dengan baju tidur. Terlebih saat melihat bagaimana tubuhnya yang terekspos membuatnya meringis malu dan berharap Mike tidak menyadari akan yang terjadi dengannya pagi ini
Perlahan ia beranjak dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, namun lagi-lagi hampir saja ia berteriak kala melihat di sekitar dadanya banyak sekali tanda kemerahan yang ia tidak tau apa penyebabnya
Lama ia berpikir, apa yang sudah ia dan Mike lakukan sampai tanda yang di ingatnya sama persis dengan yang Mike tinggalkan saat pertama kali ia menginap disana bisa kembali ada. Padahal seingatnya setelah mandi ia langsung tertidur dan terbangun saat pagi
"Apa semalam aku yang sudah menyerang Mike terlebih dahulu? setahuku ia bukan orang yang akan melakukan yang tidak tidak terhadapku"
Embun menepis pikiran buruknya, meskipun tidak sadar tapi ia tidak mungkin menyerang Mike terlebih dahulu. Ia pun segera membersihkan dirinya, ia pasti akan merasa sangat malu kalau sampai Mike melihat bekas kemerahan itu di dadanya
*
*
Tampilan Mike pagi itu sedikit berbeda dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya meski samar namun akan nampak bila di perhatikan.
Tidur bersama Embun semalam membuatnya tersiksa, apalagi saat jubah yang di kenakan Embun terus tersingkap ketika pemiliknya merubah posisi tidurnya membuat matanya enggan untuk terpejam
Walaupun sudah menutupi tubuh Embun dengan selimut, tetap saja otaknya bekerja di luar kehendaknya seolah mengkoordinir gerakannya untuk melakukan yang bertentangan dengan hati nuraninya
Terlebih bisikan setan yang ikut menyemangatinya untuk menikmati sesuatu yang terpampang jelas di depan matanya, membuatnya kalah dan akhirnya mengikuti apa yang di kehendaki oleh tubuhnya
Perlahan tapi pasti tangannya kini telah berpindah menyentuh kedua benda kenyal itu. Tidak hanya berhenti disitu saja, ia pun mulai menambah tanda kepemilikannya hingga hampir menutupi tempat favoritnya itu
Apalagi erang an samar dari bibir Embun membuat semangatnya bertambah besar. Seakan semesta menyetujui apa yang dilakukannya, karena malam itu meski sudah bertindak sejauh itu Embun tidak juga terbangun dari tidurnya
Mungkin rasa lelah yang teramat sangat di rasakan nya membuatnya tidak lagi terusik dengan hal hal yang terjadi di sekitarnya.
Seandainya malam itu Mike melanjutkan apa yang dilakukannya, mungkin secara tidak sadar Embun tidak akan menolaknya tapi lagi-lagi malaikat kecil di sudut hatinya mengingatkan bahwa sebentar lagi mereka menikah dan melakukan hal tersebut setelah pernikahan akan terasa jauh lebih nikmat
Mike pun mengurungkan niatnya lalu beranjak menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya disana
"Apa kau sakit?" tanya Embun khawatir melihat Mike melamun tanpa menyentuh sarapannya
"Tidak, aku hanya sedikit lelah. Semalam ada pekerjaan yang harus aku selesaikan" jawab Mike kikuk sembari menggaruk tengkuknya
Sebenarnya Embun ingin menanyakan hal itu pada Mike tapi ia malu kalau kenyataan yang di dengarnya membuatnya harus menahan malu
"Ada yang ingin kau bicarakan, sayang?" Mike melihat gelagat Embun yang seakan ingin mengatakan sesuatu namun selalu diurungkannya
"Hmm…sebenarnya…apa semalam aku menyerang mu saat tidur?" tanya Embun seraya menunduk
"Maksudmu sayang?" Mike menahan tawanya. Ia mengerti maksud pertanyaan Embun, namun ia tidak menyangka kalau Embun berfikir kalau dirinya yang menyerang Mike bukan sebaliknya
"Ah…itu…tanda…maksud ku…tanda merah itu…apa kau yang melakukannya?" wajah Embun merona. Ia semakin menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikannya dari tatapan mata Mike
"Merah? tanda merah apa? coba perlihatkan padaku"
Embun menyesali pertanyaannya, karena hal itu malah membuat Mike penasaran akan tanda merah yang dikatakannya dan tentu saja ia tidak akan mau menunjukkannya
"Lupakan. Lupakan saja perkataan ku tadi" Embun berusaha bersikap sewajarnya dan melanjutkan memakan sarapannya
Mike tentu tidak akan melewatkan kesempatan melihat wajah merona malu Embun yang sangat jarang di perlihatkan oleh gadis itu.
"Apa perlu aku panggil dokter untuk memeriksa tanda merah yang kau bilang tadi? aku khawatir kalau tanda merah itu akan membahayakan"
Uhuk!uhuk!
Embun tersedak makanannya. Memperlihatkan pada Mike saja dirinya merasa sangat malu apalagi sampai memperlihatkannya pada dokter, yang ada dirinya hanya akan jadi bahan tertawaan saja
"Tidak perlu berlebihan, mungkin semalam aku terlalu keras menggaruknya makanya pagi tadi masih terlihat memerah"
"Kalau begitu, coba perlihatkan padaku supaya aku bisa melihat apakah benar itu hanya bekas digaruk atau bukan" Mike kembali ke kursinya setelah tadi dengan sigapnya menepuk punggung Embun saat gadis itu tersedak
Embun terlihat gusar. Ia harus secepatnya menyuruh Mike untuk berangkat kerja sebelum pria itu kembali mengutarakan keinginannya
"Ini sudah siang. Nanti kau terlambat bekerja" Embun mengambil tas kerja Mike lalu menarik tangan pria itu untuk segera berangkat
Beruntung tidak lama kemudian Lio muncul sehingga tidak ada alasan bagi Mike untuk berlama-lama di rumah.
Setidaknya saat ini Ia bisa selamat, tetapi mungkin malam nanti Mike akan kembali mengatakan hal yang sama dan ia harus memiliki alasan lain untuk menolaknya