Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 42 Menghilang


Malam itu, Embun pulang ke kosan tanpa di jemput oleh asisten Mike seperti malam-malam sebelumnya. Bahkan Mike pun tidak ada mengabari apa-apa padanya padahal terkadang sesibuk apapun pria itu masih sempat mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya


Hampir pukul sepuluh malam saat Embun tiba di depan gang kosannya. Seseorang yang sejak tadi mengikutinya diam-diam, segera menyergap Embun dari belakang ketika Embun berada di tempat yang sepi


Embun berontak tapi tenaga orang yang menyergapnya lebih besar darinya, lama kelamaan tubuhnya seakan kehilangan tenaganya dan terakhir yang bisa di ingatnya hanya gang sempit tanpa penerangan itu


*


*


Mike harus menggunakan arm sling karena tulang bahunya mengalami sedikit pergeseran akibat terjatuh dari tempat yang cukup tinggi


Semula ia mengabaikan rasa sakit yang di alaminya, namun rasa sakit itu makin terasa terlebih saat ia menggerakkan tangannya hingga dokter yang memeriksanya memaksa untuk menggunakan penyangga tangan itu


Seperti rencana awalnya, keesokan paginya Mike beserta anak buahnya baru berangkat kembali ke Jakarta. Ia juga sudah mendapat kabar kalau Edwar dan pengawalnya tiba dengan selamat dan sudah di masukan ke dalam ruang tahanan


Mike bisa bernafas lega karena semua berjalan lancar seperti yang diinginkannya. Meski begitu, ia tetap merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang membuatnya sedikit merasa gelisah


"Ada apa tuan? anda terlihat gelisah" tanya Lio menyadari tingkah tuannya yang sedikit berbeda


"Perasaanku tidak enak,"


"Bahu tuan sakit?"


"Tidak…aku tidak apa-apa. Coba telepon Paman Abbas dan tanyakan kabar papa disana"


Lio segera mengambil ponselnya dan menghubungi ayahnya, obrolan yang hanya sesaat karena ia hanya ingin memastikan keadaan tuan besarnya


"Tuan besar sehat, sekarang sedang menunggu sidang banding di pengadilan"


Mike mengangguk mengerti, tapi rasa lega tidak serta merta memenuhi hatinya


"Mungkin tuan merindukan nona Embun. Kenapa tidak coba menghubungi nona Embun,tuan?"


"Dia tidak menjawabnya…" sedari tadi Mike terus mencoba menghubungi nomer Embun, namun semua panggilannya tidak ada satu pun yang terjawab


"Mungkin nona Embun sedang bekerja tuan"


"Sekalipun bekerja dia tidak pernah mengabaikan telepon dariku" Mike merasa ada yang tidak beres, apalagi perasaan itu makin terasa saat Embun tidak juga mengangkat teleponnya ataupun membalas pesan yang dikirimnya


"Tambah kecepatan, kita harus segera tiba di Jakarta. Ada yang harus aku pastikan!"


Lio mengikuti instruksi tuannya, ia semakin memperdalam pijakan kakinya pada pedal gas sehingga mobil melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi


Mike mulai menghubungkan tentang ketidak hadiran James saat penangkapan Edwar dengan Embun yang tidak bisa ia hubungi. Namun, ia berusaha menepis pikiran-pikiran buruknya dan berharap kalau Embun dalam keadaan baik-baik saja.


Jalanan kota Jakarta di siang hari selalu di padati dengan hiruk pikuknya kehidupan masyarakat yang hidup disana. Makanya tidak jarang kemacetan di waktu istirahat kantor selalu terjadi


Mike terus memaki, ia benar-benar merasa frustasi karena hingga saat ini ia tidak tau bagaimana kabar kekasihnya itu.


"Aku berangkat lebih dulu, pastikan kau menyusul"


Belum mendengar jawaban Lio, Mike sudah keluar dari mobil dan menepi untuk mencari ojek yang bisa mengantarnya lebih cepat ke kosan Embun


Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatap aneh kepadanya, asalkan bisa sampai dengan cepat maka segala cara akan ia lakukan


"Embun!" Suara teriakan serta ketukan pintu terdengar bersahutan di depan pintu kamar, namun tidak ada seorang pun yang keluar dari sana


"S*ial! Antar saya ke toko buku media pak" Masih menumpangi ojek yang sama , Mike mendatangi tempat kerja Embun


Pria tua yang mengantar Mike tidak berani bertanya banyak hal, melihat wajah penuh kekhawatiran Mike ia merasa iba sehingga ia dengan senang hati mengantar kemanapun Mike akan pergi


Setibanya disana, rekan kerja Embun mengatakan kalau gadis itu tidak masuk bekerja membuat pikiran buruk di otaknya makin menjadi


Mike sudah seperti orang yang kehilangan akal, tidak mendapati Embun di tempat kerjanya Mike kini berharap bisa bertemu dengan Nabila di kantornya


Ia memasuki kantor dengan berlari, sapaan para pegawainya tidak satupun ia tanggapi. Saat ini tujuannya hanya ruangan cleaning servis tempat Nabila berada


"Embun mana?" tanya Mike dengan nafas yang terputus-putus


"Bukannya Embun bersama anda Pak? semalam ia tidak pulang ke rumah" jawab Nabila sambil mengernyitkan keningnya


"Tidak…dia tidak bersamaku. Apa dia tidak bilang hendak kemana padamu?"


"Tidak ada Pak, saya coba menghubunginya semalam tapi tidak di angkat"


Mike menjambak rambutnya, ia tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai sesuatu terjadi pada Embun


"Coba hubungi keluarganya, mungkin saja dia pulang kesana tanpa memberi tahu kepada kita"


Meskipun menurut Nabila hal itu tidak mungkin terjadi, mengingat hubungan mereka yang kurang baik tapi Nabila yang juga merasa khawatir segera menghubungi adik Embun


"Sudah ketemu, tuan?" Lio muncul di belakang Mike setelah berhasil terbebas dari kemacetan.


"Dia tidak pulang semalam" Mike menatap Nabila yang masih berbicara dengan seseorang di seberang sana


"Embun tidak ada di rumahnya…"lirih Nabila saat sambungan teleponnya terputus


Pikiran buruk kembali menyergap Mike, ia bisa merasakan kalau saat ini Embun berada dalam bahaya. Ia berbalik dan menatap Lio dengan tajam


"Sebar anak buah kita dan temukan Embun secepatnya!"