Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 20 Menyesal


(Embun POV)


Sepanjang perjalanan pulang, otakku terasa buntu memikirkan kejadian pagi tadi yang sedikit banyaknya merubah semua rencana yang sudah jauh hari aku persiapkan


Seharian ini bahkan fokus kerjaku berkurang di karenakan pertemuan dengan pria menyebalkan yang entah mengapa selalu membuatku sial ketika bertemu dengannya, orang yang selama beberapa hari ini selalu aku hindari tapi takdir seakan mengharuskan aku selalu bertemu dengannya


Ketika sampai di kontrakan, aku langsung merebahkan diriku di kasur tipis milik ka Nabil tanpa berniat berganti baju ataupun membersihkan diri seperti yang biasa aku lakukan ketika pulang bekerja


Pikiranku kembali melayang pada kejadian pagi tadi, pertemuan kembali dengan pria menyebalkan yang lagi dan lagi harus berakhir dengan kekesalan


Aku sangat menyesali keputusanku kemarin dengan menantang Mike untuk memeriksakan tangannya ke dokter karena hal itu justru membuatku harus terikat perjanjian dengan pria menyebalkan itu


Pagi tadi sewaktu toko di buka, Mike sudah berada disana dan tentu saja membuatku terkejut pasalnya selama ini pria itu selalu terlihat di siang hari tepatnya pas jam istirahat makan siang namun anehnya ia malah sudah datang kesini di pagi hari begini terlebih dengan senyum yang ia perlihatkan seakan menyiratkan sesuatu yang menakutkan


Aku pun sempat menanyakan alasan kedatangannya yang hanya di balas dengan memberikan sebuah surat yang isinya membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya


"Se-sepuluh juta?" pekikku di sela-sela keterkejutanku


"Semua sudah jelas seperti yang tertulis di kertas itu" terang pria menyebalkan itu tanpa rasa bersalah sedikitpun


"Mana mungkin bisa semahal ini, anda pasti menipu saya kan?" selidik ku dengan tatapan tajam ke arah pria itu


"Saya sudah mengikuti saran anda nona, saya meminta dokter untuk melakukan sejumlah pemeriksaan terhadap tangan saya jadi sekiranya harga segitu sudah sesuai dengan pemeriksaan yang saya lakukan"


"Tapi- tapi ini terlalu mahal, saya tidak punya uang untuk membayar sebanyak ini" Dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu sedangkan uang yang aku miliki saja hanya cukup untuk bertahan hingga gajian nanti' pikirku miris


"Saya tidak perduli nona, saya hanya meminta anda untuk mengembalikan apa yang sudah anda janjikan pada saya"


"Kejadian ini bukan sepenuhnya kesalahan saya tapi karena kecerobohan anda juga, jadi saya mau pembayaran ini kita bagi dua"


Saat melihat pria itu seakan membantah perkataan ku, buru-buru aku kembali meyakinkan padanya kalau aku tetap akan membayar setengah dari yang tertulis di kertas itu meskipun nantinya harus mencicil sedikit demi sedikit tapi setidaknya aku bisa terbebas dari utang itu


"Saya akan tetap membayar setengahnya tapi saya minta kompensasi waktu karena saya tidak bisa segera melunasinya jadi harap anda bisa mengerti dengan keadaan saya"


"Saya rasa semua urusan kita sudah selesai, kalau begitu saya pamit kembali bekerja tuan" aku cukup terhibur melihat raut wajahnya yang terlihat berubah ubah mendengar perkataan ku tapi aku tidak mau berlama-lama melihat wajah tampan itu mengingat keahlian pria itu yang bisa membuat lawan bicara menurut akan apa yang ia katakan bisa-bisa aku akhirnya harus membayar semua biaya pengobatannya yang tidak masuk akal itu


"Berikan aku nomer ponselmu" aku membalikkan tubuhku dan memastikan apa yang aku dengar tidak salah


"Untuk apa?"


"Memastikan kalau kau tidak mencoba untuk kabur ataupun membohongiku" ingin sekali rasanya tanganku memukul wajah tampannya itu yang seenaknya menganggap kalau aku adalah seseorang yang tidak bertanggung jawab


"Saya tidak akan kemana-mana tuan, saya akan tetap bekerja disini supaya bisa secepatnya melunasi hutang pada anda"


"Saya tidak percaya padamu, cepat berikan nomer ponselmu" ingin rasanya aku berteriak saat itu juga tapi aku tahan karena tidak ingin menambah daftar kesalahanku selama bekerja disini, dengan menghentakkan kaki akupun mengambil ponsel yang ia sodorkan padaku dan mulai mengetik nomer milikku disana setelahnya aku segera berlalu dari sana sebelum kesabaran yang aku miliki habis karena pria itu


Entah sudah berapa lama aku sibuk dengan pikiranku sendiri hingga kehadiran ka Nabil bahkan tidak aku sadari


Ka Nabil yang selalu perhatian tentu saja merasa ada yang tidak beres denganku namun aku buru-buru mengalihkan pembicaraan ketika ia mulai bertanya, rasanya tidak sopan kalau aku membicarakan permasalah ku pada orang sebaik ka Nabil apalagi saat ini ka Nabil sedang menikmati kebersamaan dengan ka Bian yang sudah berstatus sebagai kekasihnya


POV END