Jeratan Cinta Tuan Mafia

Jeratan Cinta Tuan Mafia
Eps 114 Luapan kemarahan


Mike bergegas menuju ke rumah sakit saat mendapat kabar tentang istrinya yang di temukan tidak sadarkan diri di sisi tempat tidurnya


Saat tiba disana, ia melihat Embun tengah duduk bersandar di tempat tidur dengan tatapan mata kosong yang mengarah ke tembok di depannya


Ia berjalan mendekat lalu memegang tangan istrinya, namun tatapan mata Embun yang melihatnya saat ini begitu berbeda dari pagi tadi saat melepasnya bekerja


Mata yang biasa terlihat teduh kini terlihat menyimpan amarah yang begitu besar, membuat Mike merasa semakin tidak tenang apalagi sejak pagi perasaannya juga tidak enak


"Kamu baik-baik saja kan, sayang?" Mike makin mendekat


"Pembunuh!" ketus Embun yang sontak membuat Mike terkejut dengan ucapannya


"Apa maksudmu sayang?"


"Kau yang sudah membunuh kedua orang tuaku! karena keegoisan mu nyawa mereka jadi taruhannya!" teriak Embun dengan air mata berlinang


Mike membeku mendengar perkataan istrinya. Ketakutannya kemarin ternyata terbukti hari ini, ingatan Embun sudah kembali dan itu pertanda buruk bagi dirinya


"Itu-itu bohong, sayang. Siapa orang yang sudah mengatakan hal bohong seperti itu padamu?" Mike berusaha memeluk Embun untuk menenangkannya tetapi di tepis olehnya


"Kau yang pembohong! kau mengatakan orang tuaku menunggu ku di rumah padahal mereka sudah meninggal! dan itu semua karena ulahmu!" teriakan Embun makin menggema, ia semakin histeris saat kembali terbayang tentang kematian orang tuanya setiap melihat wajah suaminya


"Aku tidak berbohong, sayang"


"Cukup! aku membencimu! aku benar-benar membencimu! pergi dari sini! pergi!" nafas Embun tersengal-sengal. Kemarahan memenuhi hati dan pikirannya.


"A-aku minta maaf sayang! aku bersalah karena sudah berbohong tapi bukan aku yang membunuh mereka. Aku mohon jangan membenciku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu dan calon anak kita" pinta Mike


"Semua karena keegoisan mu! saat ba jingan itu memintaku untuk menukar nyawa mereka, kenapa kau malah memilih menyelamatkan aku dari pada nyawa mereka? kenapa Mike? kenapa?"


"Karena aku mencintaimu Embun! karena aku tidak mau kehilangan kamu! maaf kalau aku terlambat menyelamatkan mereka, tapi aku sungguh-sungguh meminta maaf dan juga merasa bersalah pada mereka dan juga padamu"


Mike jatuh bersimpuh di sisi tempat tidur istrinya. Ia tidak kuasa menerima pengadilan yang istrinya lakukan padanya, meskipun ia sadar semua karena kesalahan dirinya tapi siapa pun yang berada di posisinya sudah pasti akan melakukan hal yang sama dengannya


"Maaf mu tidak bisa mengembalikan orang tuaku!" cibir Embun


"Aku tau, sayang! aku tau, tapi aku mohon kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahanku pada mereka dengan membahagiakan mu"


"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah hidup bahagia bersama orang yang sudah membunuh orang tua ku!" Embun berkata dengan lantang, bahkan air matanya berhenti mengalir saat mengatakan hal tersebut


"Jangan bicara seperti itu, sayang. Aku mohon, beri aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku" Mike memelas. Ketakutan akan kehilangan istri dan juga calon anaknya seketika memenuhi kepalanya


"Pergi! aku tidak mau melihat mu disini!" Embun kembali menepis tangan Mike yang menggenggam tangannya


"Aku mohon, sayang!"


"Aku bilang pergi! ah…" Embun merintih memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit


Kemarahan membuatnya lupa akan kehadiran nyawa lain dalam rahimnya. Terlupa akan peringatan dokter tentang mengistirahatkan tubuh dan otaknya dari pikiran yang berat yang bisa memicu kontraksi pada perutnya


Terlupa bahwa pikiran yang terlalu terbebani akan sesuatu hal, bisa membuatnya kehilangan satu-satunya hal yang berharga dalam hidupnya yaitu calon anak di dalam rahimnya