[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Cara Mendekatinya


..."Kata mereka 'banyak jalan menuju Roma' dan tentu saja itu benar."...


Cinta sudah nampak segar setelah menyelesaikan ritualnya mempercantik diri. Wanita itu mengenakan celana jeans wide-leg, celana yang lebar di bagian kaki berwarna biru dan kaos putih bergambar di bagian depan. Sepatu pink yang bersol sedikit tinggi dan tas selempang pun turut andil memperindah tampilan Cinta. Pun dengan kedua anaknya. Mereka juga mengenakan celana levis dan kaos senada dengan Cinta. Yang membedakan hanyalah celana Raja panjang menutupi seluruh kakinya, sedangkan celana Ratu pendek setengah paha dengan aksen bunga di bagian depan.


"Sudah cantik dan ganteng anak mama," puji Cinta membaui tubuh anak-anaknya yang segar khas bayi. Ya, dia masih suka menyemprotkan parfum bau bayi pada keduanya. Bagi Cinta bau itu bagaikan candu.


"Sudah siap?"


"Siaap," sahut kedua bocah itu dengan antusias.


Tepat saat ini pula bel rumah mereka berbunyi dengan nyaring. Cinta dan kedua anaknya pun membungkam, menoleh ke arah pintu bersamaan. Siapa yang bertamu sepagi ini? Cinta dengan segera melangkah membuka pintu berwarna toska tersebut.


Deg,!


Cinta mematung. Jantungnya berdetak semakin kuat saat sosok yang familiar dan mengusik tidurnya semalaman itu telah berdiri di depannya.


"Mau apa kau kemari?" tanya Cinta dengan nada datar.


Pria yang tengah mengenakan kemeja putih berdasi navi itu, menelan berat salivanya. Netra pria itu masih mengamati wanita yang begitu dia rindukan tersebut. Sebuah senyum samar muncul dibibir tipis Tahta. Style yang berbanding seratus delapan puluh derajat darinya. Gaya anak muda masih benar-benar cocok untuk wanita yang sudah beranak dua itu.


"Mama lama banget, sih!" seru Ratu sembari berlari kecil menyusul sang ibu.


Langkah Ratu terhenti dan matanya membola saat melihat sosok Tahta berdiri di depan ibunya. Masih ada sedikit rona ketakutan di wajah mungil gadis itu. Sedangkan Raja yang baru saja muncul sudah menatap tajam pada Tahta.


Tahta merasa semakin berat hanya untuk sekedar menelan ludahnya sendiri. Kini bukan hanya satu orang yang harus dia hadapi, tapi tiga. Jantungnya berdebar, tapi rasa bahagia karena bisa melihat kedua anaknya mengalahkan rasa gugu Tahta. Pria itu menatap haru pada kedua bocah kembar yang ada di belakang Cinta.


"Itu ... aku disuruh mama untuk menjemput kalian."


"Kami punya mobil sendiri," ketus Raja.


"Tapi mobil papa lebih bagus dan lebih besar. Tadi papa juga beli coklat dan boneka besar di dalam mobil."


Kedua bocah itu memicingkan mata. Sejak kapan laki-laki aneh ini busa mereka panggil papa?


Raja menatap Cinta yang tengah menatap tajam ke arah Tahta. Anak itu menuntut penjelasan.


Cinta hanya bisa mendengkus kesal. "Sudahlah, ayo kita berangkat. Kalian mau naik mana?"


"A–apakah kita ... bisa naik mobil Om cengeng ini?" tanya Ratu dengan ragu-ragu. Gadis kecil itu memang telah menaruh perhatian dan membuat rencananya sejak Tahta mengatakan coklat dan boneka. Dua hal yang menjadi alasan kuat untuk memilih pria itu.


Cinta terlihat mengulum senyuman samar saat mendengar ucapan putrinya. Om cengeng? Tidak buruk juga.


Tahta menatap lembut mantan istrinya. Dia menyadari ada senyum samar yang mengembang saat gadis kecilnya mengatai dan memberikan julukan baru. Tapi itu tidak terlalu buruk. Julukan itu tidak lebih penting dari kenyataan bahwa putrinya lebih memilih untuk berangkat bersamanya. Biarlah dia disebut cengeng, penakut atau apapun oleh anak-anaknya, selama mereka tidak membencinya. Tahta menarik kecil sudut bibirnya, ada kehangatan yang menyelusup ke dalam hati Tahta.


"Tapi, Sayang tempat duduk kalian kan ada di mobil Mama. Akan butuh waktu sedikit lama untuk memindahkannya."


"Aku akan memindahkannya," sahut Tahta dengan senyum lembutnya dan meraih kunci mobil yang tergantung di jari Cinta.


Wanita itu akhirnya hanya bisa menganga melihat Tahta yang sudah mulai memindahkan car seat anak-anaknya. Dia bahkan belum memberikan persetujuan, tapi sepertinya pria itu lebih takut akan ditolak jika menanyakan persetujuannya.


Cinta yang melihat gelagat putranya langsung mengangkat tubuh bocah kecil itu, membawa Raja dalam gendongannya. "Sayang, kamu kesel, ya? Kenapa nggak ditolak aja kalau nggak mau?"


"Enggak. Ratu suka coklat dan bonekanya."


Cinta hanya mengangguk pasrah. Putranya ini benar-benar akan menjadi seorang pria tsundere. Pria impian sejuta wanita.


Seat belt sudah terpasang dengan rapi di tubuh mereka berempat. Cinta menengok si kembar yang duduk di kursi belakang. Senyum kecil dia sematkan saat si kembar juga balik menatapnya.


Tuhan, aku ingin waktu berhenti agar bisa melihat pemandangan ini lebih lama, batin Tahta yang terus saja memperhatikan aktifitas ketiganya. Netra pria itu tak pernah bisa berpaling dari ketiga manusia yang paling penting dalam hidupnya saat ini. Tahta sudah menetapkan tujuan, ketiga orang itu adalah prioritas utama baginya, untuk sekarang, dan selamanya.


"Apa perlu aku yang menyetir mobilnya?" sindir Cinta yang tanpa disadari Tahta, sudah melirik sinis padanya.


"Baiklah-baiklah, aku berangkat. Kenapa kau begitu mudah emosi? Kau akan menderita migrain jika terus begitu."


"Kalau aku terkena migrain, itu sudah jelas penyebab utamanya adalah dirimu."


"Om jahat berisik! Aku tidak bisa konsentrasi," celetuk Raja yang tengah memainkan game dari ponselnya. Sementara itu, Ratu tengah sibuk menikmati coklat-coklat di hadapannya.


"Sayang, aku tidak jahat," jawab Tahta dengan nada memelas. Hatinya benar-benar masih terasa nyeri mendengar julukan dari putranya itu.


"Om jahat karena sudah membuat mama menangis."


"Itu karena mama cengeng." Tahta benar-benar tidak mau kalah kali ini. Dia tidak ingin julukan itu terus melekat di dirinya.


"Mama tidak pernah cengeng. Om yang cengeng! Karena Om membentak mama, jadi mama menangis."


"Itu tidak benar. Papa tidak pernah membentak mama. Papa hanya ingin meminta maaf karena papa pernah jahat pada mama."


"Oh, ayolah, Tahta ... mereka baru lima tahun." Cinta yang sudah tidak tahan dengan perseteruan itu, memilih untuk membuka suara.


"Bagaimana bisa aku membiarkan anakku menyebutku sebagai om jahat?" Tatapan Tahta berubah sendu menatap aspal jalanan.


"Karena kau memberikan kesan buruk pada mereka. Dan bukankah kau memang jahat? Kau pernah mengusirku, menyebutku beban keluarga, bahkan menyeling– emb–emb!" Cinta memukul tangan Tahta yang membekap mulutnya dan sedikit mendorong kepala ke arah sandaran.


"Tidak bisakah kita tidak membicarakan hal ini di depan anak-anak? Kau sengaja ingin membuat mereka semakin membenciku? Tolong bantulah aku sedikit, Sayang."


Cinta membelalak lebar. Dia mengarahkan tangan ke pinggang Tahta. "Apa kau bilang? Sayang? Sayang? Kau mau mati, hah?"


"Aaakh!" Tahta mengerang saat merasakan sakit bercampur perih di pinggangnya akibat dari cubitan maut Cinta.


Pria itu terus meringis kesakitan sambil mengusap hem putih bagian pinggangnya. Rasa sakitnya bahkan melebihi rasa sakit yang dia dapatkan dari tamparan Zain. Namun, tidak dengan perasaan yang ada di hatinya. Ini sama sekali tidak membuat hati pria itu terluka sedikitpun. Justru dia merasa bunga-bunga tengah bermekaran di dadanya saat ini. Dia sudah mendapatkan ide untuk membuat ibu dua anak ini mau menunjukkan emosi kepadanya. Setidaknya dia tidak akan berhadapan dengan ekspresi datar itu untuk selamanya.


Tahta melirik ke arah spion. Terlihat kedua anaknya tengah mengulum senyum, menikmati kesakitan yang diakibatkan oleh tangan ibu mereka.


Bahkan rasa sakit sebesar apapun akan papa tahan, demi kalian, Sayang. Papa ingin memberikan keluarga untuk kalian. Papa tidak ingin kalian harus menjalani hidup seperti yang papa jalani dulu.


...Bersambung.......