![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
"Bocah si*laaan!" pekik Bella dengan kesal setelah pintu kamar mandi itu tertutup sempurna. Dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Rahangnya mengetat saat melihat betapa kacaunya dia hanya karena gertakan seorang bocah ingusan. Namun tidak bisa dipungkiri, tatapan Nana sangat mendominan dan seolah mengintimidasinya. Dia merapikan kembali rambut yang acak-acakan dan memoleskan lipstik merah di bibirnya yang seksi. Matanya masih menatap nyalang dan napas wanita itu masih memburu, tapi dia tak bisa berlama-lama di sana.
Kedua kakak beradik itu berjalan menjauhi ruang terkutuk tersebut. Nana masih memasang ekspresi kesalnya, sedang Cinta terlihat mengatupkan kedua bibir sembari sesekali melirik adiknya penuh kegugupan. Namun, dengan cepat Cinta mengubah ekspresinya saat langkah mereka semakin mendekati meja sekolompok pria yang tengah asyik bercengkrama. Cinta menghentikan langkahnya dengan tenang di dekat meja diikuti oleh Nana.
Kembali Tahta dibuat terkejut melihat keberadaan adik dari istrinya tersebut. Mungkin jika ada kejutan lainnya lagi dia akan terkena serangan jantung hari itu juga. "Na–na?"
"Nana ada acara dengan temannya di sini jadi kami tidak sengaja bertemu. Aku akan pulang bersama Nana, kau lanjutkan saja acaramu," pamit Cinta dan segera berbalik melangkah meninggalkan orang-orang yang masih terdiam menatapnya.
"Aku akan mengantar kalian," sahut Tahta dan segera beranjak.
"Aku dan Nana bisa naik taksi."
"Tidak. Ini sudah malam." Tahta melenggang pergi mengekori kedua wanita tersebut, meninggalkan teman-temannya yang terlihat bingung dan saling melempar pandangan.
Tidak ada percakapan yang terjadi di dalam mobil dengan cahaya remang-remang tersebut. Ketiga orang itu sudah larut dalam pikiran, ketakutan, dan kekesalan mereka masing-masing. Nana memberikan tatapan tajamnya yang seolah ingin mencekik kakak iparnya dari belakang. Sedangkan Tahta yang menyadari hal tersebut karena kaca spion terpantul le arah Nana, hanya bisa menelan salivanya dengan berat.
Ekor mata Cinta mengarah pada pria yang duduk di sampingnya. Namun dengan cepat wanita itu mengalihkan pandangannya dengan sinis.
"Aku tidak menyangka kau bisa mengejar-ngejar wanita juga dulu," ujar Cinta memecah keheningan di antara ketiganya.
"Emm ... itu ...." Tahta mengusap dagunya beberapa kali sembari sesekali melirik ke arah Cinta yang tanpa ekspresi.
"Ternyata banyak hal yang tidak aku tahu dari dirimu. Apa kau juga mencintainya dalam diam? Sungguh memprihatinkan sekali." Senyum tipis tercetak di sudut bibirnya yang seolah miris, mengasihani suaminya.
Tahta mengangguk perlahan. "Aku saat itu tidak sengaja terjatuh dan Bella menolongku. Membersihkan lukaku. Saat itu aku merasa dia adalah wanita yang lembut dan penuh perhatian, aku menyukainya sejak semester akhir, tapi tidak berani mengungkapkannya. Hingga tiga tahun yang lalu, tiba-tiba kita bertemu kembali dan dua tahun yang lalu aku memberanikan diri mengatakannya," ungkap Tahta dengan tatapan nanar ke arah jalanan.
"Mengharukan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah menjadi pihak ketiga di antara kalian," ucap Cinta dengan entengnya seolah tak terjadi masalah apapun.
Tahta menoleh. Dia tahu betul perlakuannya tadi pasti menyakitkan bagi Cinta, tapi kenapa wanita itu seolah tidak peduli. Wajahnya datar dan dingin seolah tak tersentuh dan bisa membekukan segalanya. Pandangannya kembali terarah ke depan. Dia menelan saliva yang sudah serasa hampir mengoyak kerongkongannya tersebut. Entah sudah berapa kali dia melakukan kegiatan yang terasa menyulitkan itu.
Di balik ketegangan tersebut Nana masih melayangkan tatapan membunuh. Jika saja dia tidak mengingat pesan kakaknya, mungkin sekarang Nana sudah menghujani pria di hadapannya itu dengan semua kata-kata kasar yang dia tahu. Mencakar, dan menendang pria tak tahu diri itu sekeras yang dia mampu.
Dia adalah korban Kak Cinta. Dia juga korban keegoisan kakakku. Nana terus saja mengulang-ulang perkataan Cinta dalam hati. Namun sebenarnya, kepala gadis itu sudah hampir meledak karena emosinya yang tertahan. Bahkan cengkeraman tangannya di pinggiran kursi terasa semakin erat dan merusak kulit luarnya.
Mobil sedan berwarna hitam itu berhenti di depan gedung apartemen berkelas menengah di tengah kota. Dia wanita turun dari dalam mobil bersamaan dengan ekspresi dingin.
Tahta terdiam. Dia hanya bisa menatap sendu punggung istrinya yang mulai menjauh dan hilang di balik tembok gedung. Tahta mengerti dengan kekesalan dan kekecewaan Cinta. Dia hanya bisa berharap Cinta memberikannya waktu untuk menjelaskan segalanya.
...----------------...
Sesampainya di apartemen, Cinta bergegas menuju unit miliknya dan Nana. Dengan langkah lebar, wanita itu segera membuka pintu kamarnya. Dia sudah sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak lolos hingga membuat netranya terasa panas. Sakit, sangat sakit, hati Cinta untuk sekarang terasa direm*s-remas. Saking sakitnya, dia merasa seperti berjalan di atas duri-duri yang tajam dan busur panah menancap tepat di dadanya. Tak pernah terbayangkan akan menjadi seperti ini dalam hubungan rumah tangganya yang sudah mulai terjalin. Mimpi indah, rencana indah, segalanya seolah sirna hanya dengan kedipan mata.
Tahta, kenapa pria itu harus melakukan pembalasan sekejam ini padanya? Seharusnya dia tidak memberikan harapan, seharusnya dia melepaskannya sejak awal jika akhirnya seperti ini. Ketakutan wanita itu akhirnya terjadi.
Brak!
Cinta membanting pintu kamarnya. Dia berjalan lunglai, berdiri di samping ranjangnya dan menatap foto Tahta yang bertengger di meja. Cinta mulai mengeluarkan emosinya. Dia menangis, tangis yang terdengar begitu memilukan. Bukan raungan, hanya isakan-isakan yang tertahan, yeng membuat dadanya terasa semakin berdenyut nyeri. Cinta menyusut ke bawah terduduk di lantai, dengan punggung bersandar pada bibir ranjang. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua kaki. Cinta tidak tahu harus berbuat apa. Otaknya kosong, yang dia tahu untuk saat ini hanya menangis dan menangis.
Perlahan pintu kamar berwarna coklat itu dibuka dari luar. Seorang gadis yang sudah berganti dengan piyama mendekati Cinta yang masih terisak.
"Ka ... kak?" sapa gadis itu dengan ragu. Matanya bergetar dengan air menggenang di ujung. Tangan Nana terkepal di samping tubuhnya. Dia masih berdiri di hadapan kakaknya.
"Aku tidak pernah ikut campur dengan urusan pribadimu, seperti yang kakak ajarkan padaku. Aku percaya setiap dari kita memiliki keputusan dan cara mendapatkan kebahagiaan masing-masing, tapi kali ini ... kali ini saja. Tolong dengarkan aku," ucap Nana sembari berjongkok di hadapan Cinta. Bahu wanita yang berusia hampir dua puluh tujuh tahun itu bergetar semakin kuat karena tangisnya yang juga semakin pecah, saat Nana melontarkan kalimatnya.
Nana merangsek memeluk tubuh Cinta. Gadis cantik dengan rambut yang dicat berlayer ungu dan panjang setengah pinggang, bergelombang di bagian bawah itu, menyalurkan kekuatannya lewat pelukan. Dia tidak ingin kakaknya terus menerus terkungkung dalam kebodohannya. Cinta selama ini sudah membutakan akal sehatnya. Dia tidak tahu apa alasan kakaknya itu melakukan semua ini. Dia juga tidak tahu apa yang membuat Cinta begitu tergila-gila pada pria sekejam Tahta, yang dia tahu untuk saat ini dia ingin Cinta menyadari kebusukan pria yang dicintainya itu.
...Bersambung .......
...****************...
Selamat hari Senin untuk teman-teman yang sedang membaca tulisan ini dalam hati, meskipun aku tahu hatimu bukan untukku. Ciee ciee, senyum-senyum. Baper, yaa.
Mohon dukungannya dengan cara Like, Vote, hadiah, komentar, dan tambahkan novel ini ke daftar favorit kalian juga, yaa. See you soon, My Shining Star.
Lope lope sehektar buat kalian.