[Not] A Perfect Marriage

[Not] A Perfect Marriage
Keluarga Berkumpul


Cinta tengah asyik bercengkerama dengan mantan mertuanya di sofa besar berwarna coklat. Sementara Tahta, dia tengah sibuk memikirkan cara agar bisa ikut masuk ke dalam permainan anak-anaknya. Dia terus menatap dua bocah yang tengah sibuk memainkan permainan di ruang tengah. Begitu banyak mainan dan permainan. Laras mengubah tempat itu seperti playground. Ya, dia mendatangkan berbagai macam mainan anak dalam waktu semalam. Rumah lamanya, yang dulu menjadi tempat tinggal kedua orang tua Laras, yang biasanya terasa hampa, kini menjadi ramai dengan suara teriakan si kembar. Lebih tepatnya suara teriakan Ratu yang tengah asyik menganggu kakak kembarnya.


"Cinta, Tante baru terpikirkan hal ini. Cucu Tante memiliki nama yang begitu bagus dengan harapan yang begitu besar, Raja dan Ratu. Siapa nama lengkap mereka berdua, Nak?" tanya Laras yang netranya tak pernah lepas dari kedua cucunya.


"Raja Ravindra Mirza dan Ratu Raina Mirza, Tante."


"Nama yang bagus. Papa mu pasti sangat senang bila mendengar nama cucu-cucunya menggunakan namanya." Laras tersenyum sumir masih dengan menatap kedua cucunya. Ada kekecewaan dari sorot mata wanita paruh baya tersebut.


Tahta, pria itu nampak lebih kecewa dari sang ibu. Pandangannya tertunduk dan berubah sendu. Entahlah, dia tahu Cinta tak mungkin memberikan nama belakangnya untuk kedua anak itu, tapi mendengarnya sendiri dari Cinta membuat dadanya terasa nyeri.


"Tak bisakah namaku juga diberikan untuk mereka?" cicit Tahta menatap kedua anaknya.


Cinta menoleh sinis pada mantan suaminya itu. "Bagaimana mungkin aku memasukkan nama orang yang bahkan tidak tahu keberadaan mereka?"


"Kau tidak mengatakan apapun padaku. Bagaimana aku bisa tahu?"


"Apa yang harus aku katakan pada seorang pria yang sebentar lagi akan menceraikanku dan memiliki anak dengan wanita yang sangat dia cintai?"


"Tapi saat itu dia—"


"Ya, kau dijebak. Aku tahu, tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa kau pernah meninggalkan dan tidak mengakui aku sebagai istrimu karena wanita lain. Benar, kan?"


Deg!


Benar. Tahta tidak bisa membalasnya. Dia hanya bisa diam seribu bahasa, menelan kembali setiap kata yang ingin diutarakannya. Perlahan pria itu menatap Cinta, meneliti setiap inci wajah ayu wanita beranak dua tersebut. Ada emosi sekaligus kekecewaan yang tergambar jelas dari wajah ayunya. Cintanya itu belum bisa melupakan luka lama. Tahta hanya bisa menelan pahit kepedihan dan penyesalannya. Seperti Cinta yang harus menanggung kepedihan dan kekecewaan karena pengkhianatannya. Maka dia juga harus menanggung penyesalan dan menebus dosanya seumur hidup.


"Nak, jika itu memungkinkan, tolong maafkan kebodohannya. Dia benar-benar telah menyesali tindakan bodohnya itu beberapa tahun ini," ujar Laras bersungguh-sungguh.


Cinta memejamkan mata untuk menetralkan pikirannya kembali. Dia menoleh pada Laras dengan sorot mata yang sudah kembali melunak.


"Aku sudah memaafkannya, Tante," jawab Cinta yang membuat senyum kecil mengembang di sudut bibir keduanya. Kembali Tahta hanya bisa tertunduk penuh penyesalan. Rasanya setiap kata apapun yang keluar dari mulutnya tidak akan berarti saat ini.


".... Tapi bukan berarti melupakan perbuatannya." Kata-kata itu bak anak panah yang melesat menghujam jantung Tahta.


"Tidak apa-apa, Nak. Tante sudah sangat senang kau mau memberikan maafmu pada Tahta. Ya, Tante sangat tahu bagaimana perasaanmu." Laras menggenggam erat tangan Cinta dengan mata berbinar. Setidaknya Tahta bisa sedikit melangkah lebih dekat.


"Mama pipis!" seru Raja yang sudah berdiri sembari merapatkan kakinya.


Percakapan emosional itu berakhir setelah terdengar suara nyaring Raja. Cinta segera beranjak dan berjalan cepat mengikuti asisten rumah tangga yang menunjukkan kamar mandi padanya. Sementara itu Laras dan Tahta berusaha mendekati Ratu yang lebih mudah untuk dibujuk dan diajak bermain.


Dua hari telah berlalu dengan Cinta yang selalu menepati janji membawa si kembar menemui Laras di rumahnya. Selama itu pula Tahta seolah berganti tugas menjadi pengawal dan sopir pribadinya. Dia mengabaikan hotel barunya, membebankan semua tugas pada sang asisten pribadi yang harusnya mendapat gaji dua kali lipat.


"Tante, apa hari ini aku bisa menitipkan mereka di sini? Aku ingin mengunjungi Nana di cafe. Sudah tiga hari anak itu tidak pulang dan sibuk mengurus cafenya," tanya Cinta pada Laras yang tengah mengawasi cucunya bermain di halaman.


"Tentu saja bisa. Bahkan berhari-hari pun bisa. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Aku pasti akan menjaga cucuku dengan baik," jawab Laras yang tengah kegirangan.


Cinta hanya bisa terkekeh kecil melihat bertapa antusiasnya Laras. Kebahagiaan itu seolah bisa menyalur padaya, karena ada kehangatan yang tiba-tiba menjalar di hatinya.


Sementara itu, Tahta tengah gusar. Matanya terus saja bergerak ke sana ke mari mengikuti pergerakan kedua anaknya. Si kembar tengah berlarian di halaman bersama seekor anak kucing dan bola kecilnya.


Cinta membuang napas panjang melihat kegusaran Tahta. Mereka bertiga tengah duduk berjajar di kursi taman yang melingkari meja kecil berwarna putih. Cinta duduk tepat di hadapan Tahta, tapi sepertinya kali ini dia tidak begitu dianggap oleh pria dihadapannya. Pria itu sedari tadi sibuk mengawasi dan memberikan peringatan pada anak-anaknya.


"Sudahlah, Tahta. Kau akan capek berteriak seperti itu, mereka memang anak-anak yang aktif."


"Aku takut mereka tersandung," jawab Tahta tanpa menatap Cinta.


Kenapa aku merasa sedikit kecewa dan kesal karena dia tidak mau melihat ke arahku lagi? Haah, sepertinya otakku mulai tidak sehat, batin Cinta yang memiringkan bibirnya kesal.


Lamunan Cinta buyar saat pria di hadapannya itu tiba-tiba melesat secepat kilat, diiringi dengan suara tangis yang begitu nyaring dan memekakkan telinga. Pun dengan Laras. Dia tergopoh menyusul Tahta. Cinta segera mengarahkan pandangan pada sumber suara. Putrinya sudah tersungkur di rerumputan dengan air matanya yang menganak sungai.


Tahta segera menghampiri putrinya. Membangunkan gadis kecil itu dan meneliti setiap inci dari tubuh mungil tersebut. Apa luka gores kecil di lututnya. Ah, benar, ini seperti biasa. Luka kecil itu membuat Laras panik. Ratu yang memang cengeng pun semakin menangis tersedu saat mendapat perlakuan lembut dari keduanya.


"Sayang, anak Papa. Cup-cup-cup, mana yang sakit bilang papa." Tahta membawa gadis kecilnya ke dalam gendongan. Mengelus lembut rambut hitam Ratu. Sementara Raja hanya bisa memutar bola mata malas melihat tingkah adiknya.


"Huh! Sangat manja!" celetuk Raja yang berjalan di belakang Tahta.


"Kau juga sangat diperbolehkan untuk manja, Sayang," jawab Tahta sembari mendudukkan Ratu di kursinya dan berjongkok di hadapan gadis kecil itu.


"Pria harus kuat, tidak boleh cengeng." Raja menjawab dengan cepat.


Tahta hanya bisa terkekeh geli mendengar jawaban putranya. Dia menepuk pelan kepala Raja, membuat bocah laki-laki itu membeku sesaat.


Hati Raja berdebar kencang, saat tangan yang terasa kekar dan hangat itu mendarat di puncak kepalanya. Perasaannya pun terasa ikut menghangat, dan seketika dia merasa seperti ada kupu-kupu yang tengah berterbangan di perutnya. Dia tidak begitu ingat dengan kehangatan Rudi, tapi ini jelas berbeda dengan perasaannya pada Tahta.


Netra bening Raja terus terkunci pada sosok pria yang tengah meniup lembut luka di lutut Ratu. Dia pria jahat yang sudah membuat ibunya menangis, tapi kenapa dia begitu senang saat pria itu memberikan perhatian padanya. Apa dia akan menjadi anak yang jahat jika mengharap perhatian darinya? Pikir anak yang ingin selalu berbakti pada sang ibu tersebut.


Cinta menyusul keempat orang yang tengah berusaha menenangkan putrinya itu. Dia duduk berjongkok di sebelah Tahta sembari membuka plester luka kecil.


"Kan sudah sering Mama kasih tahu jangan suka lari-lari. Kalau jatuh kan sakit. Ratu nggak denger tadi Papa juga sudah teriakin Ratu nggak boleh lari-lari. Kalau dikasih tahu harus didengerin, ya, ucap Cinta sembari menempelkan plester di lutut Ratu.


Gadis kecil itu hanya mengangguk kecil menahan isakan tangisnya.


Tahta melirik Cinta yang duduk tepat di kanannya, sangat dekat. Aroma mawar bahkan langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Perasaan yang hampir mati setelah lima tahun tak pernah digunakan itu kini kembali terbangun. Netra Tahta terasa semakin memanas. Ingin sekali dia merengkuh tubuh wanita itu, dan mendekapnya erat tanpa ada niatan untuk melepasnya kembali.


Raja masih berdiri mematung di belakang kedua orang dewasa tersebut. Dia memperhatikan setiap adegan di hadapannya dengan seksama dan dengan sorot mata yang begitu rumit. Ada sendu yang bercampur dengan kebahagiaan di sorot matanya. Jika saja mereka bisa seperti ini sejak dulu, mungkin Ratu akan menjadi anak paling bahagia di dunia karena tidak harus menangis saat diejek teman-temannya.


...Bersambung.......



...****************...


Halo, Bestie. Maafkan aku karena baru bisa update lagi, yaa. Banyak acara di akhir puasa ini. Hu-hu-hu, jadi sedih.


Tolong kasih dukungan untuk karya Simi, ya My Shining Star. Aku tunggu komentar dan vote dari kalian. See you soon.