![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Seorang wanita tengah duduk di ruang keluarga dengan sebuah map di tangannya. Dia menatap nanar pada berkas tersebut. Ekor matanya melirik ke arah jam yang menempel di dinding kanannya. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ruangan itu begitu sunyi, dengan lampu yang remang-remang hingga membuat gelapnya malam itu begitu kentara.
Beberapa kali wanita cantik itu melirik ke arah pintu dengan gusar. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang. Dia memutar-mutar bolpoin yang ada di tangannya. Tarikan napas panjang juga terdengar jelas di ruangan luas itu.
Ceklek!
Dia menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tidak berselang lama seorang pria yang masih terlihat mengenakan seragam kantornya dengan menenteng jasnya, masuk ke dalam rumah dengan lunglai. Dia berjalan dengan langkah lesu melewati wanita yang terus memandangnya sejak awal masuk. Tidak ada niat untuk menyapa dari pria itu.
Wanita yang sedang menatap nanar itu hanya diam berharap di sapa terlebih dahulu. Namun nihil. Pria itu mengacuhkannya.
"Tahta," celetuknya pada pria yang sudah bersiap menaiki tangga.
Pria yang terlihat kusut itu menoleh mantapnya dengan malas.
"Mari kita bercerai," sambung wanita itu dengan tegas.
Pria dengan air muka kusut itu mengerutkan dahi dan menatap menuntut kepadanya. Seolah dia tengah berpikir, apakah ini hanya ilusi? Apa dia salah dengar?
"Aku pikir kita sudah tidak cocok lagi. Sebaiknya kita akhiri saja ini. Bukankah lebih cepat mengakhiri sesuatu yang tidak benar itu akan lebih baik?"
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" tanya pria yang dipanggil Tahta itu masih tidak percaya.
"Ya. Aku yakin. Aku sudah mempersiapkan semua berkas dan syaratnya."
Pria itu berjalan perlahan menuju ke arahnya. Mata hitamnya masih menatap penuh tanya. Dia memperhatikan gerak-gerik wanita yang baru saja meminta cerai tersebut. Apa ada yang salah dengan otaknya hari ini? Mungkin kata itu yang terbersit di kepalanya.
"Bukankah ini yang kau butuhkan? Kau ingin kebebasan dan aku mengabulkannya," jelas wanita itu karena merasakan tatapan aneh yang penuh tanya.
"Tapi sebagai kompensasinya, aku meminta dua milyar darimu," sambungnya yang berhasil membuatnya pria tersebut mengernyitkan dahi.
"Hah ... apa kau yakin dengan uang sekecil itu bisa bertahan hidup? Itu tidak akan cukup untuk memenuhi gaya hidupmu. Atau ... kau sudah menemukan pengganti ku?"
Wanita itu menarik napas panjang mendengar ucapan suaminya. "Jika kau setuju sebaiknya segera proses saja dan nikahi kekasihmu itu. Jangan pernah melimpahkan kesalahan pada orang lain."
Pria itu menyambar bolpoin yang ada di atas map. Dengan menatap nanar istrinya dia menandatangani lembaran demi lembaran berkas yang ada di dalamnya. Dia menaruh bolpoin di tangannya dengan kasar dan melenggang pergi meninggalkan istrinya begitu saja.
Pertahanan wanita itu runtuh. Hatinya serasa dicabik-cabik, desiran rasa sakit seolah merontokkan tulang-tulang di dadanya. Tangisan sudah tak bisa terbendung lagi. Dia melangkah lebar menuju mobilnya membelah jalanan kota yang tertutup oleh derasnya air hujan. Tangisannya begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya.
Praang!
Kegaduhan di pagi buta itu membangunkan Cinta dari tidurnya. Mengembalikan kesadaran wanita itu dari alam mimpi yang terasa menyiksa dan menyesakkan dada. Matanya membeliak menatap nanar warna putih polos di langit-langit kamar, dia merasa warna putih itu menggelap karena mimpi buruknya. Cinta menghela napas panjang. Dia merasakan ada bulir bening meleleh di pipinya. Mendudukkan dirinya, wanita dengan rambut berantakan itu menyapu air mata yang membasahi pipinya.
"Jadi seperti itu rasanya," gumam Cinta dengan menarik sudut bibirnya tipis, sangat tipis bahkan hampir tak terlihat.
Ada tatapan pedih dari kedua manik matanya. Dunia Cinta terasa hampa. Tidur secepat yang dia bisa, dan bangun selambat mungkin. Begitulah kegiatannya tiga hari belakangan. Dia tidak menolak bertemu ataupun melakukan kegiatan apapun termasuk bekerja. Hatinya patah. Bahkan mungkin sudah remuk.
Kaki jenjang putih mulus, terulur ke bawah menyentuh lantai marmer berwarna putih. Pemilik kaki yang membuat sebagian kaum hawa iri tersebut seolah tidak merasakan dinginnya udara di pagi yang belum sempurna itu. Dia beranjak, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah seperti mayat hidup.
Cinta segera keluar dari kamarnya setelah bersolek tipis agar terlihat lebih segar. Dia sudah beberapa hari menyusahkan dan membuat khawatir adik kesayangannya itu. Hari ini ada banyak rencana yang ingin dilakukannya.
"Apa yang kamu banting, Na?" tanya Cinta menyusul adiknya di dapur.
"Semedi semedi gundulmu. Apa yang pecah tadi?"
"Gelas. Sengaja ... biar Kakak bangun. Gimana? Keren nggak alarm- nya?"
Cinta melirik jengkel Nana sembari menarik satu sudut bibirnya ke samping. "Masak apa hari ini enaknya?"
"Kakak yang masak?" tanya Nana dengan mata berbinar. Gadis itu sudah sangat lama tidak pernah merasakan masakan kakaknya lagi semenjak dia menikah. Rasa masakan yang membuatnya seolah pulang ke rumah itu benar-benar dia rindukan.
"Aku cuma punya ayam beku di kulkas. Emm ... bagaimana kalo soto ayam aja?" saran Nana dan diangguki oleh kakaknya.
Cinta tersenyum lembut melihat ke-antusiasan adiknya mempersiapkan bahan masakan. Wanita itu mengulum senyum harunya.
Mimpi itu, dan kamu. Semua sudah membuatku lebih yakin untuk membuat keputusan. Aku terlalu bodoh dan buta hingga tak bisa melihatmu, Na. Tak bisa melihat betapa bahagianya kamu hanya karena sebuah masakan, dan ternyata bahagia itu sesederhana ini, saat kamu menghargai setiap hal yang aku berikan bahkan sekecil apapun. Maafkan kakakmu yang bodoh ini, Na.
Kakak beradik itu pun memersiapkan sarapan mereka. Keduanya terlihat menikmati waktu dengan saling melempar candaan dan mendengarkan kegiatan Nana akhir-akhir ini.
"Na?" panggil Cinta pada adiknya yang tengah menyantap sarapannya.
"Apa ... kau tidak apa-apa kalau kakak ajak hidup susah?"
Nana mengangkat kedua alisnya mendengar pertanyaan Cinta. "Bukankah kita juga sudah pernah hidup susah sebelum di bawa ke sini? Kakak lupa bagaimana ayah dan ibu bertengkar hanya karena kehabisan telur dan ayah gagal membangun kembali usahanya?"
Cinta tersenyum sumir. Dia ingat betul bagaimana keadaan mereka saat awal-awal kehancuran bisnis ayahnya. Saat hampir seluruh aset terjual karena orangtua mereka ditipu oleh rekannya sendiri. Dia mengangguk beberapa kali pada Nana.
"Sebenarnya ...." Nana tiba-tiba terlihat gusar. Dia meneguk segelas air dari gelasnya dengan berat. Memainkan jari-jarinya sembari menatap ragu pada kakaknya.
"Ada apa?"
...Bersambung ......
...****************...
...Seperti lilin yang tetap bersinar dalam balutan linang...
...Tetap berpancar meski raganya lebur dalam binar...
...Terus benderang hingga lenyap seluruh gemerlapnya...
...Jangan ......
...Jangan menjadi seperti lilin...
...Walau beban kehidupan menikam luka dalam balutan sakitmu...
...Jangan ......
...Jangan kau topang sendiri sayatan pedih dalam kalbumu...