![[Not] A Perfect Marriage](https://asset.asean.biz.id/-not--a-perfect-marriage.webp)
Pagi ini masih terlalu dini untuk orang-orang terbangun dan memulai aktivitas. Bahkan adzan Subuh pun belum berkumandang, tapi seorang wanita sudah duduk bersandar di ranjang sembari mengelus perutnya yang membesar. Beberapa kali wanita itu terlihat menguap, tapi sepertinya dia enggan untuk kembali membaringkan tubuh.
Dia menggerakkan bola mata teratur, menyapu setiap sudut kamar yang terlihat remang-remang tersebut. Manik mata bening itu lalu tertuju pada sesosok pria yang tengah tertidur di sampingnya. Wajah tampan dan terlihat menenangkan, membuat sudut bibir Cinta naik ke atas. Di pandangnya setiap lekuk wajah pria itu dengan seksama. Tanpa sadar, tangan Cinta bergerak membelai rambut hitam legam suaminya.
"Uugh." Rudi menggeliat saat merasakan sesuatu menyentuh lembut kepalanya.
Pria itu perlahan membuka mata, mendongak menatap istrinya. Senyum mengembang, bahkan saat kesadaran pria itu belum benar-benar kembali.
"Apa tidak bisa tidur lagi?" tanya Rudi dengan suara parau khas bangun tidur.
Dia meraih tangan Cinta yang ada di kepalanya. Menggenggam dan mencium punggung tangan yang mulai sedikit berisi itu dengan lembut. Cinta mengangguk sembari mengelus perut yang membulat. Usia kandungannya sudah memasuki trimester ketiga. Setelah memasuki usia kandungan ketujuh bulan, dia selalu kesulitan untuk tidur dan bernapas lega. Selalu saja rasa sesak mengusik tidurnya, apalagi saat bayi yang masih di dalam perut itu tengah bergerak ke atas.
Rudi merapatkan diri ke tubuh istrinya. Kepalanya bergelung manja di pangkuan Cinta, sementara tangannya sibuk mengusap-usap perut yang sesekali bergejolak itu.
"Sayang, ayo tidur dulu, yaa. Mama capek pengen tidur, mainannya besok lagi," ujar Rudi di hadapan perut ibu hamil tersebut dan mengecup lembut tubuh yang membengkak itu.
Senyum kecil tersungging di bibir Cinta melihat tingkah Rudi. Dulu, saat dia mengambil keputusan untuk menikah dengannya, Cinta sempat dilanda ketakutan. Dia takut jika pria yang menjadi temannya itu akan membuatnya terjatuh. Namun ternyata itu hanya ketakutan yang tidak beralasan. Pria itu benar-benar melaksanakan janjinya. Dia memerlakukan anaknya yang masih dalam kandungan dengan sangat baik. Bahkan mungkin tidak akan ada yang menduga bahwa Rudi adalah ayah sambung anaknya.
Rudi kemudian bangkit. Dia ikut bersandar dan mensejajarkan tubuhnya dengan Cinta. Pria itu meraih tubuh istrinya dan membawa ke dalam dekapan hangatnya.
"Ayo sekarang tidurlah, Cintaku. Jangan sampai kau jatuh sakit karena kurang tidur," ucap Rudi sembari mengecup puncak kepala Cinta penuh kasih.
Cinta turut bergelung manja di dada bidang suaminya dengan tangan melingkar erat di pinggang pria tersebut. Nyaman. Hanya kata itu yang selalu terlintas saat dia tengah berada dalam dekapan Rudi. Pria itu selalu memberikan cinta dan kasih sayang yang sangat dia inginkan sedari dulu dan tak pernah dia dapatkan.
Cinta mendongak menatap lembut Rudi. "Terima kasih banyak, Rud."
Rudi mengerucutkan bibirnya dengan lesu. "Cukup panggil aku Sayang sebagai rasa terima kasihmu karena aku sudah bosan mendengar ucapan terima kasih darimu, Sayang."
"Aku sudah mencobanya, tapi kau tahu sendiri lidahku sudah terlanjur terbiasa dengan kata RU–DI," jawab Cinta menekan kata di bagian nama suaminya.
"Kalau begitu mulai sekarang biasakan memanggilku Sayang, SA–YANG." Rudi pun tak mau kalah dengan menekankan kata sayang pada istrinya.
Wanita itu memutar bola matanya dengan malas sembari mengembuskan napas berat. "Baiklah, tapi ada syaratnya."
"Hmm, apapun yang kau minta," ucap Rudi dengan pasti.
Senyum mengembang di bibir tipis Cinta. Dia kembali menggosokkan kepalanya dengan manja di dada bidang Rudi dan melingkarkan tangannya dengan erat.
"Nanti kita jalan-jalan ke mall, ya Sayang," pinta Cinta dengan suaranya yang dibuat manja.
Pria yang tengah bersiap menerima permintaan aneh istrinya itu seketika tergelak. Tawa lolos begitu saja dari bibirnya. Membuat dada sekeras kayu itu terguncang, dan membuat Cinta menegakkan badan karena tak nyaman dengan gerakannya.
"Kenapa? Ada yang lucu?" ketus Cinta melirik sinis suaminya.
"Tidak, Sayang, tidak. Ibu Mahendra sangat pintar merayu suaminya. Baiklah kita pergi ke kota nanti. Oke?"
Rudi kembali meraih tubuh Cinta yang sekarang semakin berisi. Dia berusaha sekuat tenaga menahan tawanya agar tidak kembali lolos. Tingkah manja Cinta itu benar-benar membuatnya sangat gemas. Kehamilan wanita itu benar-benar mengubah sebagian sifatnya yang dulu begitu menjaga image. Rudi setiap harinya selalu dikejutkan dengan sikap istrinya yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Namun hal itu justru semakin memupuk rasa cinta di hatinya.
...----------------...
Sementara di negara yang serumpun tapi tak sama, seorang pria tengah tertunduk di hadapan direktur utama perusahaan Mahardika.
"Bagaimana bisa berkas dan file itu hilang, ha?! Anak si*lan! Kau sudah mengacaukan rencanaku, Bod*h!
Pria muda dengan tampang penuh amarah itu tak bisa berkutik saat pria paruh baya di hadapannya menghujani dirinya dengan makian dan umpatan. Tahta hanya bisa mengepalkan erat kedua tangannya.
Bug!
Sebuah tinju mendarat dengan sempurna di pipi pria muda tersebut. Laras yang sedari tadi duduk dengan tak acuh pun bahkan sampai terperanjat melihat hal itu.
"Zain! Hentikan, Zain!" seru Laras bergegas memegang tangan suaminya yang sudah siap melayangkan tinjunya kembali.
Pria paruh baya berbadan tegap itu mengurungkan niatnya. Dia menatap nyalang ke arah putranya yang masih diam seribu bahasa. Reza berdiri membeku di sisi pintu. Menyaksikan ketegangan di antara mereka bertiga sudah membuat keringat dingin meluncur di dahinya.
"Dasar anak si*lan! Anak tidak berguna! Ayah sudah memercayakan proyek itu padamu dan sekarang apa hasilnya? Kau gagal. Kau tidak becus menangani hal semudah itu. Si*lan!" Kembali sebuah tinju melesat saat Laras baru saja melepaskan pegangannya.
"Zain!" pekik Laras tatkala melihat putranya itu terhuyung tak berdaya.
Wanita paruh baya itu mendekap tubuh suaminya. Membawa pria yang matanya dipenuhi amarah menjauh dari Tahta. Sekesal apapun dia pada Tahta, tidak mungkin dia membiarkan putranya itu dihajar oleh ayahnya sendiri.
"Reza, bawa Tahta pergi dari sini!" perintah Laras yang masih berusaha menenangkan suaminya.
Reza bergegas menghampiri atasannya. Membawa pria yang masih diam membatu itu pergi dari ruangan tersebut. Tahta terlihat masih enggan beranjak hingga Reza harus sedikit menariknya. Dia seolah tengah mengutuk dan menghukum dirinya sendiri dengan membiarkan Zain menghajarnya.
"Ayo, Pak kita pergi dulu. Kita akan mencari pelakunya bersama. Anda tidak boleh membiarkan pelakunya lolos begitu saja," ucap Reza membujuk bosnya agar mau beranjak.
Ucapan Reza ternyata tidak sia-sia. Tahta meresponnya dengan cepat. Pria itu mengangkat kepala dengan mata membulat penuh amarah. Tangan Tahta terkepal erat hingga buku-buku jarinya memucat dan seolah telapak tangannya telah terkoyak oleh kuku yang menancap. Netra pria itu memerah dan jantungnya seolah hampir meledak.
"Ya, kau benar. Kita harus temukan biadab itu secepatnya. Aku tidak akan membiarkan seekor ular hidup dengan nyaman di perusahaan ini," ucap Tahta pelan tapi tajam.
...Bersambung .......
...****************...
Halo, Kesayangan.
Terima kasih sudah setia menunggu kelanjutan kisah Cinta yang selalu berTahta di hati Rudi. Lope lope sekebon buat kalian, jangan lupa dukung Simi dengan cara klik tombol Like, Komentar, Vote, dan hadiah, yaa. See you again, My Shining Star.
Aku baca balesan admin jadi sedih banget. Ini semata-mata demi kalian, Bebh aku tetep update rutin. Demi Nyaii aku rela patah hati dan tetap bertahan di mari. Lope lope pokoknya, please dukung Simi. Oke.